SEBUAH
BIOGRAFI DRS. H AFIFUDDIN LUBIS, M.Si
“DARI SEBUAH RUMAH TUA DI TEPI
SAWAH”
Penulis: M. Aziz Rizki Lubis dan Putri Nurmawati
Merupakan Mahasiswa Ilmu Sejarah FIB USU stambuk 2012
"Jika ingin mengambil tulisan ini sebagai referensi, silahkan ijin dengan memberikan komentar, dan jangan di COPAS ya :)"
BAB 1
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN...
Hidup di alam politik bukanlah
sesuatu yang mudah. Gampang dilihat tetapi sulit dirasakan dan dijalankan,
mungkin kata-kata ini cukup untuk menggambarkan keadaan tersebut. Namun ada
seorang tokoh yang menganggap politik itu tidak ada yang hitam dan tidak ada
yang putih, dia menganggap politik itu adalah abu-abu.
Tidak gampang untuk bisa bertahan
didalam dunia politik. Butuh ciri khas untuk mempertahankan itu. Afifuddin
Lubis, mampu mempertahankan keeksisannya bahkan ketika iya sudah tua.
Pengalamannya didalam dunia politik dan juga pengalamannya didunia kerja
membuat iya jika digambarkan seperti lagu “Tua-tua keladi”.
Di usia senjanya, iya tidak berhenti
berkarya, iya tetap terus mendedikasikan dirinya untuk khalayak banyak.
Kesulitan yang dialaminya di masa mudanya membuat dirinya menjadi kuat dan
tegar dalam menjalani hidup. Prinsip hidup yang tidak pernah berubah, dan
selalu memegang kejujuran mengantarkannya ke gerbang kesuksesan, baik dalam
berkarir, maupun didalam keluarganya.
Mungkin, jika waktu boleh lebih 24
jam, rasanya tetap tidak cukup bagi dirinya untuk mengurusi apa yang menjadi
kesenangannya itu. Harta, dan tahta bukanlah cara dia memandang orang lain,
sehingga iya sangat disenangi dan tak jarang menjadi contoh bagi sebahagian
orang. Iyalah sosok inspiratif, yang bisa menggugah semangat kita agar terus
berkarya dan melakukan apa yang kita bisa.
BAB 2
AWAL
DARI SEBUAH CERITA
Berawal
Dari Rumah Tua di Tepi Sawah...
Sebagai Sang Pencipta Allah telah
menetapkan kepada kita beberapa hal yang tidak kita ketahui, namun saat kita
akan diciptakan kita telah berjanji kepadaNya. Kehidupan dan rezeky merupakan
bahagian dari ketetapan tersebut. Karena telah ditetapkan, maka kita tidak bisa
mengubahnya.
Afifuddin Lubis, atau Afis begitu
iya disapa di lingkungan keluarga dilahirkan pada tanggal 22 Juni
1949 bertepatan dengan 25 ramadhan 1368 hijriah. di sebuah rumah tua yang terletak didaerah
Tombang Bustak, Kecamatan Kotanopan, sekarang berada dibawah Kabupaten
Mandailin Natal, Provinsi Sumatera Utara.
Afis lahir dari rahim seorang ibu
yang bernama Aminah Koto, yang merupakan istri kedua dari H. Abdul Azis Lubis.
Pada saat itu, di lingkungan adat Mandailing, tidak lengkap rasannya jika tidak
memiliki anak laki-laki. Istri pertama dari H. Abdul Azis Lubis bernama Hj.
Samsul Bahri Harahap yang telah melahirkan 7 orang perempuan dan 5 orang
laki-laki, sedangkan Aminah Koto, ibunda dari Afifuddin Lubis hanya melahirkan
beliau seorang saja.
Ibunya, Aminah Koto merupakan
seorang guru di SKPI (Sekolah Kepandaian Putri) yang setingkat dengan SMP dan
kemudian meneruskannya sebagai pegawai pendidikan masyarakat di Kota Padang
Sidempuan. Hj. Samsul Bahri Harahap, ibu dari istri ayahnya yang pertama
hanyalah seorang ibu rumah tangga yang menyayangi suami semua anak-anaknya,
termasuk Afifuddin sendiri.
Jika di gabungkan secara
keseluruhan, beliau merupakan anak ke 8 dari 14 bersaudara, dan merupakan anak
laki-laki kedua dari 6 orang laki-laki keseluruhan. Meskipun ayahnya memiliki
dua istri dan anak yang banyak, mereka tetap hidup rukun dan bahagia didalam
satu rumah. Bahkan, hingga sekarang, silaturahmi yang sangat baik tetap
berjalan dan terjalin dengan indah.
Ayahnya H. Abdul Azis Lubis
merupakan sosok ayah yang tegas serta religius yang mengutamakan pendidikan
formal dan agama sebagai pegangan hidup. Ayahnya yang ketika masa mudanya
menghabiskan waktu untuk bersekolah agama di Mukhatul Mukarammah di Mekah
selama 12 tahun. Setelah menyelesaikan sekolah, ayahnya kembali ke Kotanopan
dengan menyandang gelar Tuan Syekh.
Ayahnya pulang kampung pada
masa-masa ingin merdekanya bangsa Indonesia dari penjajahan. Kemudian ayahnya
aktif di bidang politik dan organisasi-organisasi yang bertujuan untuk
kemerdekaan. Ayahnya dikenal berani, hingga suatu saat beliaulah yang
menyatakan kemerdekaan Indonesia dan mengibarkan Bendera merah Putih di halaman
rumahnya. Karena beliau keturunan seorang raja, beliau mendapat gelar Sutan
Porang.
Ayahnya kemudian diangkat menjadi menjadi
pamong Praja, dan terakhir ayahnya adalah Residen diperbentukan di Kantor
Gurbernur Sumatera Utara. Setelah sebelumnya menjadi Bupati Tapanuli Selatan
pada tahun 1954- 1959, dan kemudian berlanjut menjadi Bupati Asahan pada 1959 –
1962.
Sekilas Ingatan Masa Kecil Hingga Remaja...
Ketika afis kecil berumur 1 tahun,
beliau dibawa ayah dan ibundanya pindah dari Kotanopan ke Kota Padang
Sidempuan, hal ini disebabkan karena ayah beliau dipromosikan dari seorang
Wedana Menjadi seorang Bupati. Dikota inilah afis kecil memulai masa kecilnya.
Afifuddin
memulai pendidikannya disebuah taman kanak-kanak dan kemudian ketika beliau
berumur 7 tahun, iya dimasukkan ke sekolah latihan SGA (Sekolah Guru Atas) yang
kemudian berubah nama menjadi Sekolah Dasar Negeri No. 16 Padang Sidempuan pada
tahun 1956 dan menamatkan sekolah dasarnya ditahun 1962.
Sebagai salah seorang anak Bupati,
pada tahun 1958 ketika pergolakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik
Indonesia) juga terjadi di Padang Sidempuan dan sangat berpengaruh, keresahan
dan ketidak nyamanan beliau dan keluarganya terganggu, hal ini disebabkan,
ayahnya selaku Bupati, tidak mau menanda tangani persetujuan untuk bergabung ke
PRRI. Sehingga mereka hampir setiap hari mendengar suara tembakkan, tidak kenal
siang ataupun malam. Bahkan ketika Ayah, Ibu dan beberapa saudaranya melarikan
diri ke Medan, harus dikawal oleh tentara pusat.
Ketika SD, beliau memiliki kenangan
manis yang hingga sekarang masih teringat di ingatannya. Pada saat kelas 5 SD,
Afifuddin menjuarai lomba pidato tingkat SD dan Madrasah se-Kabupaten Tapanuli
Selatan. Akan tetapi, prestasi akademik ketika lulus-lulusan yang didapatkannya
tidak begitu sempurna, namun cukup untuk membuat kedua orang tuanya tersenyum
lebar. Saat ujian kelulusan, hanya 3 pelajaran yang diujikan yakni Berhitung,
Pengetahuan umum, dan Bahasa Indonesia. Afifuddin adalah satu diantara dua
orang yang memiliki nilai 26 dengan nilai rata-rata 82.
Sama seperti kebanyakan anak kecil
lainnya, Afifddin juga senang bermain dengan teman-temannya, waktu sore hari
mereka habiskan dengan bermain di sungai, berenang dan mandi bersama disungai
yang terletak tidak jauh dari rumahnya.
Setelah tamat di Sekolah Rakyat SGA
tahun 1962, beliau melanjutkan sekolahnya di SMP Negeri 1 Kota Padang
Sidempuan. Saat SMP, beliau menaiki sepeda untuk menuju ke sekolahnya tersebut.
Meskipun, iya putra dari seorang mantan Bupati, hal ini tidak serta-merta
membuatnya exclusive.
Sepeda
yang iya gunakan bahkan sepeda yang terjelek yang ada disekolahnya. Bahkan,
ketika itu iya harus membantu ibunya menjual kue Klip-klop yang harus diantarkannya ke restoran-restoran hotel. Dia
ingat betul dengan perjuangan ini, karena memang keadaan hidup saat itu sangat
susah.
“Saya mengantar kue tersebut ke
restoran sentosa baru, mahalaya baru, dan sibual-buali setiap pagi, dan
mengambilnya kembali pada sore hari dengan menggunakan sepeda butut yang setia
menemani saya. Kue Klip-klop
merupakan kue khas Eropa yang dimasak menggunakan cetakan, ibu saya sangat
mahir membuat kue tersebut. Kegiatan mengantar kue tersebut saya lakukan hingga
kelas 3 SMA”, Kenangnya.
Di Sekolah Menengah Pertamanya,
prestasi akademik afifuddin menurun, bahkan nilai akhir yang didapatnya anjlok.
Hal ini disebabkan karena masa-masa pubertas yang sedang dihadapi sehingga
beliau malas dan enggan untuk belajar. Namun demikian, beliau tetap menamatkan
Sekolah Menengah Pertamanya pada tahun 1965.
Setelah tamat dari SMP, beliau
melanjutkan sekolahnya di SMA Negeri 2 Padang Sidempuan pada tahun 1965. Kalau
saat SD bakat pidatonya saja yang muncul, dan di SMP iya terlena dengan masa
pubertas, di bangku SMA, bakat berpolitiknya mulai menonjol. Tercatat, ketika
kelas 2 SMA, Afif yang telah remaja diangkat menjadi Ketua Persatuan Pelajar di
SMA Negeri 2 Padang Sidempuan atau yang sekarang disebut dengan Ketua OSIS.
Disamping
itu, beliau juga aktif di Persatuan Pelajar Islam Indonesia, dan pada saat
kelas 3 SMA, beliau menjadi Wakil Ketua Persatuan Pelajar Islam Indonesia untuk
wilayah Padang Sidempuan. Artinya, ketika duduk dibangku SMA-lah Afifuddin
telah mengenal dan gemar dalam berpolitik.
Saat SMA, beliau juga masih tetap
mengantar kue Klip-klop yang menjadi
andalan ibunya karena memang kue tersebut sangat jarang dijual dipasar karena
sedikit orang yang bisa membuatnya. Namun, sepeda butut yang dulu setia
menemaninya, kini tidak digunakan lagi. Iya pergi kesekolah dengan berjalan
kaki.
Sebagai salah seorang anak dari
mantan Bupati yang pernah memimpin di daerah tersebut, sangat tidak mudah
memang jika dipandang dari segi psikologis diri jika Seorang anak mantan Bupati
kini melakoni pekerjaan mengantar kue ke restoran dikota yang dahulunya
dipimpin ayahnya tersebut.
“Pada awalnya memang rasa malu-malu
itu ada dan benar terjadi didalam diri saya, tetapi lama-kelamaan memudar dan
telah menjadi terbiasa. Ditammbah lagi dengan kemampuan saya dalam berpolitik
sehingga saya semakin lihai dalam berbicara ketika diberikan pertanyaan
mengenai hal ini. Saya sering mengantar kue itu berdua dengan saudara saya yang
bernama Tagor”, kenang Afifuddin dengan ekspresi wajah serius namun sedikit
tersenyum.
Prestasi akademik beliau yang
menurun di masa SMP, kini mulai diperbaiki di masa-masa SMA. Nilai akademiknya
semakin membaik sehingga pada tahun 1968 Afifuddin Lubis yang mulai dewasa itu
menamatkan Sekolah Menengah Atasnya dengan predikat Baik.
Masa-masa
perkuliahan yang penuh dengan petualangan...
Setelah menamatkan Sekolah Menengah
Atasnya, Afifuddin memulai petualangannya dengan hijrah ke Kota Medan. Beliau
tinggal bersama ibu tertuanya, Ibu Hj. Samsul Bahri Harahap di Jalan Intan No.
56, Kelurahan Sei Rengas II, Kecamatan Medan Area. Sementara ayahnya pada saat
itu sedang berada di Kota Padang Sidempuan bersama ibu kandungnya serta
saudara-saudarannya yang lain.
Afifuddin kemudian melanjutkan studinya
ke jenjang perguruan tinggi, iya mendaftar ke Universitas Sumatera Utara pada
tahun itu juga. “Dahulu, sistem penerimaan mahasiswa tidak seperti sekarang.
Dulu di tiap-tiap fakultas kita bisa mendaftar dan ikut ujian, kalau sekarang
kan tidak begitu”, ucap beliau sambil tertawa.
Beliau lulus di tiga fakultas
sekaligus, yaitu Fakultas Pertanian, Fakultas Hukum, dan Fakultas Ilmu Pasti
dan Ilmu Alam atau yang sekarang dikenal dengan FMIPA (Fakultas Matematika,
Ilmu Pengetahuan Alam). Dari ketiga fakultas itu, yang menjadi pilihannya
adalah Fakultas Hukum. Hal ini bukan tidak beralasan, iya lebih memili Fakultas
Hukum karena sudah terlanjur “suka” dengan berpolitik.
Ketika beliau telah masuk dan
berkuliah di Fakultas Hukum tersebut, saat tingkat 1 sampai tingkat 2, dari 256
orang mahasiswa, dua diantaranya berhasil lulus bersih yang hanya menghadapi
sekali ujian, dan satu di antara dua orang tersebut adalah Afifuddin sendiri.
Karena iya sangat senang pada dunia
perpolitikan, di Fakultas Hukum Afifuddin aktif di organisasi HMI (Himpunan
Mahasiswa Islam). Iya menjadi Sekertaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam
Komisariat Fakultas Hukum. Iya meyakini bahwa kemampuannya dalam berpolitik
diturunkan dari ayahnya yang juga lihai dalam berpolitik.
Ketika di bangku perkuliahan, Afif kembali menggunakan sepeda sebagai
transportasinya berkuliah. Iya mengayuh sepedanya dari rumah orang tuanya di
Jalan Intan, No. 56, sampai ke Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Namun ketika iya mulai menikmati
perkuliahannya, keadaan ekonomi orang tuanya kurang baik, ditambah lagi banyak
saudara-saudaranya yang juga masih duduk di bangku sekolah sehingga iya harus
meninggalkan bangku perkuliahannya “ditengah jalan” pada tingkat ke 3.
Karena ayah beliau yang seorang
pamong praja, maka timbul niat didalam benak afifuddin untuk menjadi seorang
pamong praja juga. Ketika APDN (Akademi Pemerintahan Dalam Negeri) Medan membuka
kesempatan untuk mendaftar, beliau kemudian mendaftarkan diri ke APDN Medan
pada tahun 1972.
Alasan mendasar iya masuk ke Akademi
Pemerintahan Dalam Negeri tersebut, disamping karena tidak dipungutnya biaya
uang kuliah di kampus tersebut, iya juga mendapatkan uang saku atau didalam
istilahnya uang tunjangan. Sehingga iya dapat meringankan beban dari orang
tuannya.
Ketika iya di APDN, iya terpaksa
meninggalkan segala aktifitas keorganisasian yang diikutinya, sehingga iya
harus meliburkan kegiatan berpolitiknya dan fokus kepada ilmu yang di ajarkan
di APDN. Hal ini dikarenakan di Akademi yang di pelajarinya tidak diperbolehkan
untuk mengikuti satu organisasi politik apapun, sehingga perjalanannya di HMI
terhenti dan hanya sebatas pada tingkat komisariat saja.
Di kampusnya ini, Afifuddin kemudian
diangkat menjadi sekertaris senat, sedangkan ketua senatnya sendiri diduduki
oleh Bapak R.E. Nainggolan. Afifuddin kemudian menamatkan sekolahnya di APDN
pada tahun 1975 dengan nilai kelulusan rata-rata.
BAB 3
PENGABDIAN
PANJANG SEORANG
PAMONG PRAJA
Awal Perjalanan Panjang Sang Pamong Praja...
Setelah tamat dari APDN, Afifuddin
sempat mengerjakan pekerjaan serabutan sembari menunggu panggilan kerja. Karena
pemanggilan kerja dan pengangkatan pegawai lumayan lama, ia mengisi waktu
kosongnya tersebut dengan bekerja menjadi seorang Mentelli beras di sebuah ekspedisi muatan kapal layar.
Mentelli
ini merupakan pekerjaan menghitung beras yang turun dari kapal-kapal pengankut
beras. Pekerjaan ini ia lakoni selama 5 bulan, sampai tahun 1976. Jika
dihitung-hitung, pendapatan yang didapatkannya per-hari pada saat itu setara
dengan Rp 100.000,00 di masa sekarang.
Setelah penantian yang lumayan lama,
Afifuddin kemudian menjadi seorang pegawai dan ditempatkan di BAPPEDA (Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah) Provinsi Sumatera Utara. Ketika diangkat menjadi
pegawai, ia telah menyandang gelar BA (Bathilor
Of Art) atau sarjana muda.
Tidak berapa lama ia menjadi pegawai
di BAPPEDA, Afifuddin kemudian pindah menjadi pegawai di Kantor Camat Medan
Timur. Selama 2 tahun ia mengabdi dan bekerja disana, sebelum akhirnya iya di
angkat menjadi kepala kantor di Kecamatan Medan Deli atau sekarang disebut
dengan Sekretaris Kecamatan. Ia menjabat posisi itu selama 1 tahun, tepatnya
dari tahun 1979 hingga 1980.
Karena Afifuddin sudah menjadi
seorang pegawai, iya mendapatkan tugas belajar di tahun 1980, dan melanjutkan
studinya di IIP (Institut Ilmu Pemerintahan) Jakarta. Karena ketertarikannya
terhadap dunia politik sangatlah besar, pada kesempatan kali ini, beliau
mengambil jurusan politik. Di institut ini, Afifuddin berhasil menyelesaikan
tugasnya dan mendapat gelar “Drs” dengan nilai yang lumayan bagus di tahun
1982.
Sangat banyak ilmu tentang
perpolitikan yang didapatnya dari tugas ini. Sepulangnya dari IIP Jakarta, Afif
yang semakin matangpun kembali bertugas di Pemerintahan Kota Medan. Awalnya ia
menjadi asisten pribadi Walikota Medan, yang saat itu dijabat oleh Bapak Agus
Salim Rangkuti.
Hampir dua tahun lamanya ia menjadi
seorang asisten pribadi walikota, di tahun 1984, beliau kemudian diangkat
menjadi KaSuBag (Kepala Sub Bagian) Pengadaan pada Kesekertariatan Umum Kota
Medan. Hanya setahun berselang ketika pengangkatannya menjadi seorang KaSuBag,
pria tamatan APDN ini kemudian diangkat menjadi Camat Medan Belawan selama dua
tahun, yaitu dari awal tahun 1985 hingga tahun 1986.
Setelah menjadi Camat Medan Belawan
di tahun 1985-1986, Afifuddin kemudian hijrah dan menjadi Camat di Kecamatan
Medan Kota sejak terhitung tanggal 29 Desember 1986 dan berakhir sampai Juni
1990. Ternyata langkah Afifuddin tidak berhenti sampai disitu, karirnya
kemudian terus meroket. Di tahun 1990-1992, beliau kemudian diangkat menjadi
KaBag (Kepala Bagian) Umum Sekretariat Daerah Kota Medan.
Petualangan karirnya terus
berlanjut, tahun 1992 beliau menduduki jabatan KaBagTUPinTokJa (Kepala Bagian
Tata Usaha Pimpinan dan Protokol perJalanan) atau sehari-hari sebagai kabag
protokol pada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di masa Bapak Alm. Raja Inal
Siregar.
Pada
posisi jabatan ini, iya hanya menikmatinya dalam hitungan bulan saja, sebab
ditahun yang sama, iya kembali lagi bekerja di Pemerintah Kota Medan menjadi
Asisten Pemerintahan di masa kepemimpinan Bapak H. Bachtiar Djafar sampai tahun
1996.
Ternyata, ditahun 1996, iya kembali
ditarik oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, dan menjabat sebagai kepala
badan penelitian bidang perencanaan pembangunan di BAPPEDASU (Badan Perencanan Pembangunan Daerah Sumatera
Utara) hingga tahun 1998.
Ketika iya menjadi pejabat Eselon
3-A, ditahun 1998 hingga tahun 2001, beliau menjabat sebagai Kepala Biro
Otonomi Daerah di Sekretariat Daerah
Provinsi Sumatera Utara. Tidak lama berselang penarikannya ke Pemerintah
Provinsi, Afifuddin kemudian diangkat menjadi pejabat Eselon 2–B, dan tetap
menjabat posisi Kepala Biro tersebut.
Pengabdian sang pamong praja
terhadap pelayanan masyarakat terus berlanjut, masih dilingkungan Pemerintah Provinsi,
hampir di penghujung tahun 2002, iya kemudian diangkat menjadi Asisten
Administrasi di Sekretariatan Daerah Provinsi Sumatera Utara, hingga bulan
Desember tahun 2005.
Sebagai
Pilot, Copilot, dan Tehknisi dalam mengahadapi “Turbulensi” Pemerintahan...
Tugas yang berat sedang menunggu
Afifuddin ketika telah menjadi Pejabat Walikota Medan, karena iya sebenarnya
merangkap 3 jabatan sekaligus. Beliau sebagai Pejabat Walikota yang tidak
memiliki wakil dan tidak memiliki Sekertaris Daerah. Hal ini dikarenakan ketika
sebelum iya dilantik, iya merupakan orang ke-3 di Kota Medan (Sekertaris
Daerah), sehingga saat iya dilantik, iya memegang 3 jabatan sekaligus.
Hal yang terberat dihadapinya ketika
iya menjabat sebagai Pejabat Walikota adalah, ketika bagaimana iya harus menumbuhkan
kembali semangat kerja bagi seluruh pegawai di Pemerintahan Kota Medan yang
telah menurun, dan disebabkan karena munculnya permasalahan-permasalahan
internal di tubuh PemKot Medan.
Berbekal pengalaman yang selama ini
iya miliki di bidang pemerintahan, iya tergolong sukses dalam menahkodai Kota
Medan pada saat itu. Meskipun iya tidak banyak membuat kebijakan baru, dan
lebih memilih meneruskan konsep pembangunan dari Walikota sebelumnya, namun iya
sukses membuat Kota Medan kembali ke koridornya. Semangat bekerjapun berhasil
iya tumbuhkan kembali dibawah pemerintahannya. Afifuddin kemudian turun dari
jabatannya sebagai Pejabat Walikota Medan pada bulan Juli 2009, dan masih
dibulan dan tahun yang sama, iya pensiun ketika berumur 60 tahun.
Pensiun
Bukan Berarti Diam dan Tidak Berbuat...
“Setelah
saya pensiun dari pegawai negeri, saya aktif di berbagai organisasi. Ketika itu
saya menjadi wakil ketua NU (Nahdlatul Ulama) Provinsi Sumatera Utara, dan juga
saya menjadi wakil ketua pada Forum Pembauran Budaya Provinsi Sumatera Utara.
Kemudian, sekitar tahun 2010, saya ditunjuk oleh Walikota Medan pada saat itu,
menjadi Dewan Kota Medan, Bidang Pemerintahan.” Tutur Pria yang sekarang
berumur 66 tahun ini.
Pada bulan Maret 2015, berdasarkan
rapat anggota yang salah satu agendanya
memilih ketua NU yang baru, maka didalam rapat tersebut, Afifuddin Lubis
terpilih menjadi Ketua NU (Nahdlatul Ulama) menggantikan Bapak H. Ashari
Tambunan yang meletakkan jabatannya sebagai Ketua, karena beliau terpilih
menjadi Bupati Deli Serdang.
Kepribadianya yang
santun dan ramah kepada orang, dan dengan segudang pengalaman luar biasa
sebagai pamong praja yang iya miliki, iya tidak segan untuk membagi kepada
siapa saja yang membutuhkan pemikiran dan pengalamannya.
Tidak jarang, meskipun
iya sudah lama pensiun, namun tenaga dan fikirannya tetap diperlukan dalam
pembangunan Kota Medan. Beliau sering di undang sebagai pembicara di lingkungan
Pemerintah Kota Medan untuk memberikan motivasi kepada pegawai yang baru dan
pegawai yang lama. Tidak heran juga kalau beliau juga menjadi tempat berdiskusi
bagi kepala daerah yang ada di Provinsi Sumatera Utara ini.
BAB 4
ALLE BETREFENDE AFIFUDDIN
Mengarungi
Bahtera Rumah Tangga....
Di awal-awal iya sebagai pegawai
pemerintahan, Afifuddin berpacaran dengan Tety Nurwani yang merupakan seorang
pegawai swasta. wanita idamannya itu masih terhitung famili dengannya (Boru
Tulang sendiri). Iya kemudian menikahi wanita idamannya tersebut pada tahun 1976,
ketika umurnya 27 tahun dan Ibu Tety Nurwani berumur 23 tahun.
“Ketika di awal-awal pernikahan,
saya sempat tinggal bersama ibu tertua saya di Jalan Intan selama hampir 9
tahun. Kemudian saya pindah dan mengontrak rumah di daerah Padang Bulan, di
Jalan Pijer Podi. Di awal masa pernikahan, kehidupan saya sangat susah, rumah
yang saya tempati hanya menggunakan lampu petromaks sebagai penerang diwaktu
malam. Airnyapun masih menimba disumur.”, kenang beliau sambil tertawa kecil.
Afifuddin kemudian pindah rumah ke
Perumnas Helvettia pada tahun 1979. Sebagai seorang pegawai baru, iya menerima
gaji sebesar Rp 26.500,00. Bahkan ketika iya ingin mengangsur rumah, iya harus
mengurungkan niatnya karena gaji yang diterimanya tidak cukup untuk mengangsur
rumah seharga Rp 30.000,00. Kehidupan yang sangat pas-pasan itu terbantu karena
isteri tercintanya bekerja sebagai karyawan swasta.
Ketika
Afifuddin diangkat menjadi Camat Medan Belawan, istrinya berhenti bekerja
sebagai karyawan swasta. Ini dikarenakan kesibukan Ibu Tety dalam mengurusi PKK
di Kecamatan yang dipimpin Suaminya.
Afifuddin memiliki dua orang anak
dari hasil pernikahannya dengan Ibu Tety Nirwani. Anak yang pertama, seorang
laki-laki bernama M. Iqbal Lubis, yang lahir di Medan, pada tahun 1977. Ucok,
begitu sapaannya di lingkungan keluarga, bekerja sebagai anggota Tentara
Nasional Indonesia di Kesatuan Angkatan Darat. Sekarang beliau bertugas di
Komando Daerah Militer Iskandar Muda, Provinsi Nangroe Aceh Darusalam dengan
pangkat Mayor Infanteri.
M.
Iqbal Lubis menikah dengan Dr. Aulia Rosa Nasution yang berprofesi sebagai
dosen di Fakultas Hukum disebuah perguruan tinggi di Jakarta. Dari hasil
pernikahan anak pertamanya tersebut, Afifuddin Lubis mendapatkan seorang cucu
laki-laki yang bernama M. Farzah Arshaf Lubis.
Anak beliau yang kedua merupakan
seorang perempuan, bernama Ineke Qomariyah yang lahir pada tahun 1983, di
Medan. Dedek, begitu iya dipanggil di lingkungan keluarga, berprofesi sebagai
staff pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara.
Dedek
kemudian di persunting oleh M. Aulia Azmi Nasution yang bekerja di
Pertamina. Dari hasil pernikahannya tersebut, Afifuddin mendapatkan dua orang
cucu, yang kedua-duanya perempuan. Yang pertama bernama Karina Safira Nasution
dan yang kedua bernama Hasya Samaira Nasution. Jadi Bapak Afifuddin memiliki 3
orang cucu yang sangat disayanginya.
Pengalaman
Dalam Berorganisasi...
Sebagai
orang yang menyukai politik, Afifuddin sangat senang berorganisasi. Menurutnya,
sangat banyak manfaat yang didapatkan dari berorganisasi. pertama
sebagai forum atau media untuk belajar, belajar terhadap cara berkomunikasi,
membawa acara, belajar memimpin sidang, serta belajar berargumentasi secara
sehat.
Pengalaman
yang sangat menarik yang didapatnya dalam berorganisasi adalah ketika masa
pemilihan terjadi. Segala macam bisa dilakukan oleh orang, ada intrik, ada
rayu-merayu, dan ada juga ancaman. Disamping itu juga ada diskursus-diskursus
yang sifatnya rasional.
Mungkin,
secara sepintas pengalaman beliau dalam berorganisasi sudah diceritakan pada
bagian sebelumnya. Karena pengalaman organisasi Afifuddin cukup banyak, jadi
akan diceritakan secara sepintas pada bagian ini.
Ketika
masa beliau masih aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia) tahun 1970, Afifuddin
dan seorang adiknya, yang bernama Syahrudin Lubis, pernah ditahan dan dikurung
selama 1 minggu lamanya oleh KODIM yang berada di depan lapangan Benteng. Jadi
saat itu, PII mengadakan aksi demonstrasi anti judi, dan mereka menyebarkan
selebaran-selebaran tentang anti judi, mereka dikatakan sebagai provokator pada
saat itu.
Saat di
dalam tahanan, beliau tidak melakukan apa-apa, selain berdiam dan hanya
berbincang dengan teman seperjuangannya yang juga ikut ditahan. Pada saat
kejadian tersebut, Afifuddin dan adiknya tidak memberitahu akan hal itu, namun
orang tua mereka mengetahui dan menganggap hal itu sebagai hal yang biasa bagi
orang-orang pergerakan. Di PII iya pernah mengikuti pelatihan basic training, pelatihan kader, serta
berbagai aksi-aksi, dan di PII sendiri iya menjabat sebagai ketua PII Tapanuli
Selatan.
Pada
tahun 1983, Afif pernah menjabat sebagai ketua KNPI (Komite Nasional Pemuda
Indonesia) Kota Medan, dan masa jabatannya berakhir pada tahun 1986. Di
organisasi KNPI ini, iya sering mengadakan kemah pemuda, kemudain salam test
untuk pemuda, mengadakan acara di hari-hari besar islam, mengadakan upacara dan
juga lomba.
Afifuddin
juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Partai Golkar Kota Medan, dan kemudian
menjadi Sekretaris Dewan Pertimbangan Partai Golkar di Sumatera Utara. Dari
tahun 2009 hingga sekarang, kini beliau aktif di organisasi NU (Nahdlatul
Ulama) dan sekarang menjabat sebagai ketua NU Provinsi Sumatera Utara.
Hobi,
Falsafah Hidup, dan Kiat Sukses...
Untuk
urusan Hobi, sebenarnya beliau tidak cocok jika mengklasifikasikan kesukaannya
itu sebagai sebuah hobi. Beliau sangat suka dengan membaca. Tanpa membatasi
bcaan, iya senang membaca semuanya. Akan tetapi, secara khusus beliau sangat
senang dengan buku-buku agama, buku filsafat, organisasi, ekonomi pembangunan,
politik serta manajemen.
Beliau
memiliki alasan sendiri mengapa buku-buku tersebut sangat diminati oleh beliau.
karena buku-buku tersebut, didalamnya terdapat falsafah-falsafah hidup,
cara-cara perjuangan, dan semangat yang
terdapat juga didalamnya.
Didalam
hidup ini, kita harus bersyukur. Bersyukur naik sepeda saat kuliah, lalu naik
mobil dimasa sekarang. Menurut beliau, kunci sukses itu adalah kita berusaha,
kita bekerja, kita berdo’a dan kita harus mensyukurinya. Jangan pernah melihat
kekurangan dan kelemahan saja, apa yang kita dapat selalu syukuri.
Beliau
mempunyai resep yang baik ketika menjadi seorang pemimpin yang baik. Sebenarnya
kepemimpinan ini ditentukan oleh tipelogi orangnya, ada orang yang keras, ada
orang yang suka membentak, tidak mungkin dipaksakan orang yang keras untuk
membentak artinya harus dioptimalkan. Meskpin harus ada plus minusnya.
Artinya
kepemimpinan yang mengayomi atau memberikan perintah? Kan beda keduanya itu.
Kepemimpinan yang mengayomi mengambil keputusan itu susah karena terlalu banyak
yang dipikirkan perasaan orang, kehidupan orang, tapi tidak banyak orang yang
sakit hati.
BAB 5
AFIFUDDIN
DIMATA ANAK, MANTAN STAFF SEKALIGUS SAHABAT, SERTA PENGAMAT POLITIK POPULER
Ineke Qomariyah, SE, M.Si
(
Putri Drs. H. Afifuddin Lubis, M.Si )
Ayah adalah Seorang Yang
Otoriter...
Ayah
saya itu merupakan panutan. Dalam hal ini baik dalam cara memandang hidup,
berkarir, bersosialisasi, cara melihat orang lain yang bukan dari segi fisik,
atau “siapa dia”, karena harta, pangkat ataupun kedudukannya. Tetapi ayah saya
memandang sesama manusia itu lebih kepada nilai dan harus saling menghargai
sesama manusia tanpa melihat latar belakang, kedudukan, pangkat ataupun materi
sekalipun.
Jadi
saya sangat mengidolakannya. Ayah saya adalah inspirasi bagi kehidupan saya,
dari saya kecil hingga saya nanti tua, dan dalam berkarirpun seperti itu,
menjadikan dorongan agar saya bisa berhasil bagaimana mencapai karir tertinggi
di bidang keilmuwan saya. Walaupun itu tidak terlepas dari do’a dari orang tua
maupun usaha saya sekuat mungkin, agar bagaimana bisa mencapai puncak karir
seperti yang orang tua saya peroleh pada masa karirnya.
Saya
sangat mendukung aktifitas sehari-hari serta karir orang tua saya, karena ayah
saya itu merupakan tokoh di Kota Medan yang otomatis saya banggakan. Karena
bisa berguna dan bermanfaat bagi orang banyak. Jadi ayah saya juga merupakan
panutan bagi anak-anaknya, bagaimana bisa mencapai karir tertinggi selama dia
berkarir. Kemudian bagaimana dia menghadapi tantangan, rintangan dalam
berkarir, tentu kami semua sangat mendukung akan hal itu.
Ayah
saya sangat mengutamakan pendidikan bagi anak-anaknya, karena pendidikan
merupakan sesuatau yang tidak bisa dibeli, ilmu yang tidak bisa dibeli dengan
apapun dan bermanfaat tentunya. Jadi orang tua saya mengajarkan kalau
pendidikan itu bisa bermanfaat, bukan seperti harta ataupun yang lainnya, yang
penting kita bisa sukses dengan pendidikan. Hal itu bisa dibuktikan dengan
keadaan saya saat ini yang telah menjadi dosen dengan pendidikan Strata dua dan
nanti mudah-mudahan bisa mencapai Strata tiga.
Ayah
saya memang tidak pernah mem push
atau mengarahkan anaknya harus berada didunia polotik, karena menurut ayah saya
politik itu tidak ada yang hitam tidak ada yang putih, semuanya abu-abu. Jadi
lebih baik anaknya memilih jalannya sendiri tetapi tetap diarahkan.
Sekarang
ini saya mendalami bidang ilmu manajemen, manajemen itukan bisnis dan identik
dengan enterprenieur, jadi ayah saya pernah bercerita, bagaimana kalau kamu
mengambil pendidikan tetapi bisa berwirausaha. Misalnya suatu saat bisa membuka
usaha tanpa terjun kedunia politik
Ayah
saya sering melontarkan kata-kata “Hidup itu penuh dengan perjuangan, dengan
kerja keras, tidak mudah untuk mendapatkannya dan tidak semua bisa dibeli
dengan uang”, itu yang saya ingat. Kata-kata itulah yang terus memotivasi saya
untuk terus berjuang dan berkarya.
Kemudian
jangan pernah melewatkan momentum atau peluang, karena peluang itu tidak akan
pernah datang untuk kedua kali. Ayah saya punya cara sendiri dalam menilai
orang lain. Iya menilai orang lain bukan karena pangkat, kedudukan, materi
ataupun karena “siapa dia”, tetapi beliau memandang semuanya sama, tanpa ada
pembeda-beda dan jarak antara dirinya dengan orang lain, mau dia kaya ataupun
miskin, itu semua sama saja, kalau bisa dibantu ya dibantu, hal inilah yang
paling saya kagumi dari diri ayah saya.
Saya
juga suka dengan semangat ayah saya untuk bekerja, untuk mengabdi, walaupun
kita tahu bahwa dunia politik itukan keras, maksudnya yang tidak segampang
orang lain fikirkan, dan dia juga berfikir secara visioner, jadi melihat
kedepannya itu sangat bagus.
Ayah
saya itu orangnya otoriter. Namun otoriter dalam hal yang positif menurut saya.
Jadi tidak pernah dari kecil itu membiarkan anaknya untuk ria. Kalau misalnya
temen saya yang dulu itu banyak anak pejabat, yang namannya anak pejabat itu
fasilitasnyakan banyak, beda sama saya.
Saya
anak walikotapun dulu kalau mau kerja cari sendiri, mau apa-apa cari sendiri,
naik mobil setir sendiri, kebutuhan apapun harus sendiri, gak bisa memanfaatkan
fasilitas itu. Dirumah juga seperti itu, kalau ngomong “A” ya harus “A” tapi
itu bagus, karena lingkungan di Zaman sekarang inikan harus bisa memilih-milih,
kalau tidakbisa terjerumus ke hal yang negatif.
Dalam
memberikan perhatian, ayah saya itu membeda-bedakannya. Maksudnya, porsi
perhatian antara anak laki-laki dengan anak perempuan itu berbeda. Kalau
laki-laki perbedaannya karena dia laki-laki dan akan menjadi pemimpin jadi
lebih di dorong agar dia bisa lebih maju kalau anak perempuan, diarahkan dan
diberikan semangat juga,
Jadi
ketika saya gagal, saya harus bangkit kembali. Tidak boleh terpuruk dan
terhanyut dalam kegagalan itu. orang tua saya juga paling tidak suka dengan
yang namannya bermalas-malasan. Karena memang saya tidak pernah melihat ayah
saya itu malas, dia tetap bersemangat.
Kalau
dengan cucu berbeda perlakuannya dengan saya. Kalau saya itu ke anak itu keras,
karena saya ingin anak saya memang harus berhasil. Kalau ke cucu, karena
mungkin masih kecil, waktunya itu lebih banyak dibandingkan waktu ke saya dulu.
Ayah
sayakan dulu sibuk berkarir, pergi pagi, pulang malam, pergi seminggu tidak
pernah bertemu. Jika ingin bertemu mesti buat janji untuk ketemuan ataupun via
telfon, untuk berbicara saja susah saat itu. tetapi kalau ke cucunya sekarang
pasti selalu ada waktu untuk bermain.
Harapan
saya kepada ayah saya hany satu, beliau selalu diberi kesehatan, agar bisa
melihat saya dan abang saya berhasil, dalam arti kata kamikan sedang menjalani
karir kami, ya kami ingin ayah saya melihat kami berhasil. Karena memang
motivator terbesar dalam hidup saya itu ya Ayah saya, karen asaya ingin sukses
seperti beliau. Walaupun beda jalur antara politik dengan pendidikan.
.
KABAG HUMAS SEKRETARIAT DPRD Kota Medan: Beliau
Sering Bilang “Boleh Kencang Tapi Jangan Mendahului, Boleh Pintar Tapi jangan
Menggurui, Boleh Tajam Tapi Jangan Menyakiti”...
Saya mengenal beliau sejak
tahun 2005, ketika itu iya menjadi Plt. Wali Kota saat pemilihan Walikota
Medan. (kepemimpinan Pak Abdillah periode ke-2) mulai dari situ saya sudah mengenal
beliau, meskipun sebelumnya sudah banyak orang yang mengenal beliau, teman-teman
saya juga sudah banyak melukiskan beliau ketika menjadi petugas di kota Medan.
Menurut saya sosok pak Afif adalah
pemimpin yang serba bisa untuk semua kalangan, baik itu yang tua maupun yang
muda. Beliau bisa menjadi contoh karena ketokohannya dan kepintarannya dalam
segala hal, sampai-sampai istilah kami itu, kalau dahulu itu istilahnya
perpustakaan berjalan sekaramg google berjalan, Terang beliau(sambil tertawa).
Saya
menyebut pak Afif itu mbah google, karena apa yang kita tanyakan itu tidak
pernah tidak terjawab. Apakah itu pertanyaan kita yang terlalu mudah atau
beliau yang sangat pintar, tapi kesimpulan saya beliau yang sangat pintar. Mungkin
jika orang lain tau sedikit tentang yang banyak atau tau banyak tentang yang sedikit,
tetapi Kalau pak Afif itu tau yang banyak dari yang banyak.
Tentang apapun dia tau banyak, dan bisa
sedalam-dalamnya kita dapatkan informasi yang kita butuhkan. Sosok seperti itu yang
menyebabkan beliau diidolakan. Dari berbicara tentang agama, kita bisa melompat kepolitik, bisa-bisa
kehiburan kemudian melompat ke topik lain, dan bisa menyambunkannya lagi ke
topik agama (topik semula). Bahkan ketika kami rapat dan beliau mendapat
telefon dari orang yang diseganinya, rapat itu bisa langsung berjalan kembali tanpa
bertanya sampai dimana kita tadi?, Dia langsung ke topik selanjutnya.
Pak Afif
merupakan sosok yang istimewa menurut saya, karena dgaya kepimpinannya seperti
menjadi bapak pengayom bagi kami semua. Kita tidak pernah melihat pak Afif
marah. Selama beliau menjabat, saya hanya pernah mendengar beliau satu kali
marah, namun saya tidak melihat kemarahan beliau secara langsung. Ketika itu
ada rapat digedung Dharma Wanita, disitu
beliau sangat marah karena ada kepala dinas yang tidak ikut dalam upacara 17 Agustus.
Ketika
itulah orang-orang baru mendengar beliau itu marah. Bahkan dari sebelum dan
sampai menjadi Walikota beliau tidak pernah marah-marah, dan ketika itu pak
Afif memang benar-benar marah karena beliau sangat menghargai perjuangan
pahlawan kita, maka dari itu beliau sangat marah kepada orang yang tidak hadir
pada acara 17 agustus tersebut. Pak Afif itu menurut saya orangnya juga
negarawan.
Dari
diri beliau tidak ada yang berubah, dari sebelum menjadi Walikota, sebelumnya
Sekda ya bahkan setelah menjadi walikota lagi. Beliau itu orangnya low profile, bersahaja, dan tidak
berlebihan. Bahkan beliau selama menjabat Walikota, tidak pernah pakai supir,
bahkan kami sering bertanya, kenapa bapak tidak pakai supir? Beliau menjawab
membiasakan diri saat kita sudah tidak ada jabatan..
Hal
itulah yang saya sukai dari diri beliau. Hal yang tidak saya sukai dari diri
beliau adalah, beliau itu orangnya tidak bisa marah, beliau tidak bisa menolak
permohonan orang lain, sehingga dia terkesan tidak tegas. Nah, itulah yang
menyebabkan beliau kadang-kadang tidak bisa memperhatikan waktunya lagi yang
akhirnya terkuras untuk orang lain kesana kemari-kesana kemari.
Beliau
tidak lagi memperhatikan kesehatannya meskipun kita ketahui kalau beliau belum
pernah sakit, mungkin karena beliau silaturrahminya bagus, mungkin itu yang
dijanjikan oleh Allah bagi orang yang suka bersilaturrahim akan diberikan
kesehatan.
Perlakuan
beliau Kesesama pegawai, beliau seperti kebapak-an dalam memimpin dan semua
pegawai tidak merasa tertekan karena dia tidak suka marah-marah , dia itu bukan
pejabat yang suka marah, kan ada pejabat yang suka marah-marah karena
ketidaktahuannya, jadi untuk menutupi kekurangannya dia marah tetapi kalau pak
Afif itu tidak perlu marah, justru dia tertawa melihat kesalahan tersebut.
Pak Afif itu orangnya sangat teliti. Jadi
pernah satu kali, cerita di Direktorat Jenderal, ini ketika dia sudah tidak
menjabat lagi menjadi wali kota. tetapi kami ini mau mengadakan rapat Idul Adha
pemotongan kurban. Jadi kepala Direktorat itu berbicara kepada kami, tolong
buatkan dulu surat dan dalam satu surat itu ada 4 tujuan yang intinya sama
namun tujuannya berbeda.
saya pernah di tes oleh pak Afif, dia bilang, “Eh ini coba
di cek dulu adidnda”. Surat ini waktu itu pak direktorat ( Farid Wajedi ) ini
sebagai Asisten, kalo tidak salah saya ketika pak Afif menjabat wali kota. Ketika
pak Afif , beliau asisten yang menangani masalah kurban. Jadi pak Afif meminta
dia membawakan surat untuk konsep acara kurban, secara seremonial mungkin
Ustad.
Oh iya (yang menaandatangani pak Afif) terus
pak Afif membaca, kemudian dia berkata “coba dibaca dulu dari atas ke bawah”,
apa sudah benar ini...? sudah pak, di jawab beliau. Dibaca lah lagi! Kemudian
dibaca lagi terus-menerus, coba baca sekali lagi. Ternyata memang ada
kesalahan, tujuannya di buat pak farid itu, kepada ketua DPRD
untuk menyembelih kurban padahalkan tidak itu tugas pak Ketua DPRD,
bukan itu maksudnya tapi maksudnya adalah turut mengundang. Nah itulah
telitinya pak Afif, dari “A” sampai “Z” semua, titik-koma semua diperhatikan,
ya itulah beliau.
Kalau
sistem saat iya memimpin, iya hanya meneruskan sistem terdahulu, dan tidak
merubah sistem yangh ada. Tetapi saya fikir, karena Pak Afif sudah lama
berkecimpung di pemerintahan, sebelum jadi Walikota, Pak Afif juga sebagai
pejabat di Pemerintah Kota medan. jadi pak Afif sudah mengenal semuanya,
sehingga tidak ada kesulitan bagi beliau. Dia teruskan sistem, dan tidak
merubah, dan membuat semuannya menjadi sahabatnya.
Beliau tidak pernah menekan pegawai. Beliau
tidak pernah berubah, karena beliau sudeh lama berada di pemerintahan sehingga
dia hampir mengenal semua jabatan, sehingga beliau tidak merasa kesulitan beliau
tidak pernah membeda-bedakan, semua di anggappnya sebagai seorang teman. Yang
sebaya dia buat teman yang muda dia buat sebagai adiknya. makanya dia selalu
menggunakan kata-kata adinda, ananda.
Banyak
hal yang bisa saya pelajari dari sosok pak Afif , dan yang bisa saya terapkan
pada kehidupan saya sehari-hari. Beliau itu orangnya selalu menyenangkan hati
orang lain. Ucapan-ucapannya, ungkapan-ungkapannya yang keluar dari mulutnya selalu
menyenangkan orang. ketika orang lain bercerita dengan beliau dan beliau tau
permasalahannya, beliau mampu untuk mengekspresikan kalau beliau tidak tahu.
Misalnya,
kita bercerita pada beliau, “tadi saya gini-gini” padahal beliau sudah tahu, tetapi
beliau tidak pernah bilang, “ah udah tau aku!”, tetapi iya bilang, oh begitu?
Langsung dia berikan tanggapan dan solusi, semua yang dikatakan meskipun itu
pegawai rendahan tetapi beliau tetap mendengarnya. Nah jadi disitu kita dapat
menyimpulkan bahwa pak Afif suka mendengarkan orang lain. Kepribadiannya itu
suka menyenangkan orang.
Kondisi
pemerintahan Kota Medan, seperti yang kita kutip pada istilah beliau,
pemerintahan saat itu sedang “Turbulance”. Pejabat teras saat itu tersandung
kasus hukum, jadi beliau sebagai orang ke 3 saat itu merangkap menjadi orang
pertama, kedua, dan ketiga.
Kondisi
saat itu sangat terpuruk, pegawai mengalami penurunan semangat, dan pak Afif
mampu merangkul kembali pegawai sehingga pembangunan tetap berjalan, dan
pegawai-pegawai bisa dibangkitkan lagi semangatnya.
Kita
tahu pak Afif juga sampai saat ini selalu menjadi “guru” untuk kepala
daerah-kepala daerah, saya tahu itu, ada Bupati Madina, Walikota Medan sendiri,
tetap meminta semacam pendapat-pendapat. Jadi menurut kami, pak Afif ini tidak
hanya tokoh di Kota Medan, tetapi tokoh di Sumatera Utara, dan mungkin bisa
meng-Indonesia jika ada yang meng-eksplore.
Ada
banyak kata-kata yang sering di ucapkan Pak Afif untuk pegawai, beliau pernah
mengajarkan kepada kami yaitu “Boleh Kencang Tapi Jangan Mendahului, Boleh
Pintar Tapi jangan Menggurui, Boleh Tajam Tapi Jangan Menyakiti”, itulah
kata-kata yang di ajarkan beliau kepada kami. Itulah pegangan untuk kami, dan
itu memang ada pada diri beliau sendiri.
Drs. Wara Sinuhaji, M.Hum
(
Pengamat Sosial Politik Sumatera Utara)
Afifuddin
Itu Orang Jujur, Selama saya jadi pengamat, pemerintahannyalah yang tidak
Pernah saya kritisi...
Saya face to face kenal sama dia setelah dia menjadi pelkasana Walikota,
tetapi dia sebagai pamong praja sudah lama sekali saya tau namanya. Karir
puncaknya itukan ketika dia menjadi SEKDA di awal-awal pemerintahan periode
kedua. Dari situ mulai secara efektif saya kenal, face to face itu saya kenal di kampus ini dan dia ternyata adalah salah
satu ipar dari sahabat saya, kami sama-sama staf ahli rektor saat itu,
namanya bang Ucok Dalimunthe.
Saya berteman dengan syaidina hamzah
Dalimunthe, maka face to face itu pertama berkenalan ketika acara perkawinan
salah satu anak bang Syaidina Hamzah Dalimunthe, saat itu dia ada, lantas saya
diperkenalkan bang Ucok itu sama dia, terus hubungan emosional yang tumbuh semacam dekat. Pelukan, cipika-cipiki dengan
bang Afifudin itu.
Disitulah saya pertama kenal dengan
dia dan saya lihatpun penampilan dia low
profile, sederhana, tidak sombong, Mengenakkanlah kalau berdampingan dengan
bang Afifudin itu. Hubungan saya pribadi sama dia sampai sekarang dekat, akrab,
itulah bang Afifudin itu tadi. Dia kan sekarang duduk di Dewan Kota dan aktif
di NU.
Awalnya kan, Walikota Medan dipimpin
oleh bapak Abdillah, periode kedua bapak Abdillah berpasangan dengan Ramli,
kalau saya tidak salah Sekda-nya sudah Afifudin Lubis. Kemudian ada insiden
yang terjadi pasca Abdillah dan Ramli terpilih menjadi Walikota.
Terjadi Vacum Of Power, Vacum of Power terjadi di tatanan pemerintahan Kota Medan. Menteri
Dalam Negeri kemudian melalui Gubernur mengangkat Afiffudin yang awalnya
menjadi Sekda, kemudian diangkat menjadi Plt. Walikota Medan selama satu tahun.
Kalau saya melihat, Afifudin menjadi
Plt. Walikota Medan itu bebannya berat. Kenapa saya bilang bebannya berat?
Karena dia menggantikan Walikota yang memang selama ini kebjijakan-kebijakannya
dianggap populis di Kota Madiya Medan ini. sehingga seolah-olah apapun yang
dilakukan Afifudin sebagai Walikota tidak kelihatan. Inilah konsekuensi atau
resikonya ketika kita menggantikan orang yang populis. Apalagi saya tahu betul,
Afiffudin Lubis sebagai pelaksana walikota, orangnya itu Low Profile, mengakomodir semua kepentingan orang banyak, dan juga
dia dekat dengan siapapun. Bahkan dengan saya, kalau kami jumpa dia
memperlakukan saya itu seolah-olah antara abang dan adik, jadi pelaksanaan
pemerintahanpun disini adem-adem aja.
selama 1 tahun pemerintahannya tidak
pernah terdengar hal-hal yang negatif, tetapi permasalahannya kan kenapa cuman
satu tahun. Kan begitu. Berarti dia inikan orang jujur. Orang barangkali untuk
menjadi pelaksana walikota mau mengeluarkan uang banyak.
Dia tidak,
jadi artinya dia menjadi pelaksana Walikota itu bersih dari isu-isu. Bahkan ada
indikasi kenapa dia tidak bertahan menjadi pelaksana walikota sehingga ketika
ia menjadi walikota dia hanya baru strart sehingga saat pemilihan walikota,
isu-isu yang seperti yang saya katakan tadi tidak ada lagi. Nah, itulah bang Afifudin.
Kemudian
ketika dia tidak menjadi pelaksana walikota lagi pemikiran-pemikiran dia sampai
saat inipun masih tetap dipergunakan ole pemerintah kota medan. sebagai salah
satu buktinya dia menjadi dewan kota. Artinya orang-orang yang duduk di dewan
kota itu dibutuhkan pemikiran-pemikirannya untuk membangun kota medan.
Sebenarnya
saya antara dekat dan tidak dekat dengan beliau, saya adalah orang yang kritis
terhadap Pemerintah Kota Madiya Medan, seingat saya ketika dia menjabat sebagai
walikota medan, saya barangkali tidak pernah melakukan kritik pada masa
pemerintahan dia.
Karena
memang saya merasa dia tidak ada yang perlu saya kritik tentang pemerintahan
yang dijalankannya di kota medan. tidak ada, jadi makanya selama satu
tahun betul-betul kondusif kondisi tatanan di Kota Madya Medan selama dibawah
pemerintahannya.
Mungkin jika dia ikut pemilihan
walikota medan kembali. dia bisa saja terpilih terpilih, padahal dia dianggap
kapabel karena dia sangat berpengalaman dalam menata pemerintahan. Mulai dari
muda dia kan tamatan APDN itu, lalu berkecimpung dia di tatanan pemerintahan,
makanya dia syarat akan pengalaman. Orang-orang seperti dia ini sebenarnya
layak menjabat Walikota tetapi kan kondisi politik kekinian tidak menguntungkan
terhadap eksisitensi dirinya padahal dari segi kemapmuan dia cukup mempuni.
Keadaan kota medan ini luar biasa
perkembangannya, ya berkembang maju, di masa walikota Abdillah. Makanya ketika
masa Afiffuddin, apapun yang dia bikin tidak dilihat oleh masyarakat itu.
karena sulit. Mindset masyarakat itu
dipengaruhi oleh kepemimpinan abdilah.
Untuk merubah mindset masyarakat yang selama ini sudah terpengaruh dengan apa
yang sudah dibuat oleh Abdilah, itu susah. Sehingga seolah-olah sebenarnya
apapun yang dibuat oleh Afifudin Lubis itu tidak kelihatan. Padahal sebenarnya
kesinambungan itu dilanjutkan sama Afifudin selama satu tahun.
Apa yang diperbuat,
kebijakan-kebijakan apa yang selama ini dibuat oleh Abdilah-Ramli itu
dilanjutkan oleh Afifudin. Sehingga seolah-seolah yang diperbuat dia itu tetap
dianggap oleh masyarakat Medan ini merupakan bagian daripada apa yang dibuat oleh
abdilah-ramli, itu semua juga sudah dilakukan Afifudin Lubis.
BAB 6
PENUTUP
DARI CERITA MANIS
KESIMPULAN...
Berdasarkan
penelitian dan hasil wawancara dengan beberapa sumber, dan telah kami kemukakan
pada bab-bab sebelumnya, maka dapat diambil beberapa kesimpulan seperti
berikut.
Afifuddin
Lubis, lahir pada tanggal 22 Juni 1949 bertepatan dengan 25 ramadhan 1368
hijriah. Iya di lahirkan di sebuah rumah tua yang terletak
didaerah Tombang Bustak, Kecamatan Kotanopan, sekarang berada dibawah Kabupaten
Mandailin Natal, Provinsi Sumatera Utara.
Di
lingkungan keluarga, iya di panggil dengan nama Afis. Ibunya bernama Aminah
Koto, yang merupakan Istri kedua dari H. Abdul Azis Lubis, yang pada saat itu
sangat menginginkan keturunan laki-laki. Ibu tertuanya bernama Hj. Samsul Bahri
Harahap. Meskipun iya memiliki dua orang ibu, tetapi iya tidak pernah merasakan
kurangnya kasih sayang. Kasih sayang selalu didapatkannya dari kedua ibunya dan
juga ayahnya.
Afifuddin
menghabiskan masa kecilnya di Kota Padang sidempuan, karena pada saat itu
ayahnya di promosikan dari seorang wedana menjadi seorang Bupati. Pendidikan
agama sudah melekat pada dirinya sejak iya kecil, karena ayahnya juga merupakan
seorang alim ulama yang bersekolah di Makatul Mukarromah, ibu tertuanya juga
seorang guru mengaji.
Seperti
anak-anak pada umunya, iya senang bermain di sungai. Bermain dan berenang
bersama teman-teman sebayanya pada saat itu. sebelum berumur 7 tahun, Afifuddin
kecil di masukkan ke taman kanak-kanak yang ada di sekitar lingkungan
rumahnya.. kemudian ketika berumur 7 tahun, iya disekolah kan di sekolah
latihan SGA (Sekolah Guru Atas) yang kemudian berubah nama
menjadi Sekolah Dasar Negeri No. 16 Padang Sidempuan pada tahun 1956 dan
menamatkan sekolah dasarnya ditahun 1962.
Beliau
kemudian melanjutkan sekolahnya di SMP Negeri 1 Kota Padang Sidempuan, sejak
tahun 1962, dan menamatkannya tahun 1965. Pada saat SMP, prestasi akademiknya
anjlok, iya mengakui karena pada saat itu sedang menjalani proses masa
pubertasnya.
Setelah
tamat dari SMP Negeri 1, iya melanjutkan sekolahnya ke SMA
Negeri 2 Padang Sidempuan. Disini, bakat berpolitiknya mulai terlihat, iya menjadi
ketua OSIS pada saat itu disekolahnya, dan bergabung pada organisasi Pelajar
Islam Indonesia, dan menjadi Ketua PII di Kota Padang Sidempuan. Iya tamat pada
tahun 1968.
Setelah
iya tamat SMA, Afifuddin hijrah ke Medan, dan tinggal bersama ibu tertuanya.
Iya kemudian mendaftar di Universitas Sumatera Utara, dan mendaftar di 3
fakultas sekaligus. Tetapi karena ketertarikannya terhadap politik, membuat dia
memilih Fakultas Hukum sebagai tujuan akhir.
Namun,
mimpi Afifuddin kandas, ketika di tengah jalan perkuliahan, iya harus berhenti,
karena kesulitas ekonomi yang dialami keluarganya. Namun, hal itu tidak
membuatnya patah semangat. Iya berniat mengikuti jejak ayahya menjadi seorang
pamong praja. Iya kemudian mendaftar di APDN (Akademi Pemerintahan Dalam
Negeri) Medan. iya berhasil lulus dari APDN pada tahun 1975, dengan nilai
kelulusan rata-rata.
Setelah
lulus, iya sempat menganggur dan bekerja serabutan menjadi seorang Telli atau orang yang menghitung beras
dari gudang kapal pengangkut beras. Iya kemudian di angkat menjadi pegawai,
Mula-mula di BAPPEDA (Badan Perencana Pembangunan Daerah) Kota medan. kemudian
iya melanjutkan studinya di IIP (Institut Ilmu Pemerintahan) Jakarta, dan
berhasil meraih gelar “Drs”.
Afifuddin
kemudian kembali bekerja di Kota Medan, berbagai tempat dan jenis pekerjaan pun
sudah dilaluinya, baik itu di Pemerintah Kota Medan, ataupun di Pmerintah
Provinsi Sumatera Utara, sehingga banyak pengalaman yang iya dapatkan dari
petulangannya saat itu. karir tertinggi yang diraihnya adalah ketika iya
menjadi Sekda Kota medan, dan kemudian iya di angkat sebagai Pejabat Walikota
Medan pada tahun 2008. Iya pensiun pada bulan juli 2009 saat berumur 60 tahun.
Iya
kemudian aktif di organisasi, seperti NU yang sekarang iya menjabat sebagai
Ketua di Provinsi Sumatera Utara. Namun sebelumnya, iya sudah lama berkecimpung
di berbagai organisasi, seperti HMI, Golkar, KNPI, dan PII.
Afifuddin
Menikah dengan Istrinya, Tety Nirwani, ketika iya berumur 27 tahun. Masa-masa
sulit di awal pernikahannya mampu di tutupi oleh istrinya yang saat itu juga
bekerja sebagai karyawan suwasta. Dari hasil pernikahannya tersebut, iya
dikarunia sepasang anak yang sekarang telah berhasil.
Anak
pertamanya bernama M. Iqbal Lubis, dan yang kedua bernama Ineke Qomariyah
Lubis. Anaknya yang pertama bekerja sebagai Tentara nasional Indonesia, yang
sekarang bertugas di KODAM Iskandar Muda, dengan Pankat Mayor.
Anak
keduannya kini bekerja sebagai staff pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Dari kedua anaknya tersebut iya di berikan 3 orang cucu, 1 orang laki-laki dan
2 orang perempuan yang begitu sangat iya sayangi.
Di masa tuanya, yang kini telah berumur 66
tahun, iya tidak berhenti untuk memberikan sumbangsihnya kepada khalayak
banyak. Afifuddin masih aktif di Pemko Medan sebagai Dewan Kota Medan bidang
Pemerintahan, dan juga sebagai Ketua Nahdlatul Ulama Provinsi Sumatera Utara.
Ceritanya sangat bagus, menginspirasi dan penuh perjuangan untuk meraih kesuksesan. Bapak Afifuddin Lubis adalah sosok yang sederhana,santun, mudah menyesuaikan diri dan sangat mampu memahami orang lain serta memiliki segudang pengalaman hidup yang patut kita contoh oleh kaum muda masa kini.
BalasHapus