Makalah ini telah dipresentasekan pada mata kuliah sejarah perkotaan
dari kelompok PUTRI NURMAWATI
Merupakan Mahasiswa Ilmu Sejarah FIB USU stambuk 2012
“Sejarah Kantor Pos Medan Pada Masa Kolonial Belanda
(1911-1942)”.
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Medan semakin berkembang pesat sejak perkebunan menjadi
usaha utama di Tanah Deli ini, sekitar akhir 1800-an. Nienhuys, pemimpin
perusahaan perkebunan dari Belanda di Medan saat itu, memproduksi tembakau Deli
yang kualitasnya kemudian terkenal ke seluruh Eropa. Tembakau inilah yang
kemudian mengangkat nama Medan ke pentas dunia, dan membawanya ke arah
pembangunan yang lebih maju. Dan gelombang para pendatang dari berbagai negeri
pun mulai memasuki Medan.
Pada masa itu pula Nienhuys dan pengusaha-pengusaha
tembakau lain dari Eropa banyak bekerjasama dengan Kesultanan Deli untuk
membangun perusahaan. Mereka menyewa lahan untuk membangun
perusahaan-perusahaan yang mendukung operasionalisasi perdagangannya. Adapun buruh-buruh perkebunannya diambil
dari tiga negeri yakni Cina, Jawa, dan India. Sedangkan pribumi yang bekerja
pada perusahaan-perusahaan ini minimal bekerja sebagai apa yang populer disebut
dengan ‘adm’ (administrasi).
Perkembangan bisnis tembakau ini kemudian diikuti atau
ditunjang kemudian oleh pembangunan sejumlah infrastruktur yang dijadikan
sebagai pusat daripada kota yang di dalamnya terdapat tempat pemerintahan,
penginapan, transportasi, komunikasi, balai, ekonomi dan lainnya. Pusat kota
tersebut dibangun sedemikian rupa sama dengan fungsi kota yang berada di eropa
yang dibangun oleh kolonial Belanda pada masa itu. Hal ini dilakukan untuk
mengoptimalisasi operasionalisasi usaha perkebunan tembakau. Bekas-bekas
bangunan tersebut masih banyak yang berdiri hingga saat ini, bahkan masih ada
yang menjalankan fungsi aslinya kala Medan sudah di bawah kekuasaan Negara
Republik Indonesia.
Salah satu dampak dari kemajuan perusahaan tembakau itu
adalah pembangunan Kantor Pos Besar Medan. Bangunan kokoh ini berada di sebelah
kiri Merdeka Walk, tepatnya di depan Hotel Inna Dharma Deli yang dahulu merupakan
Hotel De Boer, dan menghadap menyamping ke arah bekas bangunan Javasche Bank
(kini Bank Indonesia) yang berdiri di samping gedung Balai Kota lama. Javasche
Bank merupakan bank cabang milik Belanda di Jawa yang digunakan untuk
mensosialisasikan mata uang Gulden milik Belanda. Sementara daerah sekitar
Lapangan Merdeka (yang dahulu disebut Esplanade, bahasa Belanda, yang berarti
lapangan terbuka) ini dianggap sebagai titik nol Medan. Berada di sekitar
Lapangan Merdeka seakan terlempar ke abad lalu. Daerah ini merupakan salah satu
pusat peradaban Medan di masa lalu. Di sekitarnya, paling tidak ada sebelas
bangunan tua yang relatif masih utuh seperti saat didirikan.
Kantor Pos Besar Medan sangat berperan penting bagi
Kolonial Belanda maupun masyarakat Medan pada ketika itu. Hingga sampai pada
pintu gerbang kemerdekaan Indonesia, Kantor Pos Besar Medan tetap dijalankan
sebagaimana meskinya dan bahkan selalu ada perubahan seiring dengan berjalannya
waktu, agar kantor pos tidak mati untuk kedepannya yang bersaing dengan
teknologi yang sudah mulai canggih pada saat itu.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana
latar belakang berdirinya Kantor Pos Medan?
2. Apa
makna logo Pos Indonesia?
3. Apa
fungsi dan peranan Kantor Pos Medan pada masa Kolonial Belanda?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan
Sebagaimana layaknya
penulisan, pasti memiliki tujuan dan manfaat. Adapun tujuan dari penulisan
makalah ini ada untuk memenuhi tugas dari Ibu Dra. Lila Pelita Hati, M.Si
sebagai Dosen mata kuliah “Sejarah Perkotaan” selain itu juga menjawab dari
rumusan-rumusan masalah yang telah dibuat sebelumnya.
Adapun manfaat dari
penulisan yaitu untuk menambah wawasan penulis dalam mengenai “Sejarah Kantor
Pos Medan Pada Masa Kolonial Belanda (1911-1942)”.
1.4 Tinjauan Pustaka
Dalam kajian ini,
selain melakukan penelitian lapangan, peneliti juga menggunakan beberapa
literatur kepustakaan berupa buku-buku dan laporan sebagai bentuk studi
kepustakaan yang dilakukan selama penelitian.
Buku pertama yang
berjudul Medan, Kota Di Pesisir Timur
Sumatera Utara dan Peninggalan Tuanya (2006) karangan Pertanda Lucas
Koestoro. Buku ini menjelaskan perkembangan Kota Medan dikarenakan kemajuan
sektor ekonomi perusahaan perkebunan di Sumatera Timur yang dibuka oleh orang
Belanda bernama Jacobus Nienhuys pada tahun 1863 dan berdampak sistematis
sehingga muncullah kota-kota di Sumatera Timur dan Kota Medan sebagai salah
satunya yang berada di pesisir timur sumatera. Secara khusus buku ini
menerangkan pula peninggalan-peninggalan yang dibangun saat pemerintah kolonial
menduduki Sumatera Timur, seperti bangunan-bangunan di daerah Kesawan. Dalam
buku ini diceritakan Kantor Pos yang merupakan salah satu bangunan peninggalan
pemerintah kolonial yang dibangun seiring dengan perkembangan perkebunan
Buku kedua karangan T.
Lukman Sinar yang berjudul Sejarah Medan
Tempo Doeloe. Pada buku ini menceritakan sejarah Kota Medan dahulu yang
tumbuh dan berkembang seiring dengan dibukanya perkebunan di Sumatera Timur.
Medan muncul sebagai kota yang lebih maju daripada kota lainnya karena
berfungsi sebagai pusat pemerintahan pada masa kolonial yang berada di daerah
kesawan dan sekitarnya. Di daerah tersebut timbul bangunan yang mendukung
perekonomian ketika itu seperti Balai Kota, Lapangan Merdeka, Kereta Api (Deli
Maatschappij Spoorweg), Hotel Dharma Deli (Hotel De Beur), Kantor Pos (Post
Kantoor), Bank Indonesia (Javashe Bank), Restoran Tip Top, dan lainnya.
Kedua tulisan ini
menjadi dasar bagi penulis yang digunakan sebagai pendukung untuk penulisan
ilmiah ini karena dalam isinya dibahas masalah latar belakang didirikannya
beserta fungsi dan peranan Kantor Pos Medan sebagai peninggalan yang sudah
berusia diatas 100 tahun lamanya. Dengan Kantor Pos yang masih terus tegak
hingga kini dan menjadi milik pemerintah Indonesia yang sebelumnya mengalami
proses nasionalisasi pada tahun 1957-an.
1.5 Metode Penulisan
Adapun metode yang digunakan oleh
penulis untuk menyelesaikan tulisannya yaitu:
1. Heuristik
(pengumpulan sumber)
Pada
awalnya yang dilakukan penulis ialah mencari sumber atau data yang ada
kaitannya dengan apa yang dibahas dan kemudian dikumpulkan. Penulis mengambil
sumber atau data dari media internet, berhubung karena sumber atau data dari
buku sangat sulit dicari.
2. Kritik
Setelah
penulis berhasil mencari sumber atau data, kemudian di kritik terlebih dahulu
apakah sumber atau data dapat digunakan atau tidak.
3. Interprestasi
Setelah
sumber atau data di kritik, selanjutnya penulis melakukan penggabungan sumber
atau data. Penggabungan dilakukan dengan cermat supaya hasilnya koherensi.
4. Historiografi
(penulisan)
Langkah
terakhir ialah menuliskan apa yang telah di interprestasikan sebelumnya.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Latar Belakang Berdirinya Kantor Pos Medan
Gedung
kantor pos Medan yang didirikan pertama kali oleh pemerintah kolonial Belanda
pada masa kepemimpinan Residen J. Ballot yang terletak disekitar lapangan
merdeka Medan (Lapangan Esplanade dahulu) ini dibangun oleh arsitek bernama Ir.
S. Snuyf dari BOW (Burgelijke Openbare Werken) atau dinas pekerjaan umum
pemerintah Hindia Belanda untuk Indonesia pada masa itu. Bangunan ini memiliki
gaya dan arsitektur yang tinggi dengan gaya Eropa tua yang memiliki ciri khas
tersendiri dan berkesan megah. Dapat dilihat sebagaimana gambar dibawah ini:

Gambar
1: Kantor Pos Medan pada masa Kolonial tahun 1912 (kiri) dan pada masa sekarang 2014 (kanan).
Bangunan Kantor
Pos Medan dibangun sejak tahun 1909 hingga tahun 1911 yang berlokasi tepat di
depan Hotel Dharma Deli (dulunya Hotel De Beur) dan terletak di Jalan Balai
Kota Medan/ Kesawan, Kecamatan Medan Barat. Hal ini dapat dibuktikan dengan
tulisan yang tertera pada bangunan dinding luar kantor pos dengan ukiran “ANNO
1911”.

Gambar 2: Bukti pahatan “ANNO 1911”
pada gedung Kantor Pos Medan
Sumber: Internet (http://www.lenteratimur.com/kantor-pos-besar-medan-saksi-kejayaan-sebuah-negeri/).
Ukiran tulisan
“ANNO 1911” di bagian atas samping kiri kanan bagunannya pun masih terlihat
jelas yang menjadi salah satu bukti tahun kelahiran bangunan tersebut. Kata
“ANNO 1911” diambil dari Bahasa Belanda yang berarti “Tahun 1911”.
Di dalam
pemilihan lokasi tempat pembangunan, Belanda telah memikirkannya secara matang
dan terencana. Adapun lokasi ini dipilih karena tempat ini berdekatan dengan
Kawasan Lapangan Merdeka Medan yang pada saat itu di sekitar Lapangan Merdeka
Medan merupakan tempat beraktivitas masyarakat baik pemerintahan, penginapan,
transportasi kereta api antar daerah dan Lapangan Merdeka ini menjadi simbol
atau jantung Kota Medan.
Dalam hal ini
Kantor Pos Besar Medan menjadi salah satu fasilitas yang dibangun tidak hanya
untuk mendukung perekonomian yang pesat tetapi juga sebagai media komunikasi
bagi masyarakat.
Menurut
penjelasan yang diberikan oleh Bapak Junaidi Abdillah pada tanggal 07 April
2014, selaku Human Capital Supervisior bahwa gedung Kantor Pos Medan yang mulai
dibangun pada tahun 1909 hingga 1911 ini adalah sebuah bangunan yang didirikan
di Pusat Kota, tidak ada kaitannya dengan Kesultanan Deli. Dianggapnya pula kepemilikan
tanah ini merupakan hasil dari Kolonial Belanda yang dulunya menyewa tanah dari
Kesultanan Deli sehingga tidak adanya campur tangan Kesultanan Deli atas
bangunan tersebut. Dalam hal ini struktur bangunan dibuat oleh Belanda sendiri
dengan menyesuaikan gaya arsitektur di Eropa pada masa itu.
2.2
Logo Pos Indonesia
Logo merupakan
sebuah simbol yang menunjukkan citra, visi, dan misi dari pemiliki logo
tersebut. Namun logo suatu perusahaan bisa saja berubah seiring dengan
perubahan diri perusahaan itu sendiri. Hal itu pula yang terjadi dengan logo
Pos Indonesia.

Gambar 3: Logo lama Pos Indonesia
Sumber: Internet(https://www.google.com/search?q=logo+pos+indonesia+lama&espv)
Logo lama Pos
Indonesia terdiri dari banner diatas
yang bertuliskan “RI” yang kemudian tersambung dengan gambar padi dan kapas
yang membentuk sebuah lingkaran yang
kemudian berujung kepada banner di bawah yang bertuliskan “POS & GIRO”. Di
dalam lingkaran yang terbentuk dari kedua banner dengan padi dan kapas
tersebut, kita mendapati sebuah segilima yang di dalamnya terdapat gambar
burung merpati yang seolah-olah sedang terbang mengelilingi dunia. Di sisi luar
dari segilima tersebut dan di sisi dalam dari lingkaran, kita mendapati arsiran
mendatar yang berfungsi sebagai latar belakang. Ide utama dalam ide ini adalah
burung merpati pos yang telah lama menjadi simbol dunia perposan. Bola dunia
yang berada di belakang merpati tersebut melambangkan perputaran dunia,
kekekalan, dan adanya hubungan yang terjalin antara negara atau hubungan yang
bersifat internasional.
Bentuk segilima
yang mengelilingi merpati pos tersebut, melambangkan pancasila, ideologi Negara
Kesatuan Republik Indonesia, yang memiliki lima sila. Unsur padi dan kapas yang
memiliki simbol dari sila kelima dari pancasila mewakili tujuan Badan Usaha
Milik Negara untuk keadilan dan kesejahteraan sosial untuk seluruh masyarakat
Indonesia. Banner yang bertuliskan “RI dan POS & GIRO” menunjukkan
identitas pemilik logo, yaitu Perum Pos dan Giro Republik Indonesia. Secara
sematik, logo ini menunjukkan profesionalitas pos yang diwakili oleh merpati
dan bola dunia namun terkurung oleh segilima yang mewakili Pancasila dan juga oleh lingkaran padi daan kapas yang
menggambarkan tujuan BUMN. Hal ini menunjukkan bahwa Pos Indonesia bekerja
secara profesional di dalam memberikan pelayanan berskala internasional untuk
pelanggan-pelanggannya dengan tetap memegang teguh nasionalisme dan tujuan BUMN
untuk menjujung keadilan dan kesejahteraan sosial masyarakat Indonesia. Logo
ini juga melambangkan keteguhan dalam memegang ideologi negara dengan adanya
dua simbol yang mewakili Pancasila.
Setelah
perubahan kelembagaan yang terjadi di dalam tubuh Pos Indonesia (perubahan
bentuk usaha dari perusahaan umum menjadi persero), logo Pos Indonesia pun ikut
berubah. Di dalam logo baru Pos Indonesia, kita mendpati seekor merpati pos
yang seolah-olah sedang terbang mengelilingi dunia dengan kecepatan tinggi.
Merpati pos ini tidak lagi terkurung oleh segilima dan juga lingkaran padi dan
kapas. Ukuran merpati yang lebih besar daripada bola dunia melambangkan bahwa
Pos Indonesia diharapkan bisa menguasai (memimpin) usaha perposan di dunia
internasional.
Warna dasar
jingga yang terdapat di gambar merpati dan bola dunia menunjukkan bahwa Pos
Indonesia itu penting (warna jingga memiliki arti penting serta perlu
diperhatikan, seperti yang terdapat di pembatas-pembatas jalan, pakaian-pakaian
pendaki gungung, seragam para penerbang, dan lain sebagainya). Tulisan “POS
INDONESIA” dengan tifografi bold ini memberikan ketegasan identitas perusahaan
dan juga identitas negara. Tulisan ini berada di bawah gambar merpati yang
sedang mengelilingi dunia dengan kecepatan tinggi karena logo ini ingin
menunjukkan bahwa Pos Indonesia lebih mengutamakan profesionalitas dalam
pelayanan untuk pelanggan-pelanggannya.
Slogan Pos
Indonesia “Untuk Anda Kami Ada” yang ditulis dengan huruf latin (tegak
bersambung) memperlihatkan keluwesan, keramahan, dan fleksibilitas dalam
melayani pelanggan-pelanggannya.

Gambar 4: Logo Pos Indonesia yang
baru
Sumber:
Internet(https://www.google.com/search?q=logo+pos+indonesia+lama&espv)
2.3
Fungsi dan Peranan Kantor Pos Medan
Kantor Pos Medan memiliki fungsi dan
peranan yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. sejak gedung kantor
pos dibangun sebagai kantor tempat menukar informassi lewat jasa pos, yang
bertujuan untuk memberikan ungsi dan peranan untuk kontribusi untuk
perkembangan Kota medan. Kantor pos sebagai bangunan yang mengandung fungsi dan
peranan yang penting dalam perkembangan perekonomian serta perkembangan Kota
Medan.
Fungsi
Kantor Pos Medan
Pada awalnya
kantor pos dikenal sebagai tempat sarana tukar-menukar informasi serta sebagai
sarana komunikasi dari awal di fungsikannya. Masyarakat Sumatera Timur dulunya
menggunakan jasa sarana komunikasi lewat kantor pos Medan yaitu berupa kartu
pos, wessel, pengiriman barang dan lainnya untuk bertukar komunikasi atau
informasi dengan orang lain di luar daerahnya.
Kantor pos ini
didirikan bukanlah semata-mata untuk melayani kepentingan rakyat pribumi, namun
semua ini adalah untuk melayani Kolonial Belanda itu sendiri. Masyarakat
Belandalah yang selalu menggunakan jasa pos untuk melakukan tukar-menukar
informasi, baik memperoleh informasi dari berbagai daerah di Pulau Sumatera
ataupun situasi di Pulau Jawa. Sedangkan untuk masyarakat pribumi sangat
sedikit yang menggunakan jasa pos, hanya kaum bangsawanlah yang menggunakannya
yaitu keluarga para sultan dan petinggi kerajaan. Hal ini dikarenakan banyak
kaum pribumi yang tidak tahu tulis baca (buta huruf) selain itu pemerintah
membatasinya bagi masyarakat pribumi karena Belanda kwatir masyarakat pribumi
akan melakukan komunikasi dengan saudara-saudaranya diluar Pulau Sumatera.
Untuk
kepemimpinannya, semua pada masa kependudukan Belanda yang mengambil alih
semuanya adalah orang-orang Belanda. Sementara orang-orang pribumi hanya
sebagai pegawai biasa, begitu pula pada saat pemerintahan Jepang.
Sejarah
surat-menurat di Indonesia, sudah ada sejak Kerajaan Kutai, Sriwijaya,
Tarumanegara, Mataram dan Majapahit. Pada waktu itu penyampaian surat dilakuakn
oleh petugas khusus. Namun sesuai dengan zamannya surat tersebut bisa sampai
kepada si penerima sampai berbulan-bulan. Untuk surat-menyurat biasanya ditulis
diberbagai bahan, seperti kulit kayu atau potongan bambu yang dibuat rata atau
diatas daun lontar. Tetapi sejak kedatangan belanda di Indonesia, merupakan
awal dimulainya penggunaan kertas untuk surat-menyurat, tetapi biaya
pengirimannya masih dibayar dengan menggunakan uang tunai sampai digunakan
prangko Hindia-Belanda yang pertama pada tahun 1864, sedangkan prangko untuk
pertama kali diterbitkan di Inggris tahun 1840.
Kegiatan
surat-menyurat ini telah populer sebelum abad ke-20 di Indonesia. Masyarakat
pada waktu itu, umumnya berkirim kabar dan menjalin hubungan baik, seperti
hubungan persahabatan dan hubungan kerjasama bisnis menggunakan jasa pos.
Kegiatan ini telah menjadi rutinitas bagi masyarakat saat itu. Biasanya seminggu
sekali merupakan jadwal yang ditunggu-tunggu datangnya surat. Sudah sangat
berbeda dengan zaman sekarang ini sudah sangat jarang kita temui ada tukang
pos.
Pada tahun awal
didirikannya Kantor Pos Medan surat diantar dengan berjalan kaki oleh petugas
pos, kemudian seiring dengan perkembangan zaman surat-surat itu diantar dengan
kendaraan berkuda. Kemudian berkembang lagi dengan menggunakan sepeda angin. Sementara
dengan berkembangnya zaman pelayanan dari kantor pos itu sendiri sudah semakin
berkembang dan itu merupakan visi dan misi kantor pos dalam melayani dan
memuaskan masyarakat sebagai pelanggannya. Dengan demikian pelayanan pos pada
satu sisi memberikan manfaat bagi pelanggan karena kebutuhan akan barang dan
jasa yang diinginkan dapat terpenuhi, serta semakin terbuka lebar kebebasan
untuk memilih aneka jenis dan kualitas barang dan jasa sesuai dengan keinginan
dan kemampuan konsumen atau pelanggan pos.
Pada tahun 1930-an petugas pos selalu
menitipkan surat-surat yang diantarnya tersebut di warung-warung kopi atau
warung biasa. Surat tersebut kemudia kan diberikan yang punya warung kepada si
penerima surat apabila ia mampir di warungnya, maka dengan demikian surat
tersebut bisa berhari-hari di tempat yang punya warung.
Peranan
Kantor Pos Medan
Kantor Pos
merupakan suatu badan yang melayani kebutuhan masyarakat terutama pada bidang
komunikasi termasuk dalam hal lainnya seperti pengiriman barang, uang, surat,
wessel dan sebagainya. Pelayanan dari kantor pos semakin maksimal dan semakin
lebih baik seiring dengan perkembangan zaman, agar kantor pos tetap eksis di
masyarakat dan tidak kalah bersaing dengan teknologi maupun perusahaan yang
modern. Kantor pos juga melakukan ekspansi terhadap berbagai macam perusahaan
baik bergerak di bidang otomotif maupun perkreditan.
Peranan kantor yang sebenarnya adalah
sebagai tempat pelayanan pos terhadap masyarakat yang menggunakan jasa itu
sendiri dimana petugas pos harus melayani pelanggan yang ingin menggunakan jasa
pos dengan baik dan jujur. Namun perlu diingat pada zaman Belanda hal ini
berubah kantor pos bukan untuk
semata-mata bagi rakyat pribumi, tetapi untuk kepentingan Belanda itu sendiri.
Dengan kata lain, golongan kolonial dan kaum bangsawan mendapat pelayanan
istimewa, sedangkan untuk golongan pribumi lebih cenderung diabaikan, bahkan
tidak dilayani sama sekali.
Perkembangan dari pelayanan yang
diberikan oleh kantor pos untuk pelanggan atau masyarakat pengunjung yang
datang itu adalah untuk memudahkan bagi masyarakat itu sendiri dalam hal jasa
dan bertransaksi serta merupakan layanan berbasis teknologi informasi yang
diciptakan untuk menjamin kepuasan pelanggan.
Oleh karena itu, yang paling
diutamakan dalam kantor pos ini adalah pelayanannya agar tidak merugikan pihak
pos sendiri dan tidak mengecewakan pelanggannya. Hal ini sesuai dengan Logo PT.
Pos Indonesia.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Gedung Kantor
Pos Medan mulai dibangun pada tahun 1909 san selesai pada tahun 1911 oleh
pemerintah Kolonial Belanda untuk Sumatera Timur yaitu pada masa kepemimpinan
Residen J. Ballot. Adapun arsitek pembangun Kantor Pos Medan ini bernama Ir. S.
Snuyf dari BOW (Burgelijk Openbare Werken), dibangun dengan gaya Eropa Tua yang
berlokasi di Jalan Balai Kota Medan/Kesawan, Kecamatan Medan Barat.
Kantor Pos Medan
ini dari awal didirikannya memiliki fungsi utama yaitu sebagai tempat atau
sarana pengiriman surat atau barang yang ada. Dimana dalam menjalankan
fungsinya dalam pengiriman surat menggunakan kartu pos dan lainnya dengan
memakai prangko sebagai tanda pelunasan.
Pada masa
Kolonial Kantor Pos medan memiliki peranan yang penting bagi bangsa Eropa
terutama Belanda karena letaknya yang cukup strategis yaitu tepat di jantung
Kota Medan. Sesuai dengan peranannya kantor pos memberikan layanan bagi
masyarakat dalam menjalankan tugas. Layanan pos yang digunakan dalam pengiriman
surat dan barang dengan berjalan kaki, sarana kuda dan sepeda angin.
Untuk masyarakat
pribumi didirikannya Kantor Pos Medan pada masa Kolonial tidak memberi arti
yang besar, karena pada saat itu pihak kolonial tidak memeri kebebasan kepada
kaum pribumi yang tidak bisa baca tulis.
3.2 Saran
Melihat Kantor
Pos Medan yang mampu mempertahankan keutuhannya diharapkan bangunan ini terus
dijaga keasliannya, hal ini dikarenakan banyak peninggalan sejarah di Kota
Medan semakin terancam keadaannya bahkan beberapa bangunan bersejarah tidak
dirawat sama sekali. Tentu saja kalau hal ini dibiarkan terus dikwatirkan
penerus bangsa ini tidak akan melihat kemegahan Kota Medan pada zaman Kolonial
Belanda.
Berdasarkan
Undang-undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, gedung Kantor Pos Medan
kini telah dijadikan bangunan bersejarah karena telah memenuhi syarat-syarat
dalam Undang-undang tersebut yang merupakan peninggalan dari bangsa Kolonial.
Bangunan sejarah ini memiliki banyak keterbatasan fisik yang tidak boleh
dilanggar karena akan mengakibatkan kerusakan serta kehilangan identitas
arsitekturnya. Penjagaan serta perhatin ddalam memelihara ciri khas ini sangat
penting untuk menjaga aspek historisnya. Maka sebaiknya jangan menjadikan
gedung sebatas monumen mati yang dilestarikan fisiknya belaka. Pelestarian yang
diharapkan membuka cakrawala untuk melestarikan bangunan secara berkelanjutan
sehingga memiliki manfaat antar generasi dan masyarakat luas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar