Kamis, 17 September 2015

Sejarah Kantor Pos Medan

Makalah ini telah dipresentasekan pada mata kuliah sejarah perkotaan
dari kelompok PUTRI NURMAWATI
Merupakan Mahasiswa Ilmu Sejarah FIB USU stambuk 2012

“Sejarah Kantor Pos Medan Pada Masa Kolonial Belanda (1911-1942)”

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Medan semakin berkembang pesat sejak perkebunan menjadi usaha utama di Tanah Deli ini, sekitar akhir 1800-an. Nienhuys, pemimpin perusahaan perkebunan dari Belanda di Medan saat itu, memproduksi tembakau Deli yang kualitasnya kemudian terkenal ke seluruh Eropa. Tembakau inilah yang kemudian mengangkat nama Medan ke pentas dunia, dan membawanya ke arah pembangunan yang lebih maju. Dan gelombang para pendatang dari berbagai negeri pun mulai memasuki Medan.
Pada masa itu pula Nienhuys dan pengusaha-pengusaha tembakau lain dari Eropa banyak bekerjasama dengan Kesultanan Deli untuk membangun perusahaan. Mereka menyewa lahan untuk membangun perusahaan-perusahaan yang mendukung operasionalisasi perdagangannya. Adapun buruh-buruh perkebunannya diambil dari tiga negeri yakni Cina, Jawa, dan India. Sedangkan pribumi yang bekerja pada perusahaan-perusahaan ini minimal bekerja sebagai apa yang populer disebut dengan ‘adm’ (administrasi).
Perkembangan bisnis tembakau ini kemudian diikuti atau ditunjang kemudian oleh pembangunan sejumlah infrastruktur yang dijadikan sebagai pusat daripada kota yang di dalamnya terdapat tempat pemerintahan, penginapan, transportasi, komunikasi, balai, ekonomi dan lainnya. Pusat kota tersebut dibangun sedemikian rupa sama dengan fungsi kota yang berada di eropa yang dibangun oleh kolonial Belanda pada masa itu. Hal ini dilakukan untuk mengoptimalisasi operasionalisasi usaha perkebunan tembakau. Bekas-bekas bangunan tersebut masih banyak yang berdiri hingga saat ini, bahkan masih ada yang menjalankan fungsi aslinya kala Medan sudah di bawah kekuasaan Negara Republik Indonesia.
Salah satu dampak dari kemajuan perusahaan tembakau itu adalah pembangunan Kantor Pos Besar Medan. Bangunan kokoh ini berada di sebelah kiri Merdeka Walk, tepatnya di depan Hotel Inna Dharma Deli yang dahulu merupakan Hotel De Boer, dan menghadap menyamping ke arah bekas bangunan Javasche Bank (kini Bank Indonesia) yang berdiri di samping gedung Balai Kota lama. Javasche Bank merupakan bank cabang milik Belanda di Jawa yang digunakan untuk mensosialisasikan mata uang Gulden milik Belanda. Sementara daerah sekitar Lapangan Merdeka (yang dahulu disebut Esplanade, bahasa Belanda, yang berarti lapangan terbuka) ini dianggap sebagai titik nol Medan. Berada di sekitar Lapangan Merdeka seakan terlempar ke abad lalu. Daerah ini merupakan salah satu pusat peradaban Medan di masa lalu. Di sekitarnya, paling tidak ada sebelas bangunan tua yang relatif masih utuh seperti saat didirikan.
Kantor Pos Besar Medan sangat berperan penting bagi Kolonial Belanda maupun masyarakat Medan pada ketika itu. Hingga sampai pada pintu gerbang kemerdekaan Indonesia, Kantor Pos Besar Medan tetap dijalankan sebagaimana meskinya dan bahkan selalu ada perubahan seiring dengan berjalannya waktu, agar kantor pos tidak mati untuk kedepannya yang bersaing dengan teknologi yang sudah mulai canggih pada saat itu.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana latar belakang berdirinya Kantor Pos Medan?
2.      Apa makna logo Pos Indonesia?
3.      Apa fungsi dan peranan Kantor Pos Medan pada masa Kolonial Belanda?

1.3  Tujuan dan Manfaat Penulisan
          Sebagaimana layaknya penulisan, pasti memiliki tujuan dan manfaat. Adapun tujuan dari penulisan makalah ini ada untuk memenuhi tugas dari Ibu Dra. Lila Pelita Hati, M.Si sebagai Dosen mata kuliah “Sejarah Perkotaan” selain itu juga menjawab dari rumusan-rumusan masalah yang telah dibuat sebelumnya.
Adapun manfaat dari penulisan yaitu untuk menambah wawasan penulis dalam mengenai “Sejarah Kantor Pos Medan Pada Masa Kolonial Belanda (1911-1942)”.

1.4  Tinjauan Pustaka
Dalam kajian ini, selain melakukan penelitian lapangan, peneliti juga menggunakan beberapa literatur kepustakaan berupa buku-buku dan laporan sebagai bentuk studi kepustakaan yang dilakukan selama penelitian.
Buku pertama yang berjudul Medan, Kota Di Pesisir Timur Sumatera Utara dan Peninggalan Tuanya (2006) karangan Pertanda Lucas Koestoro. Buku ini menjelaskan perkembangan Kota Medan dikarenakan kemajuan sektor ekonomi perusahaan perkebunan di Sumatera Timur yang dibuka oleh orang Belanda bernama Jacobus Nienhuys pada tahun 1863 dan berdampak sistematis sehingga muncullah kota-kota di Sumatera Timur dan Kota Medan sebagai salah satunya yang berada di pesisir timur sumatera. Secara khusus buku ini menerangkan pula peninggalan-peninggalan yang dibangun saat pemerintah kolonial menduduki Sumatera Timur, seperti bangunan-bangunan di daerah Kesawan. Dalam buku ini diceritakan Kantor Pos yang merupakan salah satu bangunan peninggalan pemerintah kolonial yang dibangun seiring dengan perkembangan perkebunan
Buku kedua karangan T. Lukman Sinar yang berjudul Sejarah Medan Tempo Doeloe. Pada buku ini menceritakan sejarah Kota Medan dahulu yang tumbuh dan berkembang seiring dengan dibukanya perkebunan di Sumatera Timur. Medan muncul sebagai kota yang lebih maju daripada kota lainnya karena berfungsi sebagai pusat pemerintahan pada masa kolonial yang berada di daerah kesawan dan sekitarnya. Di daerah tersebut timbul bangunan yang mendukung perekonomian ketika itu seperti Balai Kota, Lapangan Merdeka, Kereta Api (Deli Maatschappij Spoorweg), Hotel Dharma Deli (Hotel De Beur), Kantor Pos (Post Kantoor), Bank Indonesia (Javashe Bank), Restoran Tip Top, dan lainnya.
Kedua tulisan ini menjadi dasar bagi penulis yang digunakan sebagai pendukung untuk penulisan ilmiah ini karena dalam isinya dibahas masalah latar belakang didirikannya beserta fungsi dan peranan Kantor Pos Medan sebagai peninggalan yang sudah berusia diatas 100 tahun lamanya. Dengan Kantor Pos yang masih terus tegak hingga kini dan menjadi milik pemerintah Indonesia yang sebelumnya mengalami proses nasionalisasi pada tahun 1957-an.

1.5  Metode Penulisan
Adapun metode yang digunakan oleh penulis untuk menyelesaikan tulisannya yaitu:
1.      Heuristik (pengumpulan sumber)
Pada awalnya yang dilakukan penulis ialah mencari sumber atau data yang ada kaitannya dengan apa yang dibahas dan kemudian dikumpulkan. Penulis mengambil sumber atau data dari media internet, berhubung karena sumber atau data dari buku sangat sulit dicari.
2.      Kritik
Setelah penulis berhasil mencari sumber atau data, kemudian di kritik terlebih dahulu apakah sumber atau data dapat digunakan atau tidak.
3.      Interprestasi
Setelah sumber atau data di kritik, selanjutnya penulis melakukan penggabungan sumber atau data. Penggabungan dilakukan dengan cermat supaya hasilnya koherensi.
4.      Historiografi (penulisan)
Langkah terakhir ialah menuliskan apa yang telah di interprestasikan sebelumnya.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Latar Belakang Berdirinya Kantor Pos Medan
            Gedung kantor pos Medan yang didirikan pertama kali oleh pemerintah kolonial Belanda pada masa kepemimpinan Residen J. Ballot yang terletak disekitar lapangan merdeka Medan (Lapangan Esplanade dahulu) ini dibangun oleh arsitek bernama Ir. S. Snuyf dari BOW (Burgelijke Openbare Werken) atau dinas pekerjaan umum pemerintah Hindia Belanda untuk Indonesia pada masa itu. Bangunan ini memiliki gaya dan arsitektur yang tinggi dengan gaya Eropa tua yang memiliki ciri khas tersendiri dan berkesan megah. Dapat dilihat sebagaimana gambar dibawah ini:
Gambar 1: Kantor Pos Medan pada masa Kolonial  tahun 1912 (kiri) dan pada masa sekarang 2014 (kanan).

Bangunan Kantor Pos Medan dibangun sejak tahun 1909 hingga tahun 1911 yang berlokasi tepat di depan Hotel Dharma Deli (dulunya Hotel De Beur) dan terletak di Jalan Balai Kota Medan/ Kesawan, Kecamatan Medan Barat. Hal ini dapat dibuktikan dengan tulisan yang tertera pada bangunan dinding luar kantor pos dengan ukiran “ANNO 1911”.
Gambar 2: Bukti pahatan “ANNO 1911” pada gedung Kantor Pos Medan

Ukiran tulisan “ANNO 1911” di bagian atas samping kiri kanan bagunannya pun masih terlihat jelas yang menjadi salah satu bukti tahun kelahiran bangunan tersebut. Kata “ANNO 1911” diambil dari Bahasa Belanda yang berarti “Tahun 1911”.
            Di dalam pemilihan lokasi tempat pembangunan, Belanda telah memikirkannya secara matang dan terencana. Adapun lokasi ini dipilih karena tempat ini berdekatan dengan Kawasan Lapangan Merdeka Medan yang pada saat itu di sekitar Lapangan Merdeka Medan merupakan tempat beraktivitas masyarakat baik pemerintahan, penginapan, transportasi kereta api antar daerah dan Lapangan Merdeka ini menjadi simbol atau jantung Kota Medan.
Dalam hal ini Kantor Pos Besar Medan menjadi salah satu fasilitas yang dibangun tidak hanya untuk mendukung perekonomian yang pesat tetapi juga sebagai media komunikasi bagi masyarakat.
            Menurut penjelasan yang diberikan oleh Bapak Junaidi Abdillah pada tanggal 07 April 2014, selaku Human Capital Supervisior bahwa gedung Kantor Pos Medan yang mulai dibangun pada tahun 1909 hingga 1911 ini adalah sebuah bangunan yang didirikan di Pusat Kota, tidak ada kaitannya dengan Kesultanan Deli. Dianggapnya pula kepemilikan tanah ini merupakan hasil dari Kolonial Belanda yang dulunya menyewa tanah dari Kesultanan Deli sehingga tidak adanya campur tangan Kesultanan Deli atas bangunan tersebut. Dalam hal ini struktur bangunan dibuat oleh Belanda sendiri dengan menyesuaikan gaya arsitektur di Eropa pada masa itu.

2.2  Logo Pos Indonesia
Logo merupakan sebuah simbol yang menunjukkan citra, visi, dan misi dari pemiliki logo tersebut. Namun logo suatu perusahaan bisa saja berubah seiring dengan perubahan diri perusahaan itu sendiri. Hal itu pula yang terjadi dengan logo Pos Indonesia.
Gambar 3: Logo lama Pos Indonesia


Logo lama Pos Indonesia  terdiri dari banner diatas yang bertuliskan “RI” yang kemudian tersambung dengan gambar padi dan kapas yang membentuk sebuah lingkaran  yang kemudian berujung kepada banner di bawah yang bertuliskan “POS & GIRO”. Di dalam lingkaran yang terbentuk dari kedua banner dengan padi dan kapas tersebut, kita mendapati sebuah segilima yang di dalamnya terdapat gambar burung merpati yang seolah-olah sedang terbang mengelilingi dunia. Di sisi luar dari segilima tersebut dan di sisi dalam dari lingkaran, kita mendapati arsiran mendatar yang berfungsi sebagai latar belakang. Ide utama dalam ide ini adalah burung merpati pos yang telah lama menjadi simbol dunia perposan. Bola dunia yang berada di belakang merpati tersebut melambangkan perputaran dunia, kekekalan, dan adanya hubungan yang terjalin antara negara atau hubungan yang bersifat internasional.
Bentuk segilima yang mengelilingi merpati pos tersebut, melambangkan pancasila, ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang memiliki lima sila. Unsur padi dan kapas yang memiliki simbol dari sila kelima dari pancasila mewakili tujuan Badan Usaha Milik Negara untuk keadilan dan kesejahteraan sosial untuk seluruh masyarakat Indonesia. Banner yang bertuliskan “RI dan POS & GIRO” menunjukkan identitas pemilik logo, yaitu Perum Pos dan Giro Republik Indonesia. Secara sematik, logo ini menunjukkan profesionalitas pos yang diwakili oleh merpati dan bola dunia namun terkurung oleh segilima yang mewakili Pancasila  dan juga oleh lingkaran padi daan kapas yang menggambarkan tujuan BUMN. Hal ini menunjukkan bahwa Pos Indonesia bekerja secara profesional di dalam memberikan pelayanan berskala internasional untuk pelanggan-pelanggannya dengan tetap memegang teguh nasionalisme dan tujuan BUMN untuk menjujung keadilan dan kesejahteraan sosial masyarakat Indonesia. Logo ini juga melambangkan keteguhan dalam memegang ideologi negara dengan adanya dua simbol yang mewakili Pancasila.
Setelah perubahan kelembagaan yang terjadi di dalam tubuh Pos Indonesia (perubahan bentuk usaha dari perusahaan umum menjadi persero), logo Pos Indonesia pun ikut berubah. Di dalam logo baru Pos Indonesia, kita mendpati seekor merpati pos yang seolah-olah sedang terbang mengelilingi dunia dengan kecepatan tinggi. Merpati pos ini tidak lagi terkurung oleh segilima dan juga lingkaran padi dan kapas. Ukuran merpati yang lebih besar daripada bola dunia melambangkan bahwa Pos Indonesia diharapkan bisa menguasai (memimpin) usaha perposan di dunia internasional.
Warna dasar jingga yang terdapat di gambar merpati dan bola dunia menunjukkan bahwa Pos Indonesia itu penting (warna jingga memiliki arti penting serta perlu diperhatikan, seperti yang terdapat di pembatas-pembatas jalan, pakaian-pakaian pendaki gungung, seragam para penerbang, dan lain sebagainya). Tulisan “POS INDONESIA” dengan tifografi bold ini memberikan ketegasan identitas perusahaan dan juga identitas negara. Tulisan ini berada di bawah gambar merpati yang sedang mengelilingi dunia dengan kecepatan tinggi karena logo ini ingin menunjukkan bahwa Pos Indonesia lebih mengutamakan profesionalitas dalam pelayanan untuk pelanggan-pelanggannya.
Slogan Pos Indonesia “Untuk Anda Kami Ada” yang ditulis dengan huruf latin (tegak bersambung) memperlihatkan keluwesan, keramahan, dan fleksibilitas dalam melayani pelanggan-pelanggannya.
Gambar 4: Logo Pos Indonesia yang baru
Sumber: Internet(https://www.google.com/search?q=logo+pos+indonesia+lama&espv)

2.3 Fungsi dan Peranan Kantor Pos Medan
Kantor Pos Medan memiliki fungsi dan peranan yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. sejak gedung kantor pos dibangun sebagai kantor tempat menukar informassi lewat jasa pos, yang bertujuan untuk memberikan ungsi dan peranan untuk kontribusi untuk perkembangan Kota medan. Kantor pos sebagai bangunan yang mengandung fungsi dan peranan yang penting dalam perkembangan perekonomian serta perkembangan Kota Medan.
Fungsi Kantor Pos Medan
Pada awalnya kantor pos dikenal sebagai tempat sarana tukar-menukar informasi serta sebagai sarana komunikasi dari awal di fungsikannya. Masyarakat Sumatera Timur dulunya menggunakan jasa sarana komunikasi lewat kantor pos Medan yaitu berupa kartu pos, wessel, pengiriman barang dan lainnya untuk bertukar komunikasi atau informasi dengan orang lain di luar daerahnya.
Kantor pos ini didirikan bukanlah semata-mata untuk melayani kepentingan rakyat pribumi, namun semua ini adalah untuk melayani Kolonial Belanda itu sendiri. Masyarakat Belandalah yang selalu menggunakan jasa pos untuk melakukan tukar-menukar informasi, baik memperoleh informasi dari berbagai daerah di Pulau Sumatera ataupun situasi di Pulau Jawa. Sedangkan untuk masyarakat pribumi sangat sedikit yang menggunakan jasa pos, hanya kaum bangsawanlah yang menggunakannya yaitu keluarga para sultan dan petinggi kerajaan. Hal ini dikarenakan banyak kaum pribumi yang tidak tahu tulis baca (buta huruf) selain itu pemerintah membatasinya bagi masyarakat pribumi karena Belanda kwatir masyarakat pribumi akan melakukan komunikasi dengan saudara-saudaranya diluar Pulau Sumatera.
Untuk kepemimpinannya, semua pada masa kependudukan Belanda yang mengambil alih semuanya adalah orang-orang Belanda. Sementara orang-orang pribumi hanya sebagai pegawai biasa, begitu pula pada saat pemerintahan Jepang.
Sejarah surat-menurat di Indonesia, sudah ada sejak Kerajaan Kutai, Sriwijaya, Tarumanegara, Mataram dan Majapahit. Pada waktu itu penyampaian surat dilakuakn oleh petugas khusus. Namun sesuai dengan zamannya surat tersebut bisa sampai kepada si penerima sampai berbulan-bulan. Untuk surat-menyurat biasanya ditulis diberbagai bahan, seperti kulit kayu atau potongan bambu yang dibuat rata atau diatas daun lontar. Tetapi sejak kedatangan belanda di Indonesia, merupakan awal dimulainya penggunaan kertas untuk surat-menyurat, tetapi biaya pengirimannya masih dibayar dengan menggunakan uang tunai sampai digunakan prangko Hindia-Belanda yang pertama pada tahun 1864, sedangkan prangko untuk pertama kali diterbitkan di Inggris tahun 1840.
Kegiatan surat-menyurat ini telah populer sebelum abad ke-20 di Indonesia. Masyarakat pada waktu itu, umumnya berkirim kabar dan menjalin hubungan baik, seperti hubungan persahabatan dan hubungan kerjasama bisnis menggunakan jasa pos. Kegiatan ini telah menjadi rutinitas bagi masyarakat saat itu. Biasanya seminggu sekali merupakan jadwal yang ditunggu-tunggu datangnya surat. Sudah sangat berbeda dengan zaman sekarang ini sudah sangat jarang kita temui ada tukang pos.
          Pada tahun awal didirikannya Kantor Pos Medan surat diantar dengan berjalan kaki oleh petugas pos, kemudian seiring dengan perkembangan zaman surat-surat itu diantar dengan kendaraan berkuda. Kemudian berkembang lagi dengan menggunakan sepeda angin. Sementara dengan berkembangnya zaman pelayanan dari kantor pos itu sendiri sudah semakin berkembang dan itu merupakan visi dan misi kantor pos dalam melayani dan memuaskan masyarakat sebagai pelanggannya. Dengan demikian pelayanan pos pada satu sisi memberikan manfaat bagi pelanggan karena kebutuhan akan barang dan jasa yang diinginkan dapat terpenuhi, serta semakin terbuka lebar kebebasan untuk memilih aneka jenis dan kualitas barang dan jasa sesuai dengan keinginan dan kemampuan konsumen atau pelanggan pos.
Pada tahun 1930-an petugas pos selalu menitipkan surat-surat yang diantarnya tersebut di warung-warung kopi atau warung biasa. Surat tersebut kemudia kan diberikan yang punya warung kepada si penerima surat apabila ia mampir di warungnya, maka dengan demikian surat tersebut bisa berhari-hari di tempat yang punya warung.
Peranan Kantor Pos Medan
          Kantor Pos merupakan suatu badan yang melayani kebutuhan masyarakat terutama pada bidang komunikasi termasuk dalam hal lainnya seperti pengiriman barang, uang, surat, wessel dan sebagainya. Pelayanan dari kantor pos semakin maksimal dan semakin lebih baik seiring dengan perkembangan zaman, agar kantor pos tetap eksis di masyarakat dan tidak kalah bersaing dengan teknologi maupun perusahaan yang modern. Kantor pos juga melakukan ekspansi terhadap berbagai macam perusahaan baik bergerak di bidang otomotif maupun perkreditan.
          Peranan kantor yang sebenarnya adalah sebagai tempat pelayanan pos terhadap masyarakat yang menggunakan jasa itu sendiri dimana petugas pos harus melayani pelanggan yang ingin menggunakan jasa pos dengan baik dan jujur. Namun perlu diingat pada zaman Belanda hal ini berubah  kantor pos bukan untuk semata-mata bagi rakyat pribumi, tetapi untuk kepentingan Belanda itu sendiri. Dengan kata lain, golongan kolonial dan kaum bangsawan mendapat pelayanan istimewa, sedangkan untuk golongan pribumi lebih cenderung diabaikan, bahkan tidak dilayani sama sekali.
          Perkembangan dari pelayanan yang diberikan oleh kantor pos untuk pelanggan atau masyarakat pengunjung yang datang itu adalah untuk memudahkan bagi masyarakat itu sendiri dalam hal jasa dan bertransaksi serta merupakan layanan berbasis teknologi informasi yang diciptakan untuk menjamin kepuasan pelanggan.
          Oleh karena itu, yang paling diutamakan dalam kantor pos ini adalah pelayanannya agar tidak merugikan pihak pos sendiri dan tidak mengecewakan pelanggannya. Hal ini sesuai dengan Logo PT. Pos Indonesia.


BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Gedung Kantor Pos Medan mulai dibangun pada tahun 1909 san selesai pada tahun 1911 oleh pemerintah Kolonial Belanda untuk Sumatera Timur yaitu pada masa kepemimpinan Residen J. Ballot. Adapun arsitek pembangun Kantor Pos Medan ini bernama Ir. S. Snuyf dari BOW (Burgelijk Openbare Werken), dibangun dengan gaya Eropa Tua yang berlokasi di Jalan Balai Kota Medan/Kesawan, Kecamatan Medan Barat.
Kantor Pos Medan ini dari awal didirikannya memiliki fungsi utama yaitu sebagai tempat atau sarana pengiriman surat atau barang yang ada. Dimana dalam menjalankan fungsinya dalam pengiriman surat menggunakan kartu pos dan lainnya dengan memakai prangko sebagai tanda pelunasan.
Pada masa Kolonial Kantor Pos medan memiliki peranan yang penting bagi bangsa Eropa terutama Belanda karena letaknya yang cukup strategis yaitu tepat di jantung Kota Medan. Sesuai dengan peranannya kantor pos memberikan layanan bagi masyarakat dalam menjalankan tugas. Layanan pos yang digunakan dalam pengiriman surat dan barang dengan berjalan kaki, sarana kuda dan sepeda angin.
Untuk masyarakat pribumi didirikannya Kantor Pos Medan pada masa Kolonial tidak memberi arti yang besar, karena pada saat itu pihak kolonial tidak memeri kebebasan kepada kaum pribumi yang tidak bisa baca tulis.

3.2  Saran
Melihat Kantor Pos Medan yang mampu mempertahankan keutuhannya diharapkan bangunan ini terus dijaga keasliannya, hal ini dikarenakan banyak peninggalan sejarah di Kota Medan semakin terancam keadaannya bahkan beberapa bangunan bersejarah tidak dirawat sama sekali. Tentu saja kalau hal ini dibiarkan terus dikwatirkan penerus bangsa ini tidak akan melihat kemegahan Kota Medan pada zaman Kolonial Belanda.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, gedung Kantor Pos Medan kini telah dijadikan bangunan bersejarah karena telah memenuhi syarat-syarat dalam Undang-undang tersebut yang merupakan peninggalan dari bangsa Kolonial. Bangunan sejarah ini memiliki banyak keterbatasan fisik yang tidak boleh dilanggar karena akan mengakibatkan kerusakan serta kehilangan identitas arsitekturnya. Penjagaan serta perhatin ddalam memelihara ciri khas ini sangat penting untuk menjaga aspek historisnya. Maka sebaiknya jangan menjadikan gedung sebatas monumen mati yang dilestarikan fisiknya belaka. Pelestarian yang diharapkan membuka cakrawala untuk melestarikan bangunan secara berkelanjutan sehingga memiliki manfaat antar generasi dan masyarakat luas.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar