Kamis, 17 September 2015

Buruh Cina di Bangka Belitung

Kehidupan Buruh Cina di Bangka Belitung
Paper ini dibuat oleh Putri Nurmawati
*Mahasiswa Ilmu Sejarah FIB USU stambuk 2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Bangka dan Belitung yang dulunya merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan, sekarang ini telah menjadi sebuah provinsi yang ke-31 di Indonesia pada tahun 2001 silam. Daerah ini terkenal dengan kekayaan alamnya yang bersumberkan pada hasil bumi timah sejak dahulu. Namun kedua daerah ini memiliki sejarah yang tidak jauh berbeda karena letak geografisnya yang berdekatan dan dipisahkan oleh sebuah selat yang bernama Selat Gaspar.
Kata Bangka berasal dari vangka yang berarti Timah, karena wilayah ini memang kaya barang tambang timah. Pulau Bangka ternyata memiliki catatan sejarah panjang. Pulau yang sempat bernama The Duke of York ini dulunya menjadi salah satu pelabuhan yang ramai disinggahi kapal-kapal dagang dari berbagai negara.
Menurut beberapa catatan sejarah, nama Bangka telah mulai disebut sejak abad ke-7, tepatnya pada tahun 686 Masehi. Ini sesuai dengan bukti sejarah Prasasti Kota Kapur yang ditemukan di Muara Sungai Mendu, Bangka Barat. Dari penemuan ini, disimpulkan bahwa pada saat itu Pulau Bangka telah menjadi salah satu pelabuhan yang penting dan berkembang menjadi ramai. Bangka juga merupakan bagian dari daerah taklukan pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya, selain Mataram dan Majapahit. Karena tak ada rempah-rempah, pulau ini juga tak banyak diminati penjajah, sehingga menjadi tempat para lanun (bajak laut). Pada abad ke-17, pertama kali Bangka memiliki Bupati bernama Bupati Nusantara yang dikirim Sultan Banten guna menumpas gerombolan lanun tersebut. Ketika ia wafat, kekuasaan jatuh ketangan putrinya yang dinikahkan dengan Sultan Palembang yang bernama Sultan Abdurrahman. Pulau Bangka dan sekitarnya pun akhirnya menjadi bagian dari Kesultanan Palembang.
Kandungan timah yang besar pertama kali ditemukan oleh orang-orang Johor dan Siantan pada tahun 1710. Melihat hal tersebut pula, pada akhir tahun 1722, VOC memutuskan untuk mengadakan perjanjian dengan Sultan Ratu Anom Kamaruddin dari Palembang, dan membeli timah secara monopoli yang dinilai akan membawa keuntungan yang besar untuk Belanda nantinya. Namun kekuasaan Sultan Palembang berakhir ketika Inggris membalas kekalahan VOC, menggantikan Sultan Machmud Badaruddin II dengan putranya yang bernama Sultan Najamuddin, serta memaksanya menyerahkan Bangka Belitung kepada Inggris pada tahun 1812.
Akan tetapi dalam sejarah Belitung disebutkan pula, yang pertama kali datang ke Pulau Belitung adalah orang Gresik (Jawa Timur) yang bernama Kiai Ronggo Udo. Pada tahun 1822, ditemukan timah untuk pertama kali. Potensi sumberdaya alam termasuk timah dan peluang ekonomi menarik minat para pendatang dari luar ke pulau Bangka dan Belitung. Berdasarkan sumber lain, ketika orang-orang Bangka telah gagal menyerahkan sejumlah produksi timah ke Palembang, beberapa buruh kemudian didatangkan dari Siam, Cina dan Malaka (sekarang Malasyia). Rekrutmen buruh dari Cina sangat memungkinkan, meskipun bertentangan dengan peraturan imigrasi setempat karena munculnya sukuisme antara Canton-Palembang. Pada tahun 1755, pemerintah Belanda di Palembang melaporkan bahwa buruh tambang di Bangka ‘semuanya orang miskin Cina’. Sebelum itu, buruh-buruh tambang Cina memang telah melakukan penambangan ke berbagai wilayah, seperti penambang emas di Pulau Kalimantan tahun 1740.

1.2 Rumusan Masalah
            Menanggapi hal tersebut, penulis ingin mengetahui hal yang melatarbelakangi orang Cina sebagai buruh tambang timah serta bagaimana sepak terjang kehidupan buruh tambang timah Cina di Bangka Belitung selama masa pemerintah kolonial di Hindia-Belanda (Indonesia).

BAB II
PEMBAHASAN
                                              
2.1 Latar Belakang Kedatangan Cina di Bangka Belitung
Kedatangan orang Cina ke Nusantara dilakukan secara bergelombang sejak ribuan tahun yang lalu melalui kegiatan perniagaan. Catatan-catatan dari Cina menyatakan bahwa kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara telah berhubungan erat dengan dinasti-dinasti yang berkuasa di Cina. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan dan lalu lintas barang maupun manusia dari Cina ke Nusantara dan sebaliknya. Namun ada juga gelombang yang datang ke Nusantara karena melarikan diri dari negaranya ketika Cina dipimpin oleh kaisar Chin Shih Huang Ti yang sangat terkenal dengan kekejamannya. Kedatangan orang Cina juga ada yang sengaja didatangkan terutama saat Hindia-Belanda (Indonesia) dibawah jajahan kolonial Belanda guna dijadikan sebagai tenaga kerja yang sangat dibutuhkan untuk menguras sumber daya alam Hindia-Belanda (Indonesia). Namun sumber lain menyebutkan bahwa Sultan lah yang mendatangkan orang Cina tersebut. Kemudian orang-orang Cina dikirimkan ke daerah-daerah yang dibutuhkan tenaga kerja dengan diiming-imingin sebelumnya yang akhirnya membuat mereka setuju.
Sebagian besar warga Cina generasi pertama di Hindia-Belanda berasal dari daerah Cina Selatan, terutama dari Provinsi Kuang Tung dan Fu Khien atau Hok Kian. Kendati tidak bisa ditarik garis batas yang pasti, bisa dikatakan bahwa yang tergolong pedagang berasal dari Amoy dan sekitarnya (Tsiang Tsu, Tsoan Tsiu, dsb.). Mereka inilah yang disebut Hok Kian. Sedangkan para perajinnya kebanyakn dari Hakka atau Kanton (Propinsi Kuang Tung). Mereka bekerja sebagai tukang sepatu dan mebel rotan. Ada pula yang jadi tukang arloji, tukang kayu, dan pandai besi. Sementara itu orang Cina yang menjadi buruh di perkebunan Sumatera Timur kebanyakan berasal dari daerah Swatow, dikenal sebagai orang Tio Cu. Persebaran mereka di berbagai wilayah Hindia Belanda kurang lebih sebagai berikut. Hok Kian paling banyak di Jawa; Hakka di Kalimantan Barat; Tio Cu di Sumatera Timur, Riau, Bangka dan Belitung. Mereka memiliki bahasa daerah sendiri-sendiri.
Ketika perdagangan timah mulai menguntungkan, VOC dibawah kepemimpinan Cournelis de Houtman mulai melirik Bangka hingga akhirnya membuat kontrak dagang pada tahun 1668 dengan sistem monopoli, yaitu bahwa penguasa Bangka dan Belitung mengakui VOC sebagai pelindungnya dan berjanji tidak akan menjalin kerjasama atau berhubungan dengan bangsa-bangsa lain. Namun ketika Belanda kalah dalam perangnya melawan Perancis, otomatis seluruh negara jajahan Belanda jatuh ke tangan kekuasaan Inggris, termasuk didalamnya adalah Pulau Bangka dan Belitung.
Pasukan Inggris dibawah pimpinan Thomas Stanford Raffles, berusaha menundukkan Palembang. Maka, terjadilah perang antara Sultan Palembang melawan tentara Inggris. Bagi Raffles, perang ini lebih bertujuan untuk memperebutkan timah. Akhirnya Inggris berkuasa di Bangka dan Belitung dalam kurun waktu 4 tahun (1812 s/d 1816). Melalui pernyataan politiknya, Inggris mengganti nama Bangka menjadi The Duke of York, dan pelabuhan Belinyu menjadi Port Wellington.
Ketika Belanda berhasil masuk dan mulai berkuasa kembali di Bangka pada akhir tahun 1816, VOC mulai mendatangkan banyak pekerja dari negeri Cina untuk dipekerjakan di pertambangan-pertambangan timah Pulau Bangka.
Para pekerja tersebut didatangkan secara sengaja karena kurangnya tenaga kerja yang dianggap mereka memiliki keahlian dan kecekatan untuk menambang timah dibandingkan dengan orang-orang pribumi. Akhirnya mereka pun bekerja sebagai buruh tambang timah dan tinggal menetap tidak kembali lagi ke negara asalnya kemudian mereka berbaur dengan bahasa, pakaian, makanan dan agama yang ada disekitar Bangka Belitung.
Pada tahun 1873, pertambangan timah di Belitung mulai dibuka dan berproduksi. Belanda mulai memperkuat pengaruhnya

2.1 Kehidupan Sosial, Ekonomi dan Budaya Orang Cina di Bangka Belitung
 Perkampungan Cina mulai berdiri sejak abad ke-18. Ketika pengeboran timah dilakukan, banyak pedagang Asia termasuk Cina berdatangan. Pada saat itu Bangka masih berada di bawah kekuasaan Kesultanan Palembang. Kedatangan orang-orang Cina ke Bangka ini bertujuan untuk memanfaatkan kesempatan dalam perekonomian tambang timah. Belanda ikut serta dalam kesempatan tersebut karena secara administratif, tanah tersebut milik mereka. Saat itu, masih terjadi tarik-menarik kekuasaan antara Belanda dan Inggris (1812-1816). Buruh tambang Cina itu dikenal dengan istilah Cina Parit. Walau kehadiran mereka dapat menjadi sumber pertikaian, tetapi tidak banyak terjadi permasalahan di pulau Bangka. Orang Bangka mengatakan, kehadiran Cina Bangka minoritas itu merupakan hal yang biasa.
Di abad ke-20, sedikit sekali dilaporkan adanya kekerasan antaretnis di Bangka. Orang Cina dan kebudayaannya telah dianggap merupakan bagian dari masyarakat dan kebudayaan pulau itu sejak Lim Tau Kian, yang anak-anaknya menikah dengan keluarga Kesultanan Palembang, membantu menemukan tambang timah pertama di Mentok. Tipe ‘wheel barrow’ orang Cina, yakni kebiasaan saling mengunjungi antara orang Bangka dan Cina saat Tahun Baru Cina dan Lebaran, telah merupakan bagian dari kehidupan orang Bangka. Pengaruh Cina juga dijumpai dalam bahasa sehari-sehari. Di samping itu, banyak orang Cina yang melakukan perkawinan antaretnis, yakni dengan orang kampung yang berprofesi sebagai pedagang, nelayan atau petani. Kaum ‘Peranakan’ yang lahir dari perkawinan antaretnis ini kemudian bertumbuh kembang. Mereka menggunakan bahasa Hakka yang kuat dipengaruhi oleh bahasa Melayu.
Budaya bedol desa juga dikenal di kalangan masyarakat Cina. Setidaknya, masyarakat Cina di Pulau Bangka adalah bukti dari praktik bedol desa yang menurut catatan Belanda berlangsung sejak awal abad ke-18 atau sekitar tahun 1710 Masehi. Masyarakat Cina dari suku Ke Jia (sering disebut Orang Khe) dari Provinsi Guang Dong, Cina, adalah komunitas Cina terbesar di Bangka-Belitung yang melakukan migrasi sistem bedol desa berabad silam dari daratan Cina. Mereka berangkat dari kampung-kampung di distrik tertentu seperti Sin Neng, San Wui, Hoi P’eng, Yan P’eng, Nam Hoi, P’un Yue, Shun Tak, Tung Kwun, dan Heung Shan (lafal ini tidak menggunakan standar Han Yu Pin Yin-Red). Bagian terbesar dari migran tersebut adalah kuli tambang timah. Seiring perjalanan waktu, di Pulau Bangka yang berada di bawah Kesultanan Palembang ditemukan timah, dan tenaga kerja yang dianggap berpengalaman adalah orang Cina suku Kejia yang memang terkenal memiliki keahlian di bidang pertambangan.
Sultan Palembang meniru pengalaman Sultan Perak dan Sultan Johor yang mempekerjakan pekerja tambang Cina untuk mengolah cadangan timah. Salah satu perintis yang diberi kepercayaan adalah Lim Tau Kian, seorang Cina Muslim asal Guang Zhou (Canton-Red), seorang sahabat Sultan Johor. Lim Tau Kian yang memiliki nama Melayu Ce Wan Abdulhayat bermukim di Kota Mentok. Dia memiliki anak cucu yang memakai gelar dari Kesultanan Johor, yakni Abang untuk lelaki dan Yang untuk perempuan. Namun ada juga sesepuh Cina Bangka, warga Cina sudah ada di pulau tersebut sebelum kedatangan Ekspedisi Zheng He (Cheng Ho dalam dialek Fujian-Red) tahun 1405 Masehi. Masyarakat Cina-lah yang memperkenalkan teknik bertambang yang hingga kini masih dikenal. Kosa kata “Ciam” (Jian dalam Mandarin-Red) atau pengebor, “Sakan” alias pengayak pasir timah, hingga “Kolong” yakni lubang tambang besar dari Dialek Ke Jia adalah sebagian kecil dari bukti peninggalan tradisi Cina yang masih bertahan hingga kini.
Sebelum Belanda bercokol di Bangka-Belitung, kongsi-kongsi China terlebih dulu mengupayakan penambangan timah dengan izin dari Sultan Palembang. Arus pertama-tama migrasi “bedol desa” tersebut tidak disertai kaum wanita sehingga terjadilah perkawinan campur antara buruh migran dengan wanita setempat atau pun perempuan Bali dan Jawa. Sebagian besar kuli timah tersebut berasal dari satu kampung halaman. Tak ubahnya pekerja marjinal di Jakarta dewasa ini, saat mereka pulang kampung dan kembali ke Bangka, mereka mengajak kawan dan sanak saudaranya berbondong-bondong datang. Itu berlangsung terus hingga abad ke-20.
Dengan melalui izin penguasa Kesultanan Palembang dan Kerajaan-kerajaan Melayu seperti Lingga dan Johor yang silih berganti menanamkan pengaruh di Bangka-Belitung, masyarakat Cina pun membangun permukiman di sana. Permukiman mula-mula berada di sekitar Panji dekat Teluk Klabat. Selanjutnya, seiring penemuan tambang baru, permukiman berkembang di Toboali, Koba, Sungai Liat, Jebus, Merawang, Baturusa, dan Koba di selatan Pulau Bangka. Terciptalah pola permukiman yang unik, masyarakat Bangka-Melayu tinggal di dekat sungai karena mereka berkebun.
Sedangkan perkampungan Cina selalu berada di sekitar lubang tambang timah sesuai jalur timah (tin trap-Red) di sepanjang Pulau Bangka dan Belitung. Pola permukiman tersebut tetap bertahan hingga hari ini atau lebih dari tiga abad. Perkampungan Cina selalu berada di sekitar jebakan timah atau bekas tambang. Sedangkan perkampungan Melayu di sekitar sungai tempat mereka berkebun dan mencari nafkah dari berladang. Para petinggi Cina yang semula disebut Tiko (Da Ge dalam bahasa Mandarin-Red) yang artinya “Kakak” menjadi pemimpin komunitas mereka. Selanjutnya pada zaman kolonial Belanda, para ketua Cina tersebut diberi pangkat titular sebagai Letnan dan Kapten China.
Mary F Somers Heidhues mencatat, migrasi kuli Cina sempat terhenti pada akhir abad ke-18 akibat gangguan bajak laut dan gangguan penyakit beri-beri. Demikian pula pada suatu masa di abad ke-19 gangguan wabah penyakit sempat menghambat laju migrasi dari Cina ke Bangka.
Umumnya para kuli timah tersebut datang akibat informasi getok tular dari teman sekampung yang sudah terlebih dahulu merantau ke Bangka. Tetapi, untuk berangkat, biasanya mereka harus melalui agen tenaga kerja seperti PJTKI di Indonesia. Agen tersebut ada yang berpusat di Singapura, Cina ataupun Bangka. Perlahan tapi pasti, jumlah migran tersebut terus bertambah hingga akhirnya kaum wanita turut pula berdatangan ke Bangka. Mereka pun beranak-pinak di Bangka-Belitung dalam kondisi serba memprihatinkan. Nyaris serupa dengan nasib Tenga Kerja Indonesia yang disiksa di negeri jiran, demikian pula para kuli tambang Timah Cina. Mereka kerap diperlakukan tidak manusiawi, dijebak dengan utang dari mandor, disediakan fasilitas judi dan permadatan sehingga semakin terjebak lilitan utang serta berbagai kekerasan lain. Mereka juga sering terkena berbagai macam penyakit akibat dari pencemaran dari timah tersebut. Seperti penyakit paru-paru.
Alhasil, aksi perlawanan dan terkadang berujung pada pemberontakan sering terjadi. Salah satu tokoh Melayu Depati Amir yang menentang Belanda, dan juga dibantu oleh para tokoh-tokoh Cina setempat. Demikian pula pada akhir abad ke-19, terjadi pemberontakan Liu Ngie melawan kekuasaan Belanda yang dimotori Cina Bangka. Bahkan, pada masa kemerdekaan pun, seorang tokoh Cina yakni Tony Wen menembus blokade Belanda untuk menyelundupkan opium ke Singapura dan dari sana menyelundupkan senjata untuk membantu perjuangan Republik Indonesia. Dia sempat memimpin sejumlah laskar relawan internasional untuk melawan Belanda dalam perang kemerdekaan di Jawa. Kini nama Tony Wen diabadikan sebagai nama jalan di Kota Pangkal Pinang. Penghargaan tersebut diberikan menyusul dinamakannya Bandara Pangkal Pinang dengan nama Depati Amir.
Akan tetapi dari segi penghasilan yang diperoleh dari menjadi seorang buruh hanyalah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup semata. Bahkan tidak seperti orang Cina yang di tempat lainnya yang menjadi pedagang ataupun pengusaha sukses, melainkan kehidupannya sama seperti masyarakat setempat Bangka Belitung yakni seperti Melayu yang kehidupannya hanya begitu saja. Mereka kebanyakan hanya mengandalkan tambang timah sebagai sumber mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Karena tambang timah lah yang menjadi ciri khas maupun barang yang menjadi primadona di Bangka Belitung.
Beberapa tahun kemudian, Bangka pun menjadi museum Budaya Cina khususnya suku Hakka. Ribuan klenteng besar dan kecil, rumah antik berusia ratusan tahun, dan pola hidup tradisional merupakan warisan budaya yang unik dan tiada duanya. Hongky sebagai buyut dari Kapitein Cina Lay Nam Chen menghuni rumah berusia 150 tahun lebih di pusat Kota Pangkal Pinang. Bangunan kayu antik peninggalan para leluhur migran dari Cina masih dapat dinikmati di sana-sini. Rumah induk, halaman tengah dan bagian belakang yang luas merupakan pakem dari bangunan masa itu.
Salah satu tempat yang masih utuh menggambarkan kehidupan seabad silam adalah Kampung Gedong sekitar 90 kilometer sebelah utara Kota Pangkal Pinang atau hanya sekitar setengah jam perjalanan dari Kota Sungai Liat. Perkampungan tersebut adalah komunitas Cina keturunan enam bos timah yang dahulu menguasai kawasan Parit 6 atau Liuk Phun Thew dalam dialek Hakka. Deretan rumah kayu antik, ornamen Cina, kaligrafi Han Zi, tempat pemujaan di depan rumah, dan klenteng pelindung desa merupakan pemandangan eksotis berpadu dengan alam tropis Pulau Bangka. Deretan rumah kayu antik, ornamen Tionghoa, kaligrafi Han Zi, tempat pemujaan di depan rumah, dan klenteng pelindung desa merupakan pemandangan eksotis berpadu dengan alam tropis Pulau Bangka.
Namun, perlahan tapi pasti, generasi muda Kampung Gedong yang berpendidikan baik mulai meninggalkan kampung halaman mereka. Yang unik adalah, kaum muda yang tersisa kembali bekerja di tambang timah tradisional (kerap disebut Tambang Inkonvensional atau TI-Red) mengikut jejak langkah nenek moyang mereka dengan teknik yang kurang lebih sama.
Ada pula kesenjangan antara masyarakat pendatang yang direkrut untuk bekerja di tambang dan penduduk lokal. Politik pertambangan yang lebih banyak mempekerjakan pendatang pada tingkat struktural perusahaan daripada masyarakat lokal meninggalkan permasalahan etnisitas antara pendatang dan penduduk lokal.
Setelah kedatangan etnis Cina, beberapa pendatang lain mulai mencari penghidupan di Bangka Belitung. Karena Bangka Belitung terdiri atas gugusan pulau-pulau, maka orang-orang Bugis dan Buton pun banyak berdatangan mencari penghidupan di wilayah ini. Hingga saat ini, beberapa daerah di Bangka Belitung dikenal sebagai daerah tempat tinggal keturunan orang-orang Bugis dan Buton, seperti di Kampung Nelayan II di Sungailiat dan Desa Kuraudi Koba. Mereka bermata pencaharian sebagai nelayan.
Akhir-akhir ini, orang-orang Jawa dan Madura pun mulai berdatangan. Jika orang-orang Jawa banyak menjadi pedagang dan petani dalam program transmigrasi (seperti di Desa Rias Toboali), orang Madura banyak menjadi pedagang sate. Hingga saat ini tidak ada data konkrit dari BPS dan Bapeda tentang jumlah dan komposisi etnis di Bangka Belitung. Hal itu disebabkan jumlah pendatang yang datang dan pergi tidak melapor ke pihak pemerintah setempat. Adapun penduduk Bangka Belitung yang terdiri dari: Melayu (masyarakat yang telah menetap dalam limapuluh tahun terakhir) 60 persen, Cina 30 persen, dan sisanya terdiri dari etnik Jawa, Madura, Bugis, Buton, Palembang, Batak, Aceh, Minang, dan Sunda. Beberapa di antaranya telah melakukan perkawinan campuran dan menetap di Bangka Belitung.




Sumber PDF:


1 komentar:

  1. menarik ya.. sy generasi ketiga orang Chinese Bangka. tapi baru tahu sejarah ini. thanks

    BalasHapus