Kamis, 17 September 2015

Biografi Afifuddin Lubis

SEBUAH BIOGRAFI DRS. H AFIFUDDIN LUBIS, M.Si
“DARI SEBUAH RUMAH TUA DI TEPI SAWAH”
Penulis: M. Aziz Rizki Lubis dan Putri Nurmawati
Merupakan Mahasiswa Ilmu Sejarah FIB USU stambuk 2012

"Jika ingin mengambil tulisan ini sebagai referensi, silahkan ijin dengan memberikan komentar, dan jangan di COPAS ya :)"

BAB 1
PENDAHULUAN





 PENDAHULUAN...
            Hidup di alam politik bukanlah sesuatu yang mudah. Gampang dilihat tetapi sulit dirasakan dan dijalankan, mungkin kata-kata ini cukup untuk menggambarkan keadaan tersebut. Namun ada seorang tokoh yang menganggap politik itu tidak ada yang hitam dan tidak ada yang putih, dia menganggap politik itu adalah abu-abu.
            Tidak gampang untuk bisa bertahan didalam dunia politik. Butuh ciri khas untuk mempertahankan itu. Afifuddin Lubis, mampu mempertahankan keeksisannya bahkan ketika iya sudah tua. Pengalamannya didalam dunia politik dan juga pengalamannya didunia kerja membuat iya jika digambarkan seperti lagu “Tua-tua keladi”.
            Di usia senjanya, iya tidak berhenti berkarya, iya tetap terus mendedikasikan dirinya untuk khalayak banyak. Kesulitan yang dialaminya di masa mudanya membuat dirinya menjadi kuat dan tegar dalam menjalani hidup. Prinsip hidup yang tidak pernah berubah, dan selalu memegang kejujuran mengantarkannya ke gerbang kesuksesan, baik dalam berkarir, maupun didalam keluarganya.
            Mungkin, jika waktu boleh lebih 24 jam, rasanya tetap tidak cukup bagi dirinya untuk mengurusi apa yang menjadi kesenangannya itu. Harta, dan tahta bukanlah cara dia memandang orang lain, sehingga iya sangat disenangi dan tak jarang menjadi contoh bagi sebahagian orang. Iyalah sosok inspiratif, yang bisa menggugah semangat kita agar terus berkarya dan melakukan apa yang kita bisa.         




   BAB 2
AWAL DARI SEBUAH CERITA

 Berawal Dari Rumah Tua di Tepi Sawah...
            Sebagai Sang Pencipta Allah telah menetapkan kepada kita beberapa hal yang tidak kita ketahui, namun saat kita akan diciptakan kita telah berjanji kepadaNya. Kehidupan dan rezeky merupakan bahagian dari ketetapan tersebut. Karena telah ditetapkan, maka kita tidak bisa mengubahnya.
            Afifuddin Lubis, atau Afis begitu iya disapa di lingkungan keluarga dilahirkan pada tanggal 22 Juni 1949 bertepatan dengan 25 ramadhan 1368 hijriah.  di sebuah rumah tua yang terletak didaerah Tombang Bustak, Kecamatan Kotanopan, sekarang berada dibawah Kabupaten Mandailin Natal, Provinsi Sumatera Utara.
            Afis lahir dari rahim seorang ibu yang bernama Aminah Koto, yang merupakan istri kedua dari H. Abdul Azis Lubis. Pada saat itu, di lingkungan adat Mandailing, tidak lengkap rasannya jika tidak memiliki anak laki-laki. Istri pertama dari H. Abdul Azis Lubis bernama Hj. Samsul Bahri Harahap yang telah melahirkan 7 orang perempuan dan 5 orang laki-laki, sedangkan Aminah Koto, ibunda dari Afifuddin Lubis hanya melahirkan beliau seorang saja.
            Ibunya, Aminah Koto merupakan seorang guru di SKPI (Sekolah Kepandaian Putri) yang setingkat dengan SMP dan kemudian meneruskannya sebagai pegawai pendidikan masyarakat di Kota Padang Sidempuan. Hj. Samsul Bahri Harahap, ibu dari istri ayahnya yang pertama hanyalah seorang ibu rumah tangga yang menyayangi suami semua anak-anaknya, termasuk Afifuddin sendiri.
            Jika di gabungkan secara keseluruhan, beliau merupakan anak ke 8 dari 14 bersaudara, dan merupakan anak laki-laki kedua dari 6 orang laki-laki keseluruhan. Meskipun ayahnya memiliki dua istri dan anak yang banyak, mereka tetap hidup rukun dan bahagia didalam satu rumah. Bahkan, hingga sekarang, silaturahmi yang sangat baik tetap berjalan dan terjalin dengan indah.
            Ayahnya H. Abdul Azis Lubis merupakan sosok ayah yang tegas serta religius yang mengutamakan pendidikan formal dan agama sebagai pegangan hidup. Ayahnya yang ketika masa mudanya menghabiskan waktu untuk bersekolah agama di Mukhatul Mukarammah di Mekah selama 12 tahun. Setelah menyelesaikan sekolah, ayahnya kembali ke Kotanopan dengan menyandang gelar Tuan Syekh.
            Ayahnya pulang kampung pada masa-masa ingin merdekanya bangsa Indonesia dari penjajahan. Kemudian ayahnya aktif di bidang politik dan organisasi-organisasi yang bertujuan untuk kemerdekaan. Ayahnya dikenal berani, hingga suatu saat beliaulah yang menyatakan kemerdekaan Indonesia dan mengibarkan Bendera merah Putih di halaman rumahnya. Karena beliau keturunan seorang raja, beliau mendapat gelar Sutan Porang.
            Ayahnya kemudian diangkat menjadi menjadi pamong Praja, dan terakhir ayahnya adalah Residen diperbentukan di Kantor Gurbernur Sumatera Utara. Setelah sebelumnya menjadi Bupati Tapanuli Selatan pada tahun 1954- 1959, dan kemudian berlanjut menjadi Bupati Asahan pada 1959 – 1962.

 Sekilas Ingatan Masa Kecil Hingga Remaja...
            Ketika afis kecil berumur 1 tahun, beliau dibawa ayah dan ibundanya pindah dari Kotanopan ke Kota Padang Sidempuan, hal ini disebabkan karena ayah beliau dipromosikan dari seorang Wedana Menjadi seorang Bupati. Dikota inilah afis kecil memulai masa kecilnya.
Afifuddin memulai pendidikannya disebuah taman kanak-kanak dan kemudian ketika beliau berumur 7 tahun, iya dimasukkan ke sekolah latihan SGA (Sekolah Guru Atas) yang kemudian berubah nama menjadi Sekolah Dasar Negeri No. 16 Padang Sidempuan pada tahun 1956 dan menamatkan sekolah dasarnya ditahun 1962.
            Sebagai salah seorang anak Bupati, pada tahun 1958 ketika pergolakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) juga terjadi di Padang Sidempuan dan sangat berpengaruh, keresahan dan ketidak nyamanan beliau dan keluarganya terganggu, hal ini disebabkan, ayahnya selaku Bupati, tidak mau menanda tangani persetujuan untuk bergabung ke PRRI. Sehingga mereka hampir setiap hari mendengar suara tembakkan, tidak kenal siang ataupun malam. Bahkan ketika Ayah, Ibu dan beberapa saudaranya melarikan diri ke Medan, harus dikawal oleh tentara pusat.
            Ketika SD, beliau memiliki kenangan manis yang hingga sekarang masih teringat di ingatannya. Pada saat kelas 5 SD, Afifuddin menjuarai lomba pidato tingkat SD dan Madrasah se-Kabupaten Tapanuli Selatan. Akan tetapi, prestasi akademik ketika lulus-lulusan yang didapatkannya tidak begitu sempurna, namun cukup untuk membuat kedua orang tuanya tersenyum lebar. Saat ujian kelulusan, hanya 3 pelajaran yang diujikan yakni Berhitung, Pengetahuan umum, dan Bahasa Indonesia. Afifuddin adalah satu diantara dua orang yang memiliki nilai 26 dengan nilai rata-rata 82.
            Sama seperti kebanyakan anak kecil lainnya, Afifddin juga senang bermain dengan teman-temannya, waktu sore hari mereka habiskan dengan bermain di sungai, berenang dan mandi bersama disungai yang terletak tidak jauh dari rumahnya.
            Setelah tamat di Sekolah Rakyat SGA tahun 1962, beliau melanjutkan sekolahnya di SMP Negeri 1 Kota Padang Sidempuan. Saat SMP, beliau menaiki sepeda untuk menuju ke sekolahnya tersebut. Meskipun, iya putra dari seorang mantan Bupati, hal ini tidak serta-merta membuatnya exclusive
Sepeda yang iya gunakan bahkan sepeda yang terjelek yang ada disekolahnya. Bahkan, ketika itu iya harus membantu ibunya menjual kue Klip-klop yang harus diantarkannya ke restoran-restoran hotel. Dia ingat betul dengan perjuangan ini, karena memang keadaan hidup saat itu sangat susah.
            “Saya mengantar kue tersebut ke restoran sentosa baru, mahalaya baru, dan sibual-buali setiap pagi, dan mengambilnya kembali pada sore hari dengan menggunakan sepeda butut yang setia menemani saya. Kue Klip-klop merupakan kue khas Eropa yang dimasak menggunakan cetakan, ibu saya sangat mahir membuat kue tersebut. Kegiatan mengantar kue tersebut saya lakukan hingga kelas 3 SMA”, Kenangnya.
            Di Sekolah Menengah Pertamanya, prestasi akademik afifuddin menurun, bahkan nilai akhir yang didapatnya anjlok. Hal ini disebabkan karena masa-masa pubertas yang sedang dihadapi sehingga beliau malas dan enggan untuk belajar. Namun demikian, beliau tetap menamatkan Sekolah Menengah Pertamanya pada tahun 1965.     
            Setelah tamat dari SMP, beliau melanjutkan sekolahnya di SMA Negeri 2 Padang Sidempuan pada tahun 1965. Kalau saat SD bakat pidatonya saja yang muncul, dan di SMP iya terlena dengan masa pubertas, di bangku SMA, bakat berpolitiknya mulai menonjol. Tercatat, ketika kelas 2 SMA, Afif yang telah remaja diangkat menjadi Ketua Persatuan Pelajar di SMA Negeri 2 Padang Sidempuan atau yang sekarang disebut dengan Ketua OSIS.
Disamping itu, beliau juga aktif di Persatuan Pelajar Islam Indonesia, dan pada saat kelas 3 SMA, beliau menjadi Wakil Ketua Persatuan Pelajar Islam Indonesia untuk wilayah Padang Sidempuan. Artinya, ketika duduk dibangku SMA-lah Afifuddin telah mengenal dan gemar dalam berpolitik.
            Saat SMA, beliau juga masih tetap mengantar kue Klip-klop yang menjadi andalan ibunya karena memang kue tersebut sangat jarang dijual dipasar karena sedikit orang yang bisa membuatnya. Namun, sepeda butut yang dulu setia menemaninya, kini tidak digunakan lagi. Iya pergi kesekolah dengan berjalan kaki.  
            Sebagai salah seorang anak dari mantan Bupati yang pernah memimpin di daerah tersebut, sangat tidak mudah memang jika dipandang dari segi psikologis diri jika Seorang anak mantan Bupati kini melakoni pekerjaan mengantar kue ke restoran dikota yang dahulunya dipimpin ayahnya tersebut.
            “Pada awalnya memang rasa malu-malu itu ada dan benar terjadi didalam diri saya, tetapi lama-kelamaan memudar dan telah menjadi terbiasa. Ditammbah lagi dengan kemampuan saya dalam berpolitik sehingga saya semakin lihai dalam berbicara ketika diberikan pertanyaan mengenai hal ini. Saya sering mengantar kue itu berdua dengan saudara saya yang bernama Tagor”, kenang Afifuddin dengan ekspresi wajah serius namun sedikit tersenyum.
            Prestasi akademik beliau yang menurun di masa SMP, kini mulai diperbaiki di masa-masa SMA. Nilai akademiknya semakin membaik sehingga pada tahun 1968 Afifuddin Lubis yang mulai dewasa itu menamatkan Sekolah Menengah Atasnya dengan predikat Baik.






 Masa-masa perkuliahan yang penuh dengan petualangan...
            Setelah menamatkan Sekolah Menengah Atasnya, Afifuddin memulai petualangannya dengan hijrah ke Kota Medan. Beliau tinggal bersama ibu tertuanya, Ibu Hj. Samsul Bahri Harahap di Jalan Intan No. 56, Kelurahan Sei Rengas II, Kecamatan Medan Area. Sementara ayahnya pada saat itu sedang berada di Kota Padang Sidempuan bersama ibu kandungnya serta saudara-saudarannya yang lain.
            Afifuddin kemudian melanjutkan studinya ke jenjang perguruan tinggi, iya mendaftar ke Universitas Sumatera Utara pada tahun itu juga. “Dahulu, sistem penerimaan mahasiswa tidak seperti sekarang. Dulu di tiap-tiap fakultas kita bisa mendaftar dan ikut ujian, kalau sekarang kan tidak begitu”, ucap beliau sambil tertawa.
            Beliau lulus di tiga fakultas sekaligus, yaitu Fakultas Pertanian, Fakultas Hukum, dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam atau yang sekarang dikenal dengan FMIPA (Fakultas Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam). Dari ketiga fakultas itu, yang menjadi pilihannya adalah Fakultas Hukum. Hal ini bukan tidak beralasan, iya lebih memili Fakultas Hukum karena sudah terlanjur “suka” dengan berpolitik.
            Ketika beliau telah masuk dan berkuliah di Fakultas Hukum tersebut, saat tingkat 1 sampai tingkat 2, dari 256 orang mahasiswa, dua diantaranya berhasil lulus bersih yang hanya menghadapi sekali ujian, dan satu di antara dua orang tersebut adalah Afifuddin sendiri.
            Karena iya sangat senang pada dunia perpolitikan, di Fakultas Hukum Afifuddin aktif di organisasi HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Iya menjadi Sekertaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Hukum. Iya meyakini bahwa kemampuannya dalam berpolitik diturunkan dari ayahnya yang juga lihai dalam berpolitik.
            Ketika di bangku perkuliahan, Afif  kembali menggunakan sepeda sebagai transportasinya berkuliah. Iya mengayuh sepedanya dari rumah orang tuanya di Jalan Intan, No. 56, sampai ke Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
            Namun ketika iya mulai menikmati perkuliahannya, keadaan ekonomi orang tuanya kurang baik, ditambah lagi banyak saudara-saudaranya yang juga masih duduk di bangku sekolah sehingga iya harus meninggalkan bangku perkuliahannya “ditengah jalan” pada tingkat ke 3.
            Karena ayah beliau yang seorang pamong praja, maka timbul niat didalam benak afifuddin untuk menjadi seorang pamong praja juga. Ketika APDN (Akademi Pemerintahan Dalam Negeri) Medan membuka kesempatan untuk mendaftar, beliau kemudian mendaftarkan diri ke APDN Medan pada tahun 1972.
            Alasan mendasar iya masuk ke Akademi Pemerintahan Dalam Negeri tersebut, disamping karena tidak dipungutnya biaya uang kuliah di kampus tersebut, iya juga mendapatkan uang saku atau didalam istilahnya uang tunjangan. Sehingga iya dapat meringankan beban dari orang tuannya.
            Ketika iya di APDN, iya terpaksa meninggalkan segala aktifitas keorganisasian yang diikutinya, sehingga iya harus meliburkan kegiatan berpolitiknya dan fokus kepada ilmu yang di ajarkan di APDN. Hal ini dikarenakan di Akademi yang di pelajarinya tidak diperbolehkan untuk mengikuti satu organisasi politik apapun, sehingga perjalanannya di HMI terhenti dan hanya sebatas pada tingkat komisariat saja.
            Di kampusnya ini, Afifuddin kemudian diangkat menjadi sekertaris senat, sedangkan ketua senatnya sendiri diduduki oleh Bapak R.E. Nainggolan. Afifuddin kemudian menamatkan sekolahnya di APDN pada tahun 1975 dengan nilai kelulusan rata-rata.



BAB 3
PENGABDIAN PANJANG SEORANG                                                                                  PAMONG PRAJA

 Awal Perjalanan Panjang Sang Pamong Praja...
            Setelah tamat dari APDN, Afifuddin sempat mengerjakan pekerjaan serabutan sembari menunggu panggilan kerja. Karena pemanggilan kerja dan pengangkatan pegawai lumayan lama, ia mengisi waktu kosongnya tersebut dengan bekerja menjadi seorang Mentelli beras di sebuah ekspedisi muatan kapal layar.
             Mentelli ini merupakan pekerjaan menghitung beras yang turun dari kapal-kapal pengankut beras. Pekerjaan ini ia lakoni selama 5 bulan, sampai tahun 1976. Jika dihitung-hitung, pendapatan yang didapatkannya per-hari pada saat itu setara dengan Rp 100.000,00 di masa sekarang.
            Setelah penantian yang lumayan lama, Afifuddin kemudian menjadi seorang pegawai dan ditempatkan di BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Provinsi Sumatera Utara. Ketika diangkat menjadi pegawai, ia telah menyandang gelar BA (Bathilor Of Art) atau sarjana muda.
            Tidak berapa lama ia menjadi pegawai di BAPPEDA, Afifuddin kemudian pindah menjadi pegawai di Kantor Camat Medan Timur. Selama 2 tahun ia mengabdi dan bekerja disana, sebelum akhirnya iya di angkat menjadi kepala kantor di Kecamatan Medan Deli atau sekarang disebut dengan Sekretaris Kecamatan. Ia menjabat posisi itu selama 1 tahun, tepatnya dari tahun 1979 hingga 1980.
            Karena Afifuddin sudah menjadi seorang pegawai, iya mendapatkan tugas belajar di tahun 1980, dan melanjutkan studinya di IIP (Institut Ilmu Pemerintahan) Jakarta. Karena ketertarikannya terhadap dunia politik sangatlah besar, pada kesempatan kali ini, beliau mengambil jurusan politik. Di institut ini, Afifuddin berhasil menyelesaikan tugasnya dan mendapat gelar “Drs” dengan nilai yang lumayan bagus di tahun 1982.
            Sangat banyak ilmu tentang perpolitikan yang didapatnya dari tugas ini. Sepulangnya dari IIP Jakarta, Afif yang semakin matangpun kembali bertugas di Pemerintahan Kota Medan. Awalnya ia menjadi asisten pribadi Walikota Medan, yang saat itu dijabat oleh Bapak Agus Salim Rangkuti.
            Hampir dua tahun lamanya ia menjadi seorang asisten pribadi walikota, di tahun 1984, beliau kemudian diangkat menjadi KaSuBag (Kepala Sub Bagian) Pengadaan pada Kesekertariatan Umum Kota Medan. Hanya setahun berselang ketika pengangkatannya menjadi seorang KaSuBag, pria tamatan APDN ini kemudian diangkat menjadi Camat Medan Belawan selama dua tahun, yaitu dari awal tahun 1985 hingga tahun 1986.
            Setelah menjadi Camat Medan Belawan di tahun 1985-1986, Afifuddin kemudian hijrah dan menjadi Camat di Kecamatan Medan Kota sejak terhitung tanggal 29 Desember 1986 dan berakhir sampai Juni 1990. Ternyata langkah Afifuddin tidak berhenti sampai disitu, karirnya kemudian terus meroket. Di tahun 1990-1992, beliau kemudian diangkat menjadi KaBag (Kepala Bagian) Umum Sekretariat Daerah Kota Medan.
            Petualangan karirnya terus berlanjut, tahun 1992 beliau menduduki jabatan KaBagTUPinTokJa (Kepala Bagian Tata Usaha Pimpinan dan Protokol perJalanan) atau sehari-hari sebagai kabag protokol pada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di masa Bapak Alm. Raja Inal Siregar.
Pada posisi jabatan ini, iya hanya menikmatinya dalam hitungan bulan saja, sebab ditahun yang sama, iya kembali lagi bekerja di Pemerintah Kota Medan menjadi Asisten Pemerintahan di masa kepemimpinan Bapak H. Bachtiar Djafar sampai tahun 1996.
            Ternyata, ditahun 1996, iya kembali ditarik oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, dan menjabat sebagai kepala badan penelitian bidang perencanaan pembangunan di BAPPEDASU  (Badan Perencanan Pembangunan Daerah Sumatera Utara) hingga tahun 1998.
            Ketika iya menjadi pejabat Eselon 3-A, ditahun 1998 hingga tahun 2001, beliau menjabat sebagai Kepala Biro Otonomi Daerah di Sekretariat Daerah  Provinsi Sumatera Utara. Tidak lama berselang penarikannya ke Pemerintah Provinsi, Afifuddin kemudian diangkat menjadi pejabat Eselon 2–B, dan tetap menjabat posisi Kepala Biro tersebut.
            Pengabdian sang pamong praja terhadap pelayanan masyarakat terus berlanjut, masih dilingkungan Pemerintah Provinsi, hampir di penghujung tahun 2002, iya kemudian diangkat menjadi Asisten Administrasi di Sekretariatan Daerah Provinsi Sumatera Utara, hingga bulan Desember tahun 2005.

 Sebagai Pilot, Copilot, dan Tehknisi dalam mengahadapi “Turbulensi” Pemerintahan...
            Tugas yang berat sedang menunggu Afifuddin ketika telah menjadi Pejabat Walikota Medan, karena iya sebenarnya merangkap 3 jabatan sekaligus. Beliau sebagai Pejabat Walikota yang tidak memiliki wakil dan tidak memiliki Sekertaris Daerah. Hal ini dikarenakan ketika sebelum iya dilantik, iya merupakan orang ke-3 di Kota Medan (Sekertaris Daerah), sehingga saat iya dilantik, iya memegang 3 jabatan sekaligus.
            Hal yang terberat dihadapinya ketika iya menjabat sebagai Pejabat Walikota adalah, ketika bagaimana iya harus menumbuhkan kembali semangat kerja bagi seluruh pegawai di Pemerintahan Kota Medan yang telah menurun, dan disebabkan karena munculnya permasalahan-permasalahan internal di tubuh PemKot Medan.
            Berbekal pengalaman yang selama ini iya miliki di bidang pemerintahan, iya tergolong sukses dalam menahkodai Kota Medan pada saat itu. Meskipun iya tidak banyak membuat kebijakan baru, dan lebih memilih meneruskan konsep pembangunan dari Walikota sebelumnya, namun iya sukses membuat Kota Medan kembali ke koridornya. Semangat bekerjapun berhasil iya tumbuhkan kembali dibawah pemerintahannya. Afifuddin kemudian turun dari jabatannya sebagai Pejabat Walikota Medan pada bulan Juli 2009, dan masih dibulan dan tahun yang sama, iya pensiun ketika berumur 60 tahun.  
 Pensiun Bukan Berarti Diam dan Tidak Berbuat...
        “Setelah saya pensiun dari pegawai negeri, saya aktif di berbagai organisasi. Ketika itu saya menjadi wakil ketua NU (Nahdlatul Ulama) Provinsi Sumatera Utara, dan juga saya menjadi wakil ketua pada Forum Pembauran Budaya Provinsi Sumatera Utara. Kemudian, sekitar tahun 2010, saya ditunjuk oleh Walikota Medan pada saat itu, menjadi Dewan Kota Medan, Bidang Pemerintahan.” Tutur Pria yang sekarang berumur 66 tahun ini.
            Pada bulan Maret 2015, berdasarkan rapat anggota yang  salah satu agendanya memilih ketua NU yang baru, maka didalam rapat tersebut, Afifuddin Lubis terpilih menjadi Ketua NU (Nahdlatul Ulama) menggantikan Bapak H. Ashari Tambunan yang meletakkan jabatannya sebagai Ketua, karena beliau terpilih menjadi Bupati Deli Serdang.
Kepribadianya yang santun dan ramah kepada orang, dan dengan segudang pengalaman luar biasa sebagai pamong praja yang iya miliki, iya tidak segan untuk membagi kepada siapa saja yang membutuhkan pemikiran dan pengalamannya.
Tidak jarang, meskipun iya sudah lama pensiun, namun tenaga dan fikirannya tetap diperlukan dalam pembangunan Kota Medan. Beliau sering di undang sebagai pembicara di lingkungan Pemerintah Kota Medan untuk memberikan motivasi kepada pegawai yang baru dan pegawai yang lama. Tidak heran juga kalau beliau juga menjadi tempat berdiskusi bagi kepala daerah yang ada di Provinsi Sumatera Utara ini.

BAB 4
ALLE BETREFENDE AFIFUDDIN

 Mengarungi Bahtera Rumah Tangga....
        Di awal-awal iya sebagai pegawai pemerintahan, Afifuddin berpacaran dengan Tety Nurwani yang merupakan seorang pegawai swasta. wanita idamannya itu masih terhitung famili dengannya (Boru Tulang sendiri). Iya kemudian menikahi wanita idamannya tersebut pada tahun 1976, ketika umurnya 27 tahun dan Ibu Tety Nurwani berumur 23 tahun.
            “Ketika di awal-awal pernikahan, saya sempat tinggal bersama ibu tertua saya di Jalan Intan selama hampir 9 tahun. Kemudian saya pindah dan mengontrak rumah di daerah Padang Bulan, di Jalan Pijer Podi. Di awal masa pernikahan, kehidupan saya sangat susah, rumah yang saya tempati hanya menggunakan lampu petromaks sebagai penerang diwaktu malam. Airnyapun masih menimba disumur.”, kenang beliau sambil tertawa kecil.
            Afifuddin kemudian pindah rumah ke Perumnas Helvettia pada tahun 1979. Sebagai seorang pegawai baru, iya menerima gaji sebesar Rp 26.500,00. Bahkan ketika iya ingin mengangsur rumah, iya harus mengurungkan niatnya karena gaji yang diterimanya tidak cukup untuk mengangsur rumah seharga Rp 30.000,00. Kehidupan yang sangat pas-pasan itu terbantu karena isteri tercintanya bekerja sebagai karyawan swasta.
        Ketika Afifuddin diangkat menjadi Camat Medan Belawan, istrinya berhenti bekerja sebagai karyawan swasta. Ini dikarenakan kesibukan Ibu Tety dalam mengurusi PKK di Kecamatan yang dipimpin Suaminya.
            Afifuddin memiliki dua orang anak dari hasil pernikahannya dengan Ibu Tety Nirwani. Anak yang pertama, seorang laki-laki bernama M. Iqbal Lubis, yang lahir di Medan, pada tahun 1977. Ucok, begitu sapaannya di lingkungan keluarga, bekerja sebagai anggota Tentara Nasional Indonesia di Kesatuan Angkatan Darat. Sekarang beliau bertugas di Komando Daerah Militer Iskandar Muda, Provinsi Nangroe Aceh Darusalam dengan pangkat Mayor Infanteri.
M. Iqbal Lubis menikah dengan Dr. Aulia Rosa Nasution yang berprofesi sebagai dosen di Fakultas Hukum disebuah perguruan tinggi di Jakarta. Dari hasil pernikahan anak pertamanya tersebut, Afifuddin Lubis mendapatkan seorang cucu laki-laki yang bernama M. Farzah Arshaf Lubis.
            Anak beliau yang kedua merupakan seorang perempuan, bernama Ineke Qomariyah yang lahir pada tahun 1983, di Medan. Dedek, begitu iya dipanggil di lingkungan keluarga, berprofesi sebagai staff pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara.
Dedek kemudian di persunting oleh M. Aulia Azmi Nasution yang bekerja di Pertamina. Dari hasil pernikahannya tersebut, Afifuddin mendapatkan dua orang cucu, yang kedua-duanya perempuan. Yang pertama bernama Karina Safira Nasution dan yang kedua bernama Hasya Samaira Nasution. Jadi Bapak Afifuddin memiliki 3 orang cucu yang sangat disayanginya.


 Pengalaman Dalam Berorganisasi...
        Sebagai orang yang menyukai politik, Afifuddin sangat senang berorganisasi. Menurutnya, sangat banyak manfaat yang didapatkan dari berorganisasi. pertama sebagai forum atau media untuk belajar, belajar terhadap cara berkomunikasi, membawa acara, belajar memimpin sidang, serta belajar berargumentasi secara sehat.
Pengalaman yang sangat menarik yang didapatnya dalam berorganisasi adalah ketika masa pemilihan terjadi. Segala macam bisa dilakukan oleh orang, ada intrik, ada rayu-merayu, dan ada juga ancaman. Disamping itu juga ada diskursus-diskursus yang sifatnya rasional.
Mungkin, secara sepintas pengalaman beliau dalam berorganisasi sudah diceritakan pada bagian sebelumnya. Karena pengalaman organisasi Afifuddin cukup banyak, jadi akan diceritakan secara sepintas pada bagian ini.
Ketika masa beliau masih aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia) tahun 1970, Afifuddin dan seorang adiknya, yang bernama Syahrudin Lubis, pernah ditahan dan dikurung selama 1 minggu lamanya oleh KODIM yang berada di depan lapangan Benteng. Jadi saat itu, PII mengadakan aksi demonstrasi anti judi, dan mereka menyebarkan selebaran-selebaran tentang anti judi, mereka dikatakan sebagai provokator pada saat itu.
Saat di dalam tahanan, beliau tidak melakukan apa-apa, selain berdiam dan hanya berbincang dengan teman seperjuangannya yang juga ikut ditahan. Pada saat kejadian tersebut, Afifuddin dan adiknya tidak memberitahu akan hal itu, namun orang tua mereka mengetahui dan menganggap hal itu sebagai hal yang biasa bagi orang-orang pergerakan. Di PII iya pernah mengikuti pelatihan basic training, pelatihan kader, serta berbagai aksi-aksi, dan di PII sendiri iya menjabat sebagai ketua PII Tapanuli Selatan.
Pada tahun 1983, Afif pernah menjabat sebagai ketua KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) Kota Medan, dan masa jabatannya berakhir pada tahun 1986. Di organisasi KNPI ini, iya sering mengadakan kemah pemuda, kemudain salam test untuk pemuda, mengadakan acara di hari-hari besar islam, mengadakan upacara dan juga lomba.
Afifuddin juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Partai Golkar Kota Medan, dan kemudian menjadi Sekretaris Dewan Pertimbangan Partai Golkar di Sumatera Utara. Dari tahun 2009 hingga sekarang, kini beliau aktif di organisasi NU (Nahdlatul Ulama) dan sekarang menjabat sebagai ketua NU Provinsi Sumatera Utara.







 Hobi, Falsafah Hidup, dan Kiat Sukses...
Untuk urusan Hobi, sebenarnya beliau tidak cocok jika mengklasifikasikan kesukaannya itu sebagai sebuah hobi. Beliau sangat suka dengan membaca. Tanpa membatasi bcaan, iya senang membaca semuanya. Akan tetapi, secara khusus beliau sangat senang dengan buku-buku agama, buku filsafat, organisasi, ekonomi pembangunan, politik serta manajemen.
Beliau memiliki alasan sendiri mengapa buku-buku tersebut sangat diminati oleh beliau. karena buku-buku tersebut, didalamnya terdapat falsafah-falsafah hidup, cara-cara perjuangan, dan semangat  yang terdapat juga didalamnya.
Didalam hidup ini, kita harus bersyukur. Bersyukur naik sepeda saat kuliah, lalu naik mobil dimasa sekarang. Menurut beliau, kunci sukses itu adalah kita berusaha, kita bekerja, kita berdo’a dan kita harus mensyukurinya. Jangan pernah melihat kekurangan dan kelemahan saja, apa yang kita dapat selalu syukuri.
Beliau mempunyai resep yang baik ketika menjadi seorang pemimpin yang baik. Sebenarnya kepemimpinan ini ditentukan oleh tipelogi orangnya, ada orang yang keras, ada orang yang suka membentak, tidak mungkin dipaksakan orang yang keras untuk membentak artinya harus dioptimalkan. Meskpin harus ada plus minusnya.
Artinya kepemimpinan yang mengayomi atau memberikan perintah? Kan beda keduanya itu. Kepemimpinan yang mengayomi mengambil keputusan itu susah karena terlalu banyak yang dipikirkan perasaan orang, kehidupan orang, tapi tidak banyak orang yang sakit hati.






BAB 5
AFIFUDDIN DIMATA ANAK, MANTAN STAFF SEKALIGUS SAHABAT, SERTA PENGAMAT POLITIK POPULER







 Ineke Qomariyah, SE, M.Si
( Putri Drs. H. Afifuddin Lubis, M.Si )
   Ayah adalah Seorang Yang Otoriter...
            Ayah saya itu merupakan panutan. Dalam hal ini baik dalam cara memandang hidup, berkarir, bersosialisasi, cara melihat orang lain yang bukan dari segi fisik, atau “siapa dia”, karena harta, pangkat ataupun kedudukannya. Tetapi ayah saya memandang sesama manusia itu lebih kepada nilai dan harus saling menghargai sesama manusia tanpa melihat latar belakang, kedudukan, pangkat ataupun materi sekalipun.
Jadi saya sangat mengidolakannya. Ayah saya adalah inspirasi bagi kehidupan saya, dari saya kecil hingga saya nanti tua, dan dalam berkarirpun seperti itu, menjadikan dorongan agar saya bisa berhasil bagaimana mencapai karir tertinggi di bidang keilmuwan saya. Walaupun itu tidak terlepas dari do’a dari orang tua maupun usaha saya sekuat mungkin, agar bagaimana bisa mencapai puncak karir seperti yang orang tua saya peroleh pada masa karirnya.
Saya sangat mendukung aktifitas sehari-hari serta karir orang tua saya, karena ayah saya itu merupakan tokoh di Kota Medan yang otomatis saya banggakan. Karena bisa berguna dan bermanfaat bagi orang banyak. Jadi ayah saya juga merupakan panutan bagi anak-anaknya, bagaimana bisa mencapai karir tertinggi selama dia berkarir. Kemudian bagaimana dia menghadapi tantangan, rintangan dalam berkarir, tentu kami semua sangat mendukung akan hal itu.
Ayah saya sangat mengutamakan pendidikan bagi anak-anaknya, karena pendidikan merupakan sesuatau yang tidak bisa dibeli, ilmu yang tidak bisa dibeli dengan apapun dan bermanfaat tentunya. Jadi orang tua saya mengajarkan kalau pendidikan itu bisa bermanfaat, bukan seperti harta ataupun yang lainnya, yang penting kita bisa sukses dengan pendidikan. Hal itu bisa dibuktikan dengan keadaan saya saat ini yang telah menjadi dosen dengan pendidikan Strata dua dan nanti mudah-mudahan bisa mencapai Strata tiga.
Ayah saya memang tidak pernah mem push atau mengarahkan anaknya harus berada didunia polotik, karena menurut ayah saya politik itu tidak ada yang hitam tidak ada yang putih, semuanya abu-abu. Jadi lebih baik anaknya memilih jalannya sendiri tetapi tetap diarahkan.
Sekarang ini saya mendalami bidang ilmu manajemen, manajemen itukan bisnis dan identik dengan enterprenieur, jadi ayah saya pernah bercerita, bagaimana kalau kamu mengambil pendidikan tetapi bisa berwirausaha. Misalnya suatu saat bisa membuka usaha tanpa terjun kedunia politik
Ayah saya sering melontarkan kata-kata “Hidup itu penuh dengan perjuangan, dengan kerja keras, tidak mudah untuk mendapatkannya dan tidak semua bisa dibeli dengan uang”, itu yang saya ingat. Kata-kata itulah yang terus memotivasi saya untuk terus berjuang dan berkarya.
Kemudian jangan pernah melewatkan momentum atau peluang, karena peluang itu tidak akan pernah datang untuk kedua kali. Ayah saya punya cara sendiri dalam menilai orang lain. Iya menilai orang lain bukan karena pangkat, kedudukan, materi ataupun karena “siapa dia”, tetapi beliau memandang semuanya sama, tanpa ada pembeda-beda dan jarak antara dirinya dengan orang lain, mau dia kaya ataupun miskin, itu semua sama saja, kalau bisa dibantu ya dibantu, hal inilah yang paling saya kagumi dari diri ayah saya.
Saya juga suka dengan semangat ayah saya untuk bekerja, untuk mengabdi, walaupun kita tahu bahwa dunia politik itukan keras, maksudnya yang tidak segampang orang lain fikirkan, dan dia juga berfikir secara visioner, jadi melihat kedepannya itu sangat bagus.
Ayah saya itu orangnya otoriter. Namun otoriter dalam hal yang positif menurut saya. Jadi tidak pernah dari kecil itu membiarkan anaknya untuk ria. Kalau misalnya temen saya yang dulu itu banyak anak pejabat, yang namannya anak pejabat itu fasilitasnyakan banyak, beda sama saya.
Saya anak walikotapun dulu kalau mau kerja cari sendiri, mau apa-apa cari sendiri, naik mobil setir sendiri, kebutuhan apapun harus sendiri, gak bisa memanfaatkan fasilitas itu. Dirumah juga seperti itu, kalau ngomong “A” ya harus “A” tapi itu bagus, karena lingkungan di Zaman sekarang inikan harus bisa memilih-milih, kalau tidakbisa terjerumus ke hal yang negatif.
Dalam memberikan perhatian, ayah saya itu membeda-bedakannya. Maksudnya, porsi perhatian antara anak laki-laki dengan anak perempuan itu berbeda. Kalau laki-laki perbedaannya karena dia laki-laki dan akan menjadi pemimpin jadi lebih di dorong agar dia bisa lebih maju kalau anak perempuan, diarahkan dan diberikan semangat juga,
Jadi ketika saya gagal, saya harus bangkit kembali. Tidak boleh terpuruk dan terhanyut dalam kegagalan itu. orang tua saya juga paling tidak suka dengan yang namannya bermalas-malasan. Karena memang saya tidak pernah melihat ayah saya itu malas, dia tetap bersemangat.
Kalau dengan cucu berbeda perlakuannya dengan saya. Kalau saya itu ke anak itu keras, karena saya ingin anak saya memang harus berhasil. Kalau ke cucu, karena mungkin masih kecil, waktunya itu lebih banyak dibandingkan waktu ke saya dulu.
Ayah sayakan dulu sibuk berkarir, pergi pagi, pulang malam, pergi seminggu tidak pernah bertemu. Jika ingin bertemu mesti buat janji untuk ketemuan ataupun via telfon, untuk berbicara saja susah saat itu. tetapi kalau ke cucunya sekarang pasti selalu ada waktu untuk bermain.
Harapan saya kepada ayah saya hany satu, beliau selalu diberi kesehatan, agar bisa melihat saya dan abang saya berhasil, dalam arti kata kamikan sedang menjalani karir kami, ya kami ingin ayah saya melihat kami berhasil. Karena memang motivator terbesar dalam hidup saya itu ya Ayah saya, karen asaya ingin sukses seperti beliau. Walaupun beda jalur antara politik dengan pendidikan.



.
 KABAG HUMAS SEKRETARIAT DPRD Kota Medan: Beliau Sering Bilang “Boleh Kencang Tapi Jangan Mendahului, Boleh Pintar Tapi jangan Menggurui, Boleh Tajam Tapi Jangan Menyakiti”...
            Saya mengenal beliau sejak tahun 2005, ketika itu iya menjadi Plt. Wali Kota saat pemilihan Walikota Medan. (kepemimpinan Pak Abdillah periode      ke-2) mulai dari situ saya sudah mengenal beliau, meskipun sebelumnya sudah banyak orang yang mengenal beliau, teman-teman saya juga sudah banyak melukiskan beliau ketika menjadi petugas di kota Medan.
            Menurut saya sosok pak Afif adalah pemimpin yang serba bisa untuk semua kalangan, baik itu yang tua maupun yang muda. Beliau bisa menjadi contoh karena ketokohannya dan kepintarannya dalam segala hal, sampai-sampai istilah kami itu, kalau dahulu itu istilahnya perpustakaan berjalan sekaramg google berjalan, Terang beliau(sambil tertawa).
Saya menyebut pak Afif itu mbah google, karena apa yang kita tanyakan itu tidak pernah tidak terjawab. Apakah itu pertanyaan kita yang terlalu mudah atau beliau yang sangat pintar, tapi kesimpulan saya beliau yang sangat pintar. Mungkin jika orang lain tau sedikit tentang yang banyak atau tau banyak tentang yang sedikit, tetapi Kalau pak Afif itu tau yang banyak dari yang banyak.
 Tentang apapun dia tau banyak, dan bisa sedalam-dalamnya kita dapatkan informasi yang kita butuhkan. Sosok seperti itu yang menyebabkan beliau diidolakan. Dari berbicara tentang agama,  kita bisa melompat kepolitik, bisa-bisa kehiburan kemudian melompat ke topik lain, dan bisa menyambunkannya lagi ke topik agama (topik semula). Bahkan ketika kami rapat dan beliau mendapat telefon dari orang yang diseganinya, rapat itu bisa langsung berjalan kembali tanpa bertanya sampai dimana kita tadi?, Dia langsung ke topik selanjutnya.
Pak Afif merupakan sosok yang istimewa menurut saya, karena dgaya kepimpinannya seperti menjadi bapak pengayom bagi kami semua. Kita tidak pernah melihat pak Afif marah. Selama beliau menjabat, saya hanya pernah mendengar beliau satu kali marah, namun saya tidak melihat kemarahan beliau secara langsung. Ketika itu ada rapat digedung  Dharma Wanita, disitu beliau sangat marah karena ada kepala dinas yang tidak ikut dalam upacara 17 Agustus.
Ketika itulah orang-orang baru mendengar beliau itu marah. Bahkan dari sebelum dan sampai menjadi Walikota beliau tidak pernah marah-marah, dan ketika itu pak Afif memang benar-benar marah karena beliau sangat menghargai perjuangan pahlawan kita, maka dari itu beliau sangat marah kepada orang yang tidak hadir pada acara 17 agustus tersebut. Pak Afif itu menurut saya orangnya juga negarawan.
Dari diri beliau tidak ada yang berubah, dari sebelum menjadi Walikota, sebelumnya Sekda ya bahkan setelah menjadi walikota lagi. Beliau itu orangnya low profile, bersahaja, dan tidak berlebihan. Bahkan beliau selama menjabat Walikota, tidak pernah pakai supir, bahkan kami sering bertanya, kenapa bapak tidak pakai supir? Beliau menjawab membiasakan diri saat kita sudah tidak ada jabatan..
Hal itulah yang saya sukai dari diri beliau. Hal yang tidak saya sukai dari diri beliau adalah, beliau itu orangnya tidak bisa marah, beliau tidak bisa menolak permohonan orang lain, sehingga dia terkesan tidak tegas. Nah, itulah yang menyebabkan beliau kadang-kadang tidak bisa memperhatikan waktunya lagi yang akhirnya terkuras untuk orang lain kesana kemari-kesana kemari.
Beliau tidak lagi memperhatikan kesehatannya meskipun kita ketahui kalau beliau belum pernah sakit, mungkin karena beliau silaturrahminya bagus, mungkin itu yang dijanjikan oleh Allah bagi orang yang suka bersilaturrahim akan diberikan kesehatan.
Perlakuan beliau Kesesama pegawai, beliau seperti kebapak-an dalam memimpin dan semua pegawai tidak merasa tertekan karena dia tidak suka marah-marah , dia itu bukan pejabat yang suka marah, kan ada pejabat yang suka marah-marah karena ketidaktahuannya, jadi untuk menutupi kekurangannya dia marah tetapi kalau pak Afif itu tidak perlu marah, justru dia tertawa melihat kesalahan tersebut.
 Pak Afif itu orangnya sangat teliti. Jadi pernah satu kali, cerita di Direktorat Jenderal, ini ketika dia sudah tidak menjabat lagi menjadi wali kota. tetapi kami ini mau mengadakan rapat Idul Adha pemotongan kurban. Jadi kepala Direktorat itu berbicara kepada kami, tolong buatkan dulu surat dan dalam satu surat itu ada 4 tujuan yang intinya sama namun tujuannya berbeda.
 saya pernah  di tes oleh pak Afif, dia bilang, “Eh ini coba di cek dulu adidnda”. Surat ini waktu itu pak direktorat ( Farid Wajedi ) ini sebagai Asisten, kalo tidak salah saya ketika pak Afif menjabat wali kota. Ketika pak Afif , beliau asisten yang menangani masalah kurban. Jadi pak Afif meminta dia membawakan surat untuk konsep acara kurban, secara seremonial mungkin Ustad.
 Oh iya (yang menaandatangani pak Afif) terus pak Afif membaca, kemudian dia berkata “coba dibaca dulu dari atas ke bawah”, apa sudah benar ini...? sudah pak, di jawab beliau. Dibaca lah lagi! Kemudian dibaca lagi terus-menerus, coba baca sekali lagi. Ternyata memang ada kesalahan, tujuannya di buat pak farid itu, kepada  ketua DPRD  untuk menyembelih kurban padahalkan tidak itu tugas pak Ketua DPRD, bukan itu maksudnya tapi maksudnya adalah turut mengundang. Nah itulah telitinya pak Afif, dari “A” sampai “Z” semua, titik-koma semua diperhatikan, ya itulah beliau.
Kalau sistem saat iya memimpin, iya hanya meneruskan sistem terdahulu, dan tidak merubah sistem yangh ada. Tetapi saya fikir, karena Pak Afif sudah lama berkecimpung di pemerintahan, sebelum jadi Walikota, Pak Afif juga sebagai pejabat di Pemerintah Kota medan. jadi pak Afif sudah mengenal semuanya, sehingga tidak ada kesulitan bagi beliau. Dia teruskan sistem, dan tidak merubah, dan membuat semuannya menjadi sahabatnya.
 Beliau tidak pernah menekan pegawai. Beliau tidak pernah berubah, karena beliau sudeh lama berada di pemerintahan sehingga dia hampir mengenal semua jabatan, sehingga beliau tidak merasa kesulitan beliau tidak pernah membeda-bedakan, semua di anggappnya sebagai seorang teman. Yang sebaya dia buat teman yang muda dia buat sebagai adiknya. makanya dia selalu menggunakan kata-kata adinda, ananda.
Banyak hal yang bisa saya pelajari dari sosok pak Afif , dan yang bisa saya terapkan pada kehidupan saya sehari-hari. Beliau itu orangnya selalu menyenangkan hati orang lain. Ucapan-ucapannya, ungkapan-ungkapannya yang keluar dari mulutnya selalu menyenangkan orang. ketika orang lain bercerita dengan beliau dan beliau tau permasalahannya, beliau mampu untuk mengekspresikan kalau beliau tidak tahu.
Misalnya, kita bercerita pada beliau, “tadi saya gini-gini” padahal beliau sudah tahu, tetapi beliau tidak pernah bilang, “ah udah tau aku!”, tetapi iya bilang, oh begitu? Langsung dia berikan tanggapan dan solusi, semua yang dikatakan meskipun itu pegawai rendahan tetapi beliau tetap mendengarnya. Nah jadi disitu kita dapat menyimpulkan bahwa pak Afif suka mendengarkan orang lain. Kepribadiannya itu suka menyenangkan orang.
Kondisi pemerintahan Kota Medan, seperti yang kita kutip pada istilah beliau, pemerintahan saat itu sedang “Turbulance”. Pejabat teras saat itu tersandung kasus hukum, jadi beliau sebagai orang ke 3 saat itu merangkap menjadi orang pertama, kedua, dan ketiga.
Kondisi saat itu sangat terpuruk, pegawai mengalami penurunan semangat, dan pak Afif mampu merangkul kembali pegawai sehingga pembangunan tetap berjalan, dan pegawai-pegawai bisa dibangkitkan lagi semangatnya.
Kita tahu pak Afif juga sampai saat ini selalu menjadi “guru” untuk kepala daerah-kepala daerah, saya tahu itu, ada Bupati Madina, Walikota Medan sendiri, tetap meminta semacam pendapat-pendapat. Jadi menurut kami, pak Afif ini tidak hanya tokoh di Kota Medan, tetapi tokoh di Sumatera Utara, dan mungkin bisa meng-Indonesia jika ada yang meng-eksplore.
Ada banyak kata-kata yang sering di ucapkan Pak Afif untuk pegawai, beliau pernah mengajarkan kepada kami yaitu “Boleh Kencang Tapi Jangan Mendahului, Boleh Pintar Tapi jangan Menggurui, Boleh Tajam Tapi Jangan Menyakiti”, itulah kata-kata yang di ajarkan beliau kepada kami. Itulah pegangan untuk kami, dan itu memang ada pada diri beliau sendiri.








 Drs. Wara Sinuhaji, M.Hum
( Pengamat Sosial Politik Sumatera Utara)
   Afifuddin Itu Orang Jujur, Selama saya jadi pengamat, pemerintahannyalah yang tidak Pernah saya kritisi...
            Saya face to face kenal sama dia setelah dia menjadi pelkasana Walikota, tetapi dia sebagai pamong praja sudah lama sekali saya tau namanya. Karir puncaknya itukan ketika dia menjadi SEKDA di awal-awal pemerintahan periode kedua. Dari situ mulai secara efektif saya kenal, face to face itu saya kenal di kampus ini dan dia ternyata adalah salah satu ipar dari sahabat saya, kami sama-sama staf ahli rektor saat itu, namanya  bang Ucok Dalimunthe.
            Saya berteman dengan syaidina hamzah Dalimunthe, maka face to face itu pertama berkenalan ketika acara perkawinan salah satu anak bang Syaidina Hamzah Dalimunthe, saat itu dia ada, lantas saya diperkenalkan bang Ucok itu sama dia, terus hubungan emosional yang tumbuh  semacam dekat. Pelukan, cipika-cipiki dengan bang Afifudin itu.
            Disitulah saya pertama kenal dengan dia dan saya lihatpun penampilan dia low profile, sederhana, tidak sombong, Mengenakkanlah kalau berdampingan dengan bang Afifudin itu. Hubungan saya pribadi sama dia sampai sekarang dekat, akrab, itulah bang Afifudin itu tadi. Dia kan sekarang duduk di Dewan Kota dan aktif di NU.
            Awalnya kan, Walikota Medan dipimpin oleh bapak Abdillah, periode kedua bapak Abdillah berpasangan dengan Ramli, kalau saya tidak salah Sekda-nya sudah Afifudin Lubis. Kemudian ada insiden yang terjadi pasca Abdillah dan Ramli terpilih menjadi Walikota.
Terjadi Vacum Of Power, Vacum of Power terjadi di tatanan pemerintahan Kota Medan. Menteri Dalam Negeri kemudian melalui Gubernur mengangkat Afiffudin yang awalnya menjadi Sekda, kemudian diangkat menjadi Plt. Walikota Medan selama satu tahun.
            Kalau saya melihat, Afifudin menjadi Plt. Walikota Medan itu bebannya berat. Kenapa saya bilang bebannya berat? Karena dia menggantikan Walikota yang memang selama ini kebjijakan-kebijakannya dianggap populis di Kota Madiya Medan ini. sehingga seolah-olah apapun yang dilakukan Afifudin sebagai Walikota tidak kelihatan. Inilah konsekuensi atau resikonya ketika kita menggantikan orang yang populis. Apalagi saya tahu betul, Afiffudin Lubis sebagai pelaksana walikota, orangnya itu Low Profile, mengakomodir semua kepentingan orang banyak, dan juga dia dekat dengan siapapun. Bahkan dengan saya, kalau kami jumpa dia memperlakukan saya itu seolah-olah antara abang dan adik, jadi pelaksanaan pemerintahanpun disini adem-adem aja.
            selama 1 tahun pemerintahannya tidak pernah terdengar hal-hal yang negatif, tetapi permasalahannya kan kenapa cuman satu tahun. Kan begitu. Berarti dia inikan orang jujur. Orang barangkali untuk menjadi pelaksana walikota mau mengeluarkan uang banyak.
Dia tidak, jadi artinya dia menjadi pelaksana Walikota itu bersih dari isu-isu. Bahkan ada indikasi kenapa dia tidak bertahan menjadi pelaksana walikota sehingga ketika ia menjadi walikota dia hanya baru strart sehingga saat pemilihan walikota, isu-isu yang seperti yang saya katakan tadi tidak ada lagi. Nah,  itulah bang Afifudin.
Kemudian ketika dia tidak menjadi pelaksana walikota lagi pemikiran-pemikiran dia sampai saat inipun masih tetap dipergunakan ole pemerintah kota medan. sebagai salah satu buktinya dia menjadi dewan kota. Artinya orang-orang yang duduk di dewan kota itu dibutuhkan pemikiran-pemikirannya untuk membangun kota medan.
Sebenarnya saya antara dekat dan tidak dekat dengan beliau, saya adalah orang yang kritis terhadap Pemerintah Kota Madiya Medan, seingat saya ketika dia menjabat sebagai walikota medan, saya barangkali tidak pernah melakukan kritik pada masa pemerintahan dia.
Karena memang saya merasa dia tidak ada yang perlu saya kritik tentang  pemerintahan  yang dijalankannya di kota medan. tidak ada, jadi makanya selama satu tahun betul-betul kondusif kondisi tatanan di Kota Madya Medan selama dibawah pemerintahannya.
            Mungkin jika dia ikut pemilihan walikota medan kembali. dia bisa saja terpilih terpilih, padahal dia dianggap kapabel karena dia sangat berpengalaman dalam menata pemerintahan. Mulai dari muda dia kan tamatan APDN itu, lalu berkecimpung dia di tatanan pemerintahan, makanya dia syarat akan pengalaman. Orang-orang seperti dia ini sebenarnya layak menjabat Walikota tetapi kan kondisi politik kekinian tidak menguntungkan terhadap eksisitensi dirinya padahal dari segi kemapmuan dia cukup mempuni.
            Keadaan kota medan ini luar biasa perkembangannya, ya berkembang maju, di masa walikota Abdillah. Makanya ketika masa Afiffuddin, apapun yang dia bikin tidak dilihat oleh masyarakat itu. karena sulit. Mindset masyarakat itu dipengaruhi oleh kepemimpinan abdilah.
            Untuk merubah mindset masyarakat yang selama ini sudah terpengaruh dengan apa yang sudah dibuat oleh Abdilah, itu susah. Sehingga seolah-olah sebenarnya apapun yang dibuat oleh Afifudin Lubis itu tidak kelihatan. Padahal sebenarnya kesinambungan itu dilanjutkan sama Afifudin selama satu tahun.
            Apa yang diperbuat, kebijakan-kebijakan apa yang selama ini dibuat oleh Abdilah-Ramli itu dilanjutkan oleh Afifudin. Sehingga seolah-seolah yang diperbuat dia itu tetap dianggap oleh masyarakat Medan ini merupakan bagian daripada apa yang dibuat oleh abdilah-ramli, itu semua juga sudah dilakukan Afifudin Lubis.
           





BAB 6
       PENUTUP DARI CERITA MANIS







 KESIMPULAN...
        Berdasarkan penelitian dan hasil wawancara dengan beberapa sumber, dan telah kami kemukakan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat diambil beberapa kesimpulan seperti berikut.
Afifuddin Lubis, lahir pada tanggal 22 Juni 1949 bertepatan dengan 25 ramadhan 1368 hijriah. Iya di lahirkan di sebuah rumah tua yang terletak didaerah Tombang Bustak, Kecamatan Kotanopan, sekarang berada dibawah Kabupaten Mandailin Natal, Provinsi Sumatera Utara.
Di lingkungan keluarga, iya di panggil dengan nama Afis. Ibunya bernama Aminah Koto, yang merupakan Istri kedua dari H. Abdul Azis Lubis, yang pada saat itu sangat menginginkan keturunan laki-laki. Ibu tertuanya bernama Hj. Samsul Bahri Harahap. Meskipun iya memiliki dua orang ibu, tetapi iya tidak pernah merasakan kurangnya kasih sayang. Kasih sayang selalu didapatkannya dari kedua ibunya dan juga ayahnya.
Afifuddin menghabiskan masa kecilnya di Kota Padang sidempuan, karena pada saat itu ayahnya di promosikan dari seorang wedana menjadi seorang Bupati. Pendidikan agama sudah melekat pada dirinya sejak iya kecil, karena ayahnya juga merupakan seorang alim ulama yang bersekolah di Makatul Mukarromah, ibu tertuanya juga seorang guru mengaji.
Seperti anak-anak pada umunya, iya senang bermain di sungai. Bermain dan berenang bersama teman-teman sebayanya pada saat itu. sebelum berumur 7 tahun, Afifuddin kecil di masukkan ke taman kanak-kanak yang ada di sekitar lingkungan rumahnya.. kemudian ketika berumur 7 tahun, iya disekolah kan di sekolah latihan SGA (Sekolah Guru Atas) yang kemudian berubah nama menjadi Sekolah Dasar Negeri No. 16 Padang Sidempuan pada tahun 1956 dan menamatkan sekolah dasarnya ditahun 1962.
Beliau kemudian melanjutkan sekolahnya di SMP Negeri 1 Kota Padang Sidempuan, sejak tahun 1962, dan menamatkannya tahun 1965. Pada saat SMP, prestasi akademiknya anjlok, iya mengakui karena pada saat itu sedang menjalani proses masa pubertasnya.
Setelah tamat dari SMP Negeri 1, iya melanjutkan sekolahnya ke SMA Negeri 2 Padang Sidempuan. Disini, bakat berpolitiknya mulai terlihat, iya menjadi ketua OSIS pada saat itu disekolahnya, dan bergabung pada organisasi Pelajar Islam Indonesia, dan menjadi Ketua PII di Kota Padang Sidempuan. Iya tamat pada tahun 1968.
Setelah iya tamat SMA, Afifuddin hijrah ke Medan, dan tinggal bersama ibu tertuanya. Iya kemudian mendaftar di Universitas Sumatera Utara, dan mendaftar di 3 fakultas sekaligus. Tetapi karena ketertarikannya terhadap politik, membuat dia memilih Fakultas Hukum sebagai tujuan akhir.
Namun, mimpi Afifuddin kandas, ketika di tengah jalan perkuliahan, iya harus berhenti, karena kesulitas ekonomi yang dialami keluarganya. Namun, hal itu tidak membuatnya patah semangat. Iya berniat mengikuti jejak ayahya menjadi seorang pamong praja. Iya kemudian mendaftar di APDN (Akademi Pemerintahan Dalam Negeri) Medan. iya berhasil lulus dari APDN pada tahun 1975, dengan nilai kelulusan rata-rata.
Setelah lulus, iya sempat menganggur dan bekerja serabutan menjadi seorang Telli atau orang yang menghitung beras dari gudang kapal pengangkut beras. Iya kemudian di angkat menjadi pegawai, Mula-mula di BAPPEDA (Badan Perencana Pembangunan Daerah) Kota medan. kemudian iya melanjutkan studinya di IIP (Institut Ilmu Pemerintahan) Jakarta, dan berhasil meraih gelar “Drs”.
Afifuddin kemudian kembali bekerja di Kota Medan, berbagai tempat dan jenis pekerjaan pun sudah dilaluinya, baik itu di Pemerintah Kota Medan, ataupun di Pmerintah Provinsi Sumatera Utara, sehingga banyak pengalaman yang iya dapatkan dari petulangannya saat itu. karir tertinggi yang diraihnya adalah ketika iya menjadi Sekda Kota medan, dan kemudian iya di angkat sebagai Pejabat Walikota Medan pada tahun 2008. Iya pensiun pada bulan juli 2009 saat berumur 60 tahun.
Iya kemudian aktif di organisasi, seperti NU yang sekarang iya menjabat sebagai Ketua di Provinsi Sumatera Utara. Namun sebelumnya, iya sudah lama berkecimpung di berbagai organisasi, seperti HMI, Golkar, KNPI, dan PII.
Afifuddin Menikah dengan Istrinya, Tety Nirwani, ketika iya berumur 27 tahun. Masa-masa sulit di awal pernikahannya mampu di tutupi oleh istrinya yang saat itu juga bekerja sebagai karyawan suwasta. Dari hasil pernikahannya tersebut, iya dikarunia sepasang anak yang sekarang telah berhasil.
Anak pertamanya bernama M. Iqbal Lubis, dan yang kedua bernama Ineke Qomariyah Lubis. Anaknya yang pertama bekerja sebagai Tentara nasional Indonesia, yang sekarang bertugas di KODAM Iskandar Muda, dengan Pankat Mayor.
Anak keduannya kini bekerja sebagai staff pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Dari kedua anaknya tersebut iya di berikan 3 orang cucu, 1 orang laki-laki dan 2 orang perempuan yang begitu sangat iya sayangi.
             Di masa tuanya, yang kini telah berumur 66 tahun, iya tidak berhenti untuk memberikan sumbangsihnya kepada khalayak banyak. Afifuddin masih aktif di Pemko Medan sebagai Dewan Kota Medan bidang Pemerintahan, dan juga sebagai Ketua Nahdlatul Ulama Provinsi Sumatera Utara.



1 komentar:

  1. Ceritanya sangat bagus, menginspirasi dan penuh perjuangan untuk meraih kesuksesan. Bapak Afifuddin Lubis adalah sosok yang sederhana,santun, mudah menyesuaikan diri dan sangat mampu memahami orang lain serta memiliki segudang pengalaman hidup yang patut kita contoh oleh kaum muda masa kini.

    BalasHapus