Paper ini dibuat oleh Putri Nurmawati
*Mahasiswa Ilmu Sejarah FIB USU stambuk 2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Bangka dan
Belitung yang dulunya merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan, sekarang
ini telah menjadi sebuah provinsi yang ke-31 di Indonesia pada tahun 2001
silam. Daerah ini terkenal dengan kekayaan alamnya yang bersumberkan pada hasil
bumi timah sejak dahulu. Namun kedua daerah ini memiliki sejarah yang tidak
jauh berbeda karena letak geografisnya yang berdekatan dan dipisahkan oleh
sebuah selat yang bernama Selat Gaspar.
Kata Bangka
berasal dari vangka yang berarti Timah, karena wilayah ini memang kaya
barang tambang timah. Pulau Bangka
ternyata memiliki catatan sejarah panjang. Pulau yang sempat bernama The
Duke of York ini dulunya menjadi salah satu pelabuhan yang ramai
disinggahi kapal-kapal dagang dari berbagai negara.
Menurut
beberapa catatan sejarah, nama Bangka telah mulai disebut sejak abad ke-7,
tepatnya pada tahun 686 Masehi. Ini sesuai dengan bukti sejarah Prasasti Kota Kapur yang ditemukan di Muara Sungai Mendu, Bangka Barat. Dari
penemuan ini, disimpulkan bahwa pada saat itu Pulau Bangka telah menjadi salah
satu pelabuhan yang penting dan berkembang menjadi ramai. Bangka
juga merupakan bagian dari daerah taklukan pada masa kejayaan Kerajaan
Sriwijaya, selain Mataram dan Majapahit. Karena tak ada rempah-rempah, pulau
ini juga tak banyak diminati penjajah, sehingga menjadi tempat para lanun
(bajak laut). Pada abad ke-17, pertama kali Bangka memiliki Bupati bernama
Bupati Nusantara yang dikirim Sultan Banten guna menumpas gerombolan lanun tersebut.
Ketika ia wafat, kekuasaan jatuh ketangan putrinya yang dinikahkan dengan
Sultan Palembang yang bernama Sultan Abdurrahman. Pulau Bangka dan sekitarnya
pun akhirnya menjadi bagian dari Kesultanan Palembang.
Kandungan timah
yang besar pertama kali ditemukan oleh orang-orang Johor dan Siantan pada tahun
1710. Melihat hal tersebut pula, pada akhir tahun 1722, VOC memutuskan untuk mengadakan
perjanjian dengan Sultan Ratu Anom Kamaruddin dari Palembang, dan membeli timah
secara monopoli yang dinilai akan membawa keuntungan yang besar untuk Belanda
nantinya. Namun kekuasaan Sultan Palembang berakhir ketika Inggris membalas
kekalahan VOC, menggantikan Sultan Machmud Badaruddin II dengan putranya yang
bernama Sultan Najamuddin, serta memaksanya menyerahkan Bangka Belitung kepada
Inggris pada tahun 1812.
Akan tetapi dalam sejarah Belitung disebutkan pula,
yang pertama kali datang ke Pulau Belitung adalah orang Gresik (Jawa Timur) yang
bernama Kiai Ronggo Udo. Pada tahun 1822, ditemukan timah untuk pertama kali. Potensi
sumberdaya alam termasuk timah dan peluang ekonomi menarik minat para pendatang
dari luar ke pulau Bangka dan Belitung. Berdasarkan sumber lain, ketika
orang-orang Bangka telah gagal menyerahkan sejumlah produksi timah ke
Palembang, beberapa buruh kemudian didatangkan dari Siam, Cina dan Malaka
(sekarang Malasyia). Rekrutmen buruh dari Cina sangat memungkinkan, meskipun
bertentangan dengan peraturan imigrasi setempat karena munculnya sukuisme
antara Canton-Palembang. Pada tahun 1755, pemerintah Belanda di Palembang
melaporkan bahwa buruh tambang di Bangka ‘semuanya orang miskin Cina’. Sebelum
itu, buruh-buruh tambang Cina memang telah melakukan penambangan ke berbagai
wilayah, seperti penambang emas di Pulau Kalimantan tahun 1740.
1.2
Rumusan Masalah
Menanggapi hal tersebut, penulis
ingin mengetahui hal yang melatarbelakangi orang Cina sebagai buruh tambang
timah serta bagaimana sepak terjang kehidupan buruh tambang timah Cina di
Bangka Belitung selama masa pemerintah kolonial di Hindia-Belanda (Indonesia).
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Latar Belakang Kedatangan Cina di Bangka Belitung
Kedatangan orang
Cina ke Nusantara dilakukan secara bergelombang sejak ribuan tahun yang lalu
melalui kegiatan perniagaan. Catatan-catatan dari Cina menyatakan bahwa kerajaan-kerajaan
kuno di Nusantara
telah berhubungan erat dengan dinasti-dinasti yang berkuasa di Cina.
Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan dan lalu lintas barang
maupun manusia dari Cina ke Nusantara dan sebaliknya. Namun ada juga gelombang
yang datang ke Nusantara karena melarikan diri dari negaranya ketika Cina
dipimpin oleh kaisar Chin Shih Huang Ti yang sangat terkenal dengan
kekejamannya. Kedatangan orang Cina juga ada yang sengaja didatangkan terutama
saat Hindia-Belanda (Indonesia) dibawah jajahan kolonial Belanda guna dijadikan
sebagai tenaga kerja yang sangat dibutuhkan untuk menguras sumber daya alam Hindia-Belanda
(Indonesia). Namun sumber lain menyebutkan bahwa Sultan lah yang mendatangkan
orang Cina tersebut. Kemudian orang-orang Cina dikirimkan ke daerah-daerah yang
dibutuhkan tenaga kerja dengan diiming-imingin sebelumnya yang akhirnya membuat
mereka setuju.
Sebagian
besar warga Cina generasi pertama di Hindia-Belanda berasal dari daerah Cina
Selatan, terutama dari Provinsi Kuang Tung dan Fu Khien atau Hok Kian. Kendati
tidak bisa ditarik garis batas yang pasti, bisa dikatakan bahwa yang tergolong
pedagang berasal dari Amoy dan sekitarnya (Tsiang Tsu, Tsoan Tsiu, dsb.).
Mereka inilah yang disebut Hok Kian. Sedangkan para perajinnya kebanyakn dari
Hakka atau Kanton (Propinsi Kuang Tung). Mereka bekerja sebagai tukang sepatu
dan mebel rotan. Ada pula yang jadi tukang arloji, tukang kayu, dan pandai
besi. Sementara itu orang Cina yang menjadi buruh di perkebunan Sumatera Timur
kebanyakan berasal dari daerah Swatow, dikenal sebagai orang Tio Cu. Persebaran
mereka di berbagai wilayah Hindia Belanda kurang lebih sebagai berikut. Hok
Kian paling banyak di Jawa; Hakka di Kalimantan Barat; Tio Cu di Sumatera
Timur, Riau, Bangka dan Belitung. Mereka memiliki bahasa daerah
sendiri-sendiri.
Ketika
perdagangan timah mulai menguntungkan, VOC dibawah kepemimpinan Cournelis de Houtman mulai melirik
Bangka hingga akhirnya membuat kontrak dagang pada tahun 1668 dengan sistem
monopoli, yaitu bahwa penguasa Bangka dan Belitung mengakui VOC sebagai
pelindungnya dan berjanji tidak akan menjalin kerjasama atau berhubungan dengan
bangsa-bangsa lain. Namun ketika Belanda kalah dalam perangnya melawan
Perancis, otomatis seluruh negara jajahan Belanda jatuh ke tangan kekuasaan
Inggris, termasuk didalamnya adalah Pulau Bangka dan Belitung.
Pasukan Inggris
dibawah pimpinan Thomas Stanford
Raffles, berusaha menundukkan Palembang. Maka, terjadilah perang antara Sultan Palembang melawan tentara
Inggris. Bagi Raffles, perang ini lebih bertujuan untuk memperebutkan timah.
Akhirnya Inggris berkuasa di Bangka dan Belitung dalam kurun waktu 4 tahun
(1812 s/d 1816). Melalui pernyataan politiknya, Inggris mengganti nama Bangka
menjadi The Duke of York, dan pelabuhan Belinyu menjadi Port Wellington.
Ketika Belanda berhasil masuk dan mulai berkuasa
kembali di Bangka pada akhir tahun 1816, VOC mulai mendatangkan banyak pekerja
dari negeri Cina untuk dipekerjakan di pertambangan-pertambangan timah Pulau
Bangka.
Para pekerja tersebut didatangkan secara sengaja karena kurangnya tenaga kerja yang dianggap mereka memiliki keahlian dan kecekatan untuk menambang timah dibandingkan dengan orang-orang pribumi. Akhirnya mereka pun bekerja sebagai buruh tambang timah dan tinggal menetap tidak kembali lagi ke negara asalnya kemudian mereka berbaur dengan bahasa, pakaian, makanan dan agama yang ada disekitar Bangka Belitung. Pada tahun 1873, pertambangan timah di Belitung mulai dibuka dan berproduksi. Belanda mulai memperkuat pengaruhnya
Para pekerja tersebut didatangkan secara sengaja karena kurangnya tenaga kerja yang dianggap mereka memiliki keahlian dan kecekatan untuk menambang timah dibandingkan dengan orang-orang pribumi. Akhirnya mereka pun bekerja sebagai buruh tambang timah dan tinggal menetap tidak kembali lagi ke negara asalnya kemudian mereka berbaur dengan bahasa, pakaian, makanan dan agama yang ada disekitar Bangka Belitung. Pada tahun 1873, pertambangan timah di Belitung mulai dibuka dan berproduksi. Belanda mulai memperkuat pengaruhnya
2.1
Kehidupan Sosial, Ekonomi dan Budaya Orang Cina di Bangka Belitung
Perkampungan Cina mulai berdiri sejak abad
ke-18. Ketika pengeboran timah dilakukan, banyak pedagang Asia termasuk Cina
berdatangan. Pada saat itu Bangka masih berada di bawah kekuasaan Kesultanan
Palembang. Kedatangan orang-orang Cina ke Bangka ini bertujuan untuk
memanfaatkan kesempatan dalam perekonomian tambang timah. Belanda ikut serta
dalam kesempatan tersebut karena secara administratif, tanah tersebut milik
mereka. Saat itu, masih terjadi tarik-menarik kekuasaan antara Belanda dan
Inggris (1812-1816). Buruh tambang Cina itu dikenal dengan istilah Cina Parit.
Walau kehadiran mereka dapat menjadi sumber pertikaian, tetapi tidak banyak
terjadi permasalahan di pulau Bangka. Orang Bangka mengatakan, kehadiran Cina
Bangka minoritas itu merupakan hal yang biasa.
Di abad ke-20,
sedikit sekali dilaporkan adanya kekerasan antaretnis di Bangka. Orang Cina dan
kebudayaannya telah dianggap merupakan bagian dari masyarakat dan kebudayaan
pulau itu sejak Lim Tau Kian, yang anak-anaknya menikah dengan keluarga
Kesultanan Palembang, membantu menemukan tambang timah pertama di Mentok. Tipe
‘wheel barrow’ orang Cina, yakni kebiasaan saling mengunjungi antara
orang Bangka dan Cina saat Tahun Baru Cina dan Lebaran, telah merupakan bagian
dari kehidupan orang Bangka. Pengaruh Cina juga dijumpai dalam bahasa
sehari-sehari. Di samping itu, banyak orang Cina yang melakukan perkawinan
antaretnis, yakni dengan orang kampung yang berprofesi sebagai pedagang,
nelayan atau petani. Kaum ‘Peranakan’ yang lahir dari perkawinan antaretnis ini
kemudian bertumbuh kembang. Mereka menggunakan bahasa Hakka yang kuat
dipengaruhi oleh bahasa Melayu.
Budaya bedol desa
juga dikenal di kalangan masyarakat Cina. Setidaknya, masyarakat Cina di Pulau
Bangka adalah bukti dari praktik bedol desa yang menurut catatan Belanda
berlangsung sejak awal abad ke-18 atau sekitar tahun 1710 Masehi. Masyarakat Cina
dari suku Ke Jia (sering disebut Orang Khe) dari Provinsi Guang Dong, Cina,
adalah komunitas Cina terbesar di Bangka-Belitung yang melakukan migrasi sistem
bedol desa berabad silam dari daratan Cina. Mereka berangkat dari
kampung-kampung di distrik tertentu seperti Sin Neng, San Wui, Hoi P’eng, Yan
P’eng, Nam Hoi, P’un Yue, Shun Tak, Tung Kwun, dan Heung Shan (lafal ini tidak
menggunakan standar Han Yu Pin Yin-Red). Bagian terbesar dari migran tersebut adalah
kuli tambang timah. Seiring perjalanan waktu, di Pulau Bangka yang berada di
bawah Kesultanan Palembang ditemukan timah, dan tenaga kerja yang dianggap
berpengalaman adalah orang Cina suku Kejia yang memang terkenal memiliki
keahlian di bidang pertambangan.
Sultan Palembang
meniru pengalaman Sultan Perak dan Sultan Johor yang mempekerjakan pekerja
tambang Cina untuk mengolah cadangan timah. Salah satu perintis yang diberi
kepercayaan adalah Lim Tau Kian, seorang Cina Muslim asal Guang Zhou (Canton-Red),
seorang sahabat Sultan Johor. Lim Tau Kian yang memiliki nama Melayu Ce Wan
Abdulhayat bermukim di Kota Mentok. Dia memiliki anak cucu yang memakai gelar
dari Kesultanan Johor, yakni Abang untuk lelaki dan Yang untuk perempuan. Namun
ada juga sesepuh Cina Bangka, warga Cina sudah ada di pulau tersebut sebelum
kedatangan Ekspedisi Zheng He (Cheng Ho dalam dialek Fujian-Red) tahun 1405
Masehi. Masyarakat Cina-lah yang memperkenalkan teknik bertambang yang hingga
kini masih dikenal. Kosa kata “Ciam” (Jian dalam Mandarin-Red) atau pengebor,
“Sakan” alias pengayak pasir timah, hingga “Kolong” yakni lubang tambang besar
dari Dialek Ke Jia adalah sebagian kecil dari bukti peninggalan tradisi Cina
yang masih bertahan hingga kini.
Sebelum Belanda
bercokol di Bangka-Belitung, kongsi-kongsi China terlebih dulu mengupayakan
penambangan timah dengan izin dari Sultan Palembang. Arus pertama-tama migrasi
“bedol desa” tersebut tidak disertai kaum wanita sehingga terjadilah perkawinan
campur antara buruh migran dengan wanita setempat atau pun perempuan Bali dan
Jawa. Sebagian besar kuli timah tersebut berasal dari satu kampung halaman. Tak
ubahnya pekerja marjinal di Jakarta dewasa ini, saat mereka pulang kampung dan
kembali ke Bangka, mereka mengajak kawan dan sanak saudaranya
berbondong-bondong datang. Itu berlangsung terus hingga abad ke-20.
Dengan melalui izin
penguasa Kesultanan Palembang dan Kerajaan-kerajaan Melayu seperti Lingga dan
Johor yang silih berganti menanamkan pengaruh di Bangka-Belitung, masyarakat Cina
pun membangun permukiman di sana. Permukiman mula-mula berada di sekitar Panji
dekat Teluk Klabat. Selanjutnya, seiring penemuan tambang baru, permukiman
berkembang di Toboali, Koba, Sungai Liat, Jebus, Merawang, Baturusa, dan Koba
di selatan Pulau Bangka. Terciptalah pola permukiman yang unik, masyarakat
Bangka-Melayu tinggal di dekat sungai karena mereka berkebun.
Sedangkan
perkampungan Cina selalu berada di sekitar lubang tambang timah sesuai jalur
timah (tin trap-Red) di sepanjang Pulau Bangka dan Belitung. Pola permukiman
tersebut tetap bertahan hingga hari ini atau lebih dari tiga abad. Perkampungan
Cina selalu berada di sekitar jebakan timah atau bekas tambang. Sedangkan
perkampungan Melayu di sekitar sungai tempat mereka berkebun dan mencari nafkah
dari berladang. Para petinggi Cina yang semula disebut Tiko (Da Ge dalam bahasa
Mandarin-Red) yang artinya “Kakak” menjadi pemimpin komunitas mereka.
Selanjutnya pada zaman kolonial Belanda, para ketua Cina tersebut diberi
pangkat titular sebagai Letnan dan Kapten China.
Mary F Somers
Heidhues mencatat, migrasi kuli Cina sempat terhenti pada akhir abad ke-18
akibat gangguan bajak laut dan gangguan penyakit beri-beri. Demikian pula pada
suatu masa di abad ke-19 gangguan wabah penyakit sempat menghambat laju migrasi
dari Cina ke Bangka.
Umumnya para
kuli timah tersebut datang akibat informasi getok tular dari teman sekampung
yang sudah terlebih dahulu merantau ke Bangka. Tetapi, untuk berangkat,
biasanya mereka harus melalui agen tenaga kerja seperti PJTKI di Indonesia.
Agen tersebut ada yang berpusat di Singapura, Cina ataupun Bangka. Perlahan
tapi pasti, jumlah migran tersebut terus bertambah hingga akhirnya kaum wanita
turut pula berdatangan ke Bangka. Mereka pun beranak-pinak di Bangka-Belitung
dalam kondisi serba memprihatinkan. Nyaris serupa dengan nasib Tenga Kerja Indonesia
yang disiksa di negeri jiran, demikian pula para kuli tambang Timah Cina.
Mereka kerap diperlakukan tidak manusiawi, dijebak dengan utang dari mandor,
disediakan fasilitas judi dan permadatan sehingga semakin terjebak lilitan
utang serta berbagai kekerasan lain. Mereka juga sering terkena berbagai macam
penyakit akibat dari pencemaran dari timah tersebut. Seperti penyakit
paru-paru.
Alhasil, aksi
perlawanan dan terkadang berujung pada pemberontakan sering terjadi. Salah satu
tokoh Melayu Depati Amir yang menentang Belanda, dan juga dibantu oleh para
tokoh-tokoh Cina setempat. Demikian pula pada akhir abad ke-19, terjadi
pemberontakan Liu Ngie melawan kekuasaan Belanda yang dimotori Cina Bangka. Bahkan,
pada masa kemerdekaan pun, seorang tokoh Cina yakni Tony Wen menembus blokade
Belanda untuk menyelundupkan opium ke Singapura dan dari sana menyelundupkan
senjata untuk membantu perjuangan Republik Indonesia. Dia sempat memimpin
sejumlah laskar relawan internasional untuk melawan Belanda dalam perang
kemerdekaan di Jawa. Kini nama Tony Wen diabadikan sebagai nama jalan di Kota
Pangkal Pinang. Penghargaan tersebut diberikan menyusul dinamakannya Bandara
Pangkal Pinang dengan nama Depati Amir.
Akan tetapi dari
segi penghasilan yang diperoleh dari menjadi seorang buruh hanyalah cukup untuk
memenuhi kebutuhan hidup semata. Bahkan tidak seperti orang Cina yang di tempat
lainnya yang menjadi pedagang ataupun pengusaha sukses, melainkan kehidupannya
sama seperti masyarakat setempat Bangka Belitung yakni seperti Melayu yang
kehidupannya hanya begitu saja. Mereka kebanyakan hanya mengandalkan tambang
timah sebagai sumber mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
sehari-hari. Karena tambang timah lah yang menjadi ciri khas maupun barang yang
menjadi primadona di Bangka Belitung.
Beberapa
tahun kemudian, Bangka pun menjadi museum Budaya Cina khususnya suku Hakka.
Ribuan klenteng besar dan kecil, rumah antik berusia ratusan tahun, dan pola
hidup tradisional merupakan warisan budaya yang unik dan tiada duanya. Hongky
sebagai buyut dari Kapitein Cina Lay Nam Chen menghuni rumah berusia 150 tahun
lebih di pusat Kota Pangkal Pinang. Bangunan kayu antik peninggalan para
leluhur migran dari Cina masih dapat dinikmati di sana-sini. Rumah induk,
halaman tengah dan bagian belakang yang luas merupakan pakem dari bangunan masa
itu.
Salah satu tempat
yang masih utuh menggambarkan kehidupan seabad silam adalah Kampung Gedong
sekitar 90 kilometer sebelah utara Kota Pangkal Pinang atau hanya sekitar
setengah jam perjalanan dari Kota Sungai Liat. Perkampungan tersebut adalah
komunitas Cina keturunan enam bos timah yang dahulu menguasai kawasan Parit 6
atau Liuk Phun Thew dalam dialek Hakka. Deretan rumah kayu antik, ornamen Cina,
kaligrafi Han Zi, tempat pemujaan di depan rumah, dan klenteng pelindung desa
merupakan pemandangan eksotis berpadu dengan alam tropis Pulau Bangka. Deretan
rumah kayu antik, ornamen Tionghoa, kaligrafi Han Zi, tempat pemujaan di depan
rumah, dan klenteng pelindung desa merupakan pemandangan eksotis berpadu dengan
alam tropis Pulau Bangka.
Namun, perlahan
tapi pasti, generasi muda Kampung Gedong yang berpendidikan baik mulai
meninggalkan kampung halaman mereka. Yang unik adalah, kaum muda yang tersisa
kembali bekerja di tambang timah tradisional (kerap disebut Tambang
Inkonvensional atau TI-Red) mengikut jejak langkah nenek moyang mereka dengan
teknik yang kurang lebih sama.
Ada pula
kesenjangan antara masyarakat pendatang yang direkrut untuk bekerja di tambang
dan penduduk lokal. Politik pertambangan yang lebih banyak mempekerjakan
pendatang pada tingkat struktural perusahaan daripada masyarakat lokal
meninggalkan permasalahan etnisitas antara pendatang dan penduduk lokal.
Setelah
kedatangan etnis Cina, beberapa pendatang lain mulai mencari penghidupan di
Bangka Belitung. Karena Bangka Belitung terdiri atas gugusan pulau-pulau, maka
orang-orang Bugis dan Buton pun banyak berdatangan mencari penghidupan di
wilayah ini. Hingga saat ini, beberapa daerah di Bangka Belitung dikenal
sebagai daerah tempat tinggal keturunan orang-orang Bugis dan Buton, seperti di
Kampung Nelayan II di Sungailiat dan Desa Kuraudi Koba. Mereka bermata
pencaharian sebagai nelayan.
Akhir-akhir ini, orang-orang Jawa dan Madura pun
mulai berdatangan. Jika orang-orang Jawa banyak menjadi pedagang dan petani
dalam program transmigrasi (seperti di Desa Rias Toboali), orang Madura banyak
menjadi pedagang sate. Hingga saat ini tidak ada data konkrit dari BPS dan
Bapeda tentang jumlah dan komposisi etnis di Bangka Belitung. Hal itu
disebabkan jumlah pendatang yang datang dan pergi tidak melapor ke pihak
pemerintah setempat. Adapun penduduk Bangka Belitung yang terdiri dari: Melayu
(masyarakat yang telah menetap dalam limapuluh tahun terakhir) 60 persen, Cina
30 persen, dan sisanya terdiri dari etnik Jawa, Madura, Bugis, Buton,
Palembang, Batak, Aceh, Minang, dan Sunda. Beberapa di antaranya telah
melakukan perkawinan campuran dan menetap di Bangka Belitung.
Sumber PDF:
menarik ya.. sy generasi ketiga orang Chinese Bangka. tapi baru tahu sejarah ini. thanks
BalasHapus