Kamis, 17 September 2015

Potret Cina dalam Sejarah Indonesia

Paper ini ditulis Oleh Putri Nurmawati
Mahasiswa Ilmu Sejarah FIB USU stambuk 2012

"Berikan komentar, jika ingin mengambil tulisan ini untuk referensi"


“POTRET ETNIS CINA (TIONGHOA) DALAM BINGKAI SEJARAH DI INDONESIA DARI DULU HINGGA KINI”
1.      Latar Belakang Kedatangan Etnis Cina (Tionghoa) di Indonesia
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan sebuah negara strategis yang diapit oleh 2 benua (Asia & Australia) dan 2 samudera (Hindia & Pasifik) sehingga memiliki dampak bagi kepulauannya yang bercirikan oleh adanya keragaman budaya. Keragaman tersebut terlihat dari perbedaan keyakinan agama, bahasa dan etnis (suku bangsa). Sebanyak kurang lebih 300 etnis yang terdapat di indonesia. Bahkan banyak juga etnis pendatang dari luar negara dan salah satunya adalah Etnis Cina (Tionghoa).
Berdasarkan sumber, kedatangan Etnis Tionghoa ke Nusantara dikarenakan oleh situasi pada saat pemerintahan oleh kaisar di zaman sebuah dinasti yang sedang dalam keadaan sekarat dan sebuah dinasti yang lain mulai muncul yakni Dinasti Manchu yang pada saat itu bukan dipimpin oleh orang Cina melainkan oleh orang-orang liar yang hidup/tinggal disekitar negara Cina. Sehingga membuat orang-orang Cina kebanyakan pada berlarian meninggalkan negaranya ke negara lain dan salah satunya ialah Negara Indonesia (Nusantara).
Tak hanya itu, sumber lain menyebutkan pula bahwa kedatangan Etnis Tionghoa ke Indonesia (dulunya Nusantara) disebabkan oleh faktor perniagaan. Karena Indonesia dilihat memiliki letak geografis yang strategis serta sebagai lintas perjalanan dari Cina ke india yang pada saat itu Cina dan india sedang berkembang pesat. Leluhur orang Tionghoa-Indonesia berimigrasi secara bergelombang sejak ribuan tahun yang lalu. Peran mereka beberapa kali muncul dalam sejarah Indonesia, bahkan sebelum Republik Indonesia dideklarasikan dan terbentuk. Catatan-catatan dari Cina menyatakan bahwa kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara telah berhubungan erat dengan dinasti-dinasti yang berkuasa di Cina. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan dan lalu lintas barang maupun manusia dari Cina ke Nusantara dan sebaliknya. Sejarah panjang keberadaan mereka di Indonesia berawal pada masa kejayaan Kerajaan Kutai di pedalaman Kalimantan, atau Kabupaten Kutai, yang daerahnya kaya akan hasil tambang emas itulah mereka dibutuhkan sebagai pandai perhiasan (Emas). Karena kebutuhan akan pandai emas semakin meningkat, maka didatangkan emas dari Cina daratan, disamping itu ikut dalam kelompok tersebut adalah para pekerja pembuat bangunan dan perdagangan. Mereka bermukim menyebar mulai dari Kabupaten Kutai, Sanggau Pontianak dan daerah sekitarnya. Gelombang kedua kedatangan Etnis Cina ke Indonesia ialah pada masa kerajaan Singasari di daerah Malaka Jawa Timur sekarang. Kedatangan mereka dibawah armada tentara laut Khubalaikan atau juga sering disebut sebagai Jhengiskan dalam rangka ekspansi wilayah kekuasaannya. Namun utusan yang pertama ini tidaklah langsung menetap, hal ini dikarenakan ditolaknya utusan tersebut oleh raja.
Pada Ekspedisi yang kedua tentara laut Khubalaikan ke tanah Jawa dengan tujuan membalas perlakuan raja Singasari terhadap utusan mereka terdahulu, namun mereka sudah tidak menjumpai lagi kerajaan tersebut, dan akhirnya mendarat di sebuah pantai yang mereka beri nama Loa sam (sekarang Lasem) sebagai armada mereka menyusuri pantai dan mendarat disuatu tempat yang Sam Toa Lang Yang kemudian menjadi Semarang. Masyarakat Etnis Cina ini kemudian mendirikan sebuah tempat ibadat (Kelenteng) yang masih dapat dilihat sampai masa sekarang. Karena runtuhnya Singasarai dan Majapahit, serta munculnya kerajaan baru yaitu Demak sebagai sebuah kerajaan Islam, maka keberadaan Etnis Cina ini dipakai sekutu Demak di dalam rangka menguasai tanah Jawa dan penyebaran agama Islam. Hal itu dimungkinkan karena panglima armada laut yang mendarat di Semarang, seorang yang beragama Islam, yaitu Laksamana Cheng Ho. Mereka kemudian diberi wewenang untuk menjalankan Bandar atau pelabuhan laut di Semarang dan Lasem. Hal ini oleh Demak dimaksudkan untuk melumpuhkan Bandar-bandar laut yang lain, yang masih dikuasai oleh sisa-sisa Singasari dan Majapahit seperti bandar laut Tuban dan Gresik. Berawal dari sanalah kemudian Etnis Cina ini menyebar ke seluruh daratan Indonesia dan juga ditambah pendatang baru yang langsung ke daerah-daerah di pelosok Nusantara.
Menurut Vencius Tan[1], kedatangan kakek buyutnya ke Indonesia disebabkan oleh peperangan yang terjadi di Cina secara terus-menerus sehingga menyebabkan kakek buyutnya untuk memilih bermigrasi ke luar negara Cina dan salah satunya ialah Indonesia (dahulunya Nusantara) dengan menggunakan kapal sebagai alat pelayarnya. Karena pada saat itu alat transportasi yang hanya bisa digunakan ialah kapal. Selain peperangan disebutnya, faktor perdagangan juga menjadi salah satu penyebabnya.[2]
Berdasarkan apa yang sudah saya pelajari dalam mata kuliah Sejarah Asia Timur oleh Ibu Dra. Farida Hanum Ritonga, pada masa pemerintahan Dinasti Chin yang pada saat itu dipimpin oleh seorang kaisar yang bernama Chin Shih Huang Ti. Chin Shih Huang Ti merupakan seorang kaisar yang terkenal sangat kejam sehingga membuat rakyat di Cina pada kabur ke luar negri baik secara diam-diam maupun secara terang-terangan. Karena kekejamannya, semua buku yang membuat orang pintar dibakar terkecuali buku yang isinya tentang obat-obatan. Kaisar Chin Shih Huang Ti ingin hidupnya lebih lama, maka dari itulah ia menyuruh rakyat Cina untuk mencari obat-obatan ke seluruh dunia. Hal ini lah yang menyebabkan orang Cina menyebar di seluruh dunia termasuk juga Indonesia salah satunya.
Sejarah imigrasi Cina yang diturunkan oleh para sejarahwan, pada intinya lebih penting dari yang diduga. Ini terbukti dari tingginya jumlah keturunan Cina “peranakan” yang dapat membuktikan silsilah keluarga mereka berdasarkan nenek moyang generasi pertama mereka yang datang ke wilayah Nusantara pada abad ke-17 atau abad ke-18 atau bahkan jauh sebelumnya, pada masa Dinasti Tang (618-907).[3] Rekaman sejarah juga memperlihatkan bahwa para imigran tiba dalam gelombang-gelombang yang berbeda, dalam jangka waktu yang juga bervariasi. Mereka membawa bahasa mereka sendiri, dan juga teman-teman sedaerah mereka, baik yang bermarga maupun bukan, ke Indonesia. Gelombang pendatang yang paling padat tiba pada abad ke-19, ketika banyak orang terpaksa meninggalkan tanah airnya akibat kebutuhan ekonomi dan dibawah tekanan kolonialisme modern. Ribuan diantaranya direkrut sebagai “kuli kontrak” yang kemudian memunculkan dikotomi “totok” dan “peranakan”.[4]
Struktur dari perhimpunan kaum Cina di seberang lautan, yang pada abad ke-19 berhubungan satu sama lain, cenderung otonom, dan pada pertukaran intensif kualitatif yang banyak dengan kebudayaan mereka yang mirip dengan lingkungan masyarakat, mengarah ke budaya campuran yaitu ”baba” atau budaya “peranakan”, yang secara regional mempunyai sejarah pemukiman, tradisi, struktur pemerintahan, hierarki sosial dan juga adat tersendiri (Onghokham, 1978).

2.      Etnis Cina (Tionghoa) Pada Masa Kolonialisme Modern abad ke-19
Seiring dengan berjalannya waktu, sebelum tahun 1860-an, jumlah orang Cina secara relatif tidak banyak, hanya kurang lebih 250.000 orang dan kebanyakan peranakan. Dalam proses percampuran tersebut, telah terjadi banyak pergeseran maupun yang hilang termasuk bahasa dan sebagian besar aspek kebudayaan terkecuali identitas sebagai orang Tionghoa. Kedatangan massal kuli kontrak pada pertengahan abad ke-19 menyebabkan kerusakan proses pertumbuhan organik struktur sosial Etnis Cina “peranakan”.[5]
Konflik antara etnis Cina di Kalimantan Barat dengan pemerintah kolonial belanda pada abad ke-18 juga disinggung oleh beberapa sejarahwan Belanda. Cina Kalimantan barat dari kaum Hakka dan Hoklo berhasil mengorganisir diri dalam persaudaraan yang disebut kongsi. Mereka berhasil mempertahankan otonomi mereka sampai abad ke-19, bahkan sempat meraih kemenangan dalam perang Gerilya pada awal abad ke-20 melawan rejim belanda (Van, Sandick, 1909).
Berita-berita mengenai konsolidasi Etnis Cina di pulau-pulau lain banyak memuat cerita perjuangan melawan penindasan Belanda. Di Pulau Sumatera, orang Cina diperjakan sebagai budak bayaran dengan perlakuan yang buruk oleh Belanda dan mereka bahkan diberitakan telah memberontak dan menghancurkan kapal-kapal meriam dan kapal perang (Van, Sandick, 1909).
Pencabutan kembali berbagai peraturan diskriminatif oleh pemerintah kolonial pada awal abad ke-20 tidaklah mudah, dan merupakan perjuangan emansipasi yang sangat lama, sehingga cukup berdampak bagi minoritas etnis Cina yang lahir di Indonesia. Berbagai bentuk konkrit perlawanan terhadap rejim kolonial ini mengingatkan kita pada gerakan-gerakan perlawanan lain yang pada waktu itu dipimpin oleh kelompok pribumi. Sebagai jawaban terhadap kelompok pro kemerdekaan, seperti Boedi Oetomo sebagai perkumpulan budaya Jawa, dibentuklah Tionghoa Hwee Koan (THHK). Perkumpulan ini merupakan lembaga pendidikan modern pertama bagi Etnis Cina di Indonesia (William, 1966, 1969).
THHK mendirikan sekolah bagi anak-anak keturunan Cina yang tidak di izinkan masuk ke sistem pendidikan Belanda. Hal ini memberikan sumbangan penting dalam perintisan perjuangan kemerdekaan yang dengan motivasi politis, melahirkan gerakan pendidikan dan budaya seperti Boedi Oetomo dan Taman Siswa. Warisan kebudayaan nasional dari THHK yang pada intinya berasal dari kaum “peranakan” adalah pers Melayu-Cina yang melanjutkan tradisi anti-kolonial yang sudah berkobar di kalangan Etnis Cina sejak abad ke-19 dan sebelumnya.  Salah satu terbitannya, koran Melayu-Cina Sin-Po yang merupakan pertama dari 20 terbitan yang mempublikasikan melodi dan lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya ciptaan W.R Soepratman (Somers-Heidhues, 1964).
Legitimasi selanjutnya dari gerakan emansipasi pada masa pergantian abad ini berasal dar kaum nasionalis, sayap ekstrem komunitas Etnis Cina  yang berjuang keras untuk kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Sayap kiri yaitu kaum “peranakan”, membentuk Partai Tionghoa Indonesia (PTI). Meskipun tidak seluruhnya mewakili mayoritas komunitas Cina kelahiran Indonesia, mereka relatif mempunyai pengaruh besar seperti Dr. Tjoa Sik Len dan Siauw Giok Tjhan. Banyak anggota PTI yang kemudian duduk sebagai mentri di kabinet  setelah Proklamsi Kemerdekaan pada tahun 1945. Kelahiran partai Cina kelahiran Indonesia ini cukup besar dalam kabinet yang pertama. Tradisi ini, Mentri Oei Tjoe Tat,S.H.
Salah satu figur terkemuka waktu itu adalah pendiri PTI, Jaksa Liem Koen Hian, yang memainkan peran sangat penting dalam pembentukan Indonesia modern. Terdapat banyak bukti bahwa Soekarno pun mengenalnya. Sebab, menurut Soekarno sendiri, diskusi dengan Kliem Koen Hian mengenai pemikiran Sun Yat Sen memberikan kontribusi besar terhadap perumusan dasar negara pancasila.

3.      Bahasa Etnis Cina (Tionghoa)
Tidak ada bahasa khusus untuk mengidentifikasikan orang keturunan Cina dan tidak banyak variasi dialek bahasa Mandarin yang betul-betul digunakan, kecuali dialek Hokkian atau Fukkian. Dialek ini sampai sekarang masih mempengaruhi bahasa sehari-hari Etnis Cina, di samping bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi utama.
Untuk mengindentifikasi keturunan Cina berdasarkan bahasa, bahasa daerah yang digunakan di tempat mereka hidup dan bekerja dapat dijadikan patokan. Keturunan Cina di Jawa Barat misalnya, berbicara dalam bahasa Sunda sebagai bahasa daerah setempat atau berbicara bahasa Indonesia dengan aksen Sunda. Dengan populernya pendidikan Belanda di kalangan elit keturunan Cina maupun kelompok-kelompok non Etnis Cina di zaman kolonial Belanda awal abad ke-20, kelompok etnis ini kemudian mencerminkan seluruh spektrum bahasa yang ada di kepulauan Nusantara.
Sampai sekarang, penelitian bahasa dengan beberapa pengecualian, belum terlalu mendalami subyek bahasa Melayu-Cina. Bahasa ini dipergunakan secara luas di kosa-kata Jawa-Melayu. Terancam punah, bahasa tersebut hanya digunakan oleh generasi tua. Hal ini menjadi topik menarik tersendiri bagi peneliti bahasa dari Amerika John U. Wolf (1982) yang melihatnya sebagai sisa identitas budaya keturunan Cina.[6]

4.      Penyebaran Geografis Etnis Cina (Tionghoa)
Penyebaran geografis yang kebijakannya mirip apartheid dipraktekan pemerintah kolonial Belanda, maka lebih dari 20% Etnis Cina pada tahun 1905 hidup di kota-kota besar, sementara hanya 9% yang hidup di desa. Dengan dilonggarkannya Peraturan Segregasi tahun 1911, maka proporsinya pun berubah. Pada tahun 1930, jumlah Etnis Cina yang hidup di desa meningkat 41%. Setelah keluarnya peraturan baru, yakni Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1959 di bawah Soekarno, konsentrasi di kota besar meningkat dan hanya berkurang menjadi 20% pada tahun 1976. Perkembangan terakhir berkaitan juga dengan larangan kerja bagi pedagang keturunan Cina di desa yang kemudian mengakibatkan konsentrasi penduduk pada daerah piggiran yang kekurangan penduduk seperti Sumatera Timur atau Kalimantan Barat. Persentase Etnis Cina dari keseluruhan penduduk yang hidup di daerah ini berfluktuasi antara 27% dan 38% (berdasarkan keterangan resmi dari ABRI tahun 1976).
Saat ini di Provinsi Sumatera Utara khususnya Kota Medan, ada sebanyak 5 etnis yang paling dominan yaitu Jawa, Batak Toba, Tionghoa, Mandailing dan Minang. Sementara Etnis Cina yang menempati posisi ketiga dengan persentase sebanyak 10,65% atau sekitar kurang lebih 230.000 jiwa. Dapat dikatakan Etnis Cina menguasai pasar di Kota medan. Jika di survei setiap toko yang ada di Kota Medan hampir keseluruhan yang memilikinya ialah Etnis Cina. Hanya segelincir pribumi yang memiliki pasar di Kota medan. Penyebaran Etnis Cina tak hanya di Kota Medan saja, hampir di setiap provinsi terdapat Etnis Cina dengan persentase yang berbeda-beda dan hampir semuanya pasar dikuasai oleh Etnis Cina.


5.      Budaya Etnis Cina
Setiap etnis memiliki budaya tersendiri yang menjadi ciri khas dari etnis tersebut. Sama halnya dengan Etnis Cina yang memiliki bermacam-macam budaya seperti kuliner, kesenian, musik, alat musik, perayaan-perayaan, bahasa, dan pakaian. Berikut adalah budaya Etnis Cina dari negara cina yang dibawa ke Indonesia.
Kuliner
Berikut ini adalah jenis-jenis makanan khas Tionghoa yang populer di Indonesia:
·         Kue bulan / Tiong Chiu Pia
Kue BulanDasarnya berbentuk bulat, yang melambangkan kebulatan dan keutuhan. Namun seiring perkembangan zaman, bentuk-bentuk lainnya muncul menambah variasi dalam komersialisasi kue bulan. Perkataan Tiong Chiu sendiri berasal dari kata "Tiong" berarti tengah dan "Chiu" berarti musim rontok, jadi boleh dikatakan sebutan Tiong Chiu arti secara harafiahnya berarti pertengahan musim rontok. Namun demikian masyarakat lebih kenal dengan sembahyang Tiong Chiu Pia, walaupun sebenarnya penyebutan ini tidak tepat namun kenyataan dalam kebiasaan masyarakat tetap demikian.
·         Bakcang
BakcangMakanan dalam bungkusan daun, isinya ketan atau nasi yang ditambah daging dan isi lainnya sesuai selera. Di Tiongkok, bakcang disebut Zongzi. "Duan Wu Jie" adalah hari raya dimana umumnya orang makan bakcang. Pada hari itu dijual bermacam-macam bakcang dan semua warga, baik tua maupun muda, besar atau kecil, semua makan bakcang.




·         Lumpia
LumpiaMemiliki ciri khas pada bahan bakunya, yaitu rebung. Selain rebung dari bambu muda, beberapa bahan yang juga utama adalah udang dan telur, termasuk tepung terigu yang digunakan sebagai pembungkus.
·         Siomay
SiomayMakanan yang terbuat dari terigu diisi campuran daging, udang dan lain-lain. Terdapat banyak macam isi siomay mulai dari siomay ikan tenggiri, ayam, udang, kepiting, atau campuran daging ayam dan udang. Kulit siomay mirip dengan kulit pangsit.
·         Bakpao
BakpaoBiasanya diisi dengan daging ayam, sayur-sayuran, srikaya manis, coklat, selai kacang kedelai, kacang azuki, kacang hijau,dan sebagainya. Bakpao yang berisi daging ayam dinamakan kehpao.
·         Bakso
Bakso     Daging yang dicincang dan dibentuk menjadi bulat,biasanya daging yang digunakan adalah daging sapi atau ikan. Bakso itu berasal dari bahasa Tionghoa yang terdiri dari 2 kata, "Bak" dan "so", dimana "Bak" artinya daging babi dan "So" itu mie + sup. Tapi kemudian di indonesia sendiri daging babi itu dirubah menjadi daging sapi tetapi tetap menggunakan kata Bak.
·         Mie
MieDapat dibuat dari berbagai macam tepung seperti tepung terigu, tepung beras, tepung kanji, tepung kacang hijau dan lain lain. Secara umum mie dapat digolongkan menjadi dua, mie kering dan mie basah. Pada umumnya mie basah adalah mie yang belum dimasak, kandungan airnya cukup tinggi dan tidak tahan lama, jenis mie ini biasanya hanya tahan 1 hari.
Perayaaan
·         Tahun Baru Imlek
Tahun Baru Imlek Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan Tahun Baru Imlek dimulai di hari pertama bulan pertama (penanggalan Tionghoa) dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal ke lima belas (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chuxi yang berarti "malam pergantian tahun". Biasanya dirayakan dengan menyulut kembang api. Di Indonesia pada tahun 1965 hingga 1998 perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya Imlek.
·         Festival Lampion
Festival LampionAdalah festival dengan hiasan lentera yang dirayakan setiap tahunnya pada hari ke-15 bulan pertama (menurut penanggalan Tionghoa). Festival inilah yang menandai berakhirnya perayaan tahun baru Imlek. Festival ini biasanya dirayakan secara luas di Tiongkok, Taiwan, Hongkong dan negara-negara yang terdapat komunitas Tionghoa.
·         Cap Go Meh
Cap Go MehMelambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Imlek bagi komunitas Tionghoa. Pada tanggal ini juga merupakan bulan penuh pertama dalam Tahun Baru tersebut. Perayaan ini dirayakan dengan jamuan besar dan berbagai kegiatan.

Pakaian

·         Cheongsam
CheongsamMerupakan pakaian wanita dengan corak bangsa Tionghoa. Nama "Cheongsam" berarti "pakaian panjang", diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dari dialek Propinsi Guangdong (Canton) di Tiongkok.

Mudah dikenakan dan nyaman, bentuk pakaian Cheongsam cocok dengan bentuk tubuh wanita etnis Tionghoa. Leher tinggi, lengkung leher baju tertutup, dan lengan baju bisa pendek, sedang atau panjang, tergantung musim dan selera pemakainya. Memiliki kancing di sisi kanan, bagian dada longgar, selayak di pinggang, dan salah satu sisi di bagian pahanya terbelah, yang kesemuanya semakin menonjolkan kecantikan dari wanita yang mengenakannya. Cheongsam tidak terlalu susah dibuat. Tidak pula memiliki banyak perlengkapan, seperti sabuk, atau selendang. Cheongsam adalah dapat dibuat dari berbagai macam bahan dan memiliki keragaman panjang, dapat digunakan secara santai atau resmi.

Ritual

·         Budaya Teh Tionghoa
Minum TehMinum teh telah menjadi semacam ritual di kalangan masyarakat Tionghoa. Di Tiongkok, budaya minum teh dikenal sejak 3.000 tahun sebelum Masehi (SM). Bahkan, berlanjut di Jepang (1192 – 1333) oleh pengikut Zen. Minum teh dapat menetralisasi kadar lemak dalam darah, setelah mengonsumsi makanan yang mengandung lemak.
·         Ceng Beng / Festival Qingming
Ceng Beng / Festival QingmingAdalah ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan ziarah ke kuburan sesuai dengan ajaran Khonghucu. Festival Tionghoa ini jatuh pada hari ke 104 setelah titik balik matahari pada musim dingin. Bagi etnis Tionghoa, hari ini merupakan suatu hari untuk mengingat dan menghormati nenek moyang. Setiap orang berdoa di depan nenek moyang, menyapu pusara dan bersembahyang dengan menyajikan makanan, teh, arak, dupa, kertas sembahyang dan berbagai aksesoris, sebagai persembahan kepada nenek moyang.


6.      Pengaruh Budaya Cina Terhadap Budaya di Indonesia
Budaya Etnis Cina yang di Indonesia banyak mempengaruhi budaya Indonesia sendiri seperti:
·         Makanan, contohnya: bakso yang sudah menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia untuk sering memakannya dan sudah tradisi masyarakat Indonesia tanpa harus memikirkan bakso merupakan makanan dari Etnis Cina. Lainnya seperti bak pao, mie dan siomay.
·         Bahasa, dari segi bahasa juga banyak yang sudah menjadi bahasa serapan dari cina ke Indonesia. Contohnya kata “mangkok”. Banyak yang tidak mengetahui, sebenarnya kata mangkok itu berasal dari bahasa Cina yang sudah diserap ke dalam bahasa indonesia.
·         Perdagangan, dari segi perdagangan, pedagang Indonesia banyak yang mengikuti sistem perdagangan Cina yakni “biar saja ambil untung sedikit asal laris terjual barang dagangannya”.
·         Budaya minum teh yang sudah diterapkan atau telah menjadi budaya oleh orang di seluruh dunia, tak hanya Indonesia saja. Karena budaya minum teh sebenarnya berasal dari Cina.
Banyak sekali budaya yang berasal dari Cina berpengaruh ke budaya indonesia dan akhirnya menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia bahkan masyarakat dunia.








SUMBER :

Liem, yusiu. 2000. Prasangka Terhadap etnis Cina. Jakarta: Djambatan & Pena Klasik




[1] Vencius Tan adalah mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) di Fakultas Kedokteran (FK) yang merupakan Etnis Tionghoa yang bertempat tinggal di Kota Medan.
[2] Hasil wawancara dengan Vencius Tan di Sat-Menwa Universitas Sumatera Utara (USU).
[3] Peranakan ialah keturunan dari pria asli cina dengan wanita pribumi.
[4] Yusiu Liem, Prasangka Terhadap Etnis Cina, (Jakarta: Djambatan & Pena Klasik), hlm. 17
[5] Ibid, hlm. 19.
[6] Ibid, hlm. 5

Buruh Cina di Bangka Belitung

Kehidupan Buruh Cina di Bangka Belitung
Paper ini dibuat oleh Putri Nurmawati
*Mahasiswa Ilmu Sejarah FIB USU stambuk 2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Bangka dan Belitung yang dulunya merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan, sekarang ini telah menjadi sebuah provinsi yang ke-31 di Indonesia pada tahun 2001 silam. Daerah ini terkenal dengan kekayaan alamnya yang bersumberkan pada hasil bumi timah sejak dahulu. Namun kedua daerah ini memiliki sejarah yang tidak jauh berbeda karena letak geografisnya yang berdekatan dan dipisahkan oleh sebuah selat yang bernama Selat Gaspar.
Kata Bangka berasal dari vangka yang berarti Timah, karena wilayah ini memang kaya barang tambang timah. Pulau Bangka ternyata memiliki catatan sejarah panjang. Pulau yang sempat bernama The Duke of York ini dulunya menjadi salah satu pelabuhan yang ramai disinggahi kapal-kapal dagang dari berbagai negara.
Menurut beberapa catatan sejarah, nama Bangka telah mulai disebut sejak abad ke-7, tepatnya pada tahun 686 Masehi. Ini sesuai dengan bukti sejarah Prasasti Kota Kapur yang ditemukan di Muara Sungai Mendu, Bangka Barat. Dari penemuan ini, disimpulkan bahwa pada saat itu Pulau Bangka telah menjadi salah satu pelabuhan yang penting dan berkembang menjadi ramai. Bangka juga merupakan bagian dari daerah taklukan pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya, selain Mataram dan Majapahit. Karena tak ada rempah-rempah, pulau ini juga tak banyak diminati penjajah, sehingga menjadi tempat para lanun (bajak laut). Pada abad ke-17, pertama kali Bangka memiliki Bupati bernama Bupati Nusantara yang dikirim Sultan Banten guna menumpas gerombolan lanun tersebut. Ketika ia wafat, kekuasaan jatuh ketangan putrinya yang dinikahkan dengan Sultan Palembang yang bernama Sultan Abdurrahman. Pulau Bangka dan sekitarnya pun akhirnya menjadi bagian dari Kesultanan Palembang.
Kandungan timah yang besar pertama kali ditemukan oleh orang-orang Johor dan Siantan pada tahun 1710. Melihat hal tersebut pula, pada akhir tahun 1722, VOC memutuskan untuk mengadakan perjanjian dengan Sultan Ratu Anom Kamaruddin dari Palembang, dan membeli timah secara monopoli yang dinilai akan membawa keuntungan yang besar untuk Belanda nantinya. Namun kekuasaan Sultan Palembang berakhir ketika Inggris membalas kekalahan VOC, menggantikan Sultan Machmud Badaruddin II dengan putranya yang bernama Sultan Najamuddin, serta memaksanya menyerahkan Bangka Belitung kepada Inggris pada tahun 1812.
Akan tetapi dalam sejarah Belitung disebutkan pula, yang pertama kali datang ke Pulau Belitung adalah orang Gresik (Jawa Timur) yang bernama Kiai Ronggo Udo. Pada tahun 1822, ditemukan timah untuk pertama kali. Potensi sumberdaya alam termasuk timah dan peluang ekonomi menarik minat para pendatang dari luar ke pulau Bangka dan Belitung. Berdasarkan sumber lain, ketika orang-orang Bangka telah gagal menyerahkan sejumlah produksi timah ke Palembang, beberapa buruh kemudian didatangkan dari Siam, Cina dan Malaka (sekarang Malasyia). Rekrutmen buruh dari Cina sangat memungkinkan, meskipun bertentangan dengan peraturan imigrasi setempat karena munculnya sukuisme antara Canton-Palembang. Pada tahun 1755, pemerintah Belanda di Palembang melaporkan bahwa buruh tambang di Bangka ‘semuanya orang miskin Cina’. Sebelum itu, buruh-buruh tambang Cina memang telah melakukan penambangan ke berbagai wilayah, seperti penambang emas di Pulau Kalimantan tahun 1740.

1.2 Rumusan Masalah
            Menanggapi hal tersebut, penulis ingin mengetahui hal yang melatarbelakangi orang Cina sebagai buruh tambang timah serta bagaimana sepak terjang kehidupan buruh tambang timah Cina di Bangka Belitung selama masa pemerintah kolonial di Hindia-Belanda (Indonesia).

BAB II
PEMBAHASAN
                                              
2.1 Latar Belakang Kedatangan Cina di Bangka Belitung
Kedatangan orang Cina ke Nusantara dilakukan secara bergelombang sejak ribuan tahun yang lalu melalui kegiatan perniagaan. Catatan-catatan dari Cina menyatakan bahwa kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara telah berhubungan erat dengan dinasti-dinasti yang berkuasa di Cina. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan dan lalu lintas barang maupun manusia dari Cina ke Nusantara dan sebaliknya. Namun ada juga gelombang yang datang ke Nusantara karena melarikan diri dari negaranya ketika Cina dipimpin oleh kaisar Chin Shih Huang Ti yang sangat terkenal dengan kekejamannya. Kedatangan orang Cina juga ada yang sengaja didatangkan terutama saat Hindia-Belanda (Indonesia) dibawah jajahan kolonial Belanda guna dijadikan sebagai tenaga kerja yang sangat dibutuhkan untuk menguras sumber daya alam Hindia-Belanda (Indonesia). Namun sumber lain menyebutkan bahwa Sultan lah yang mendatangkan orang Cina tersebut. Kemudian orang-orang Cina dikirimkan ke daerah-daerah yang dibutuhkan tenaga kerja dengan diiming-imingin sebelumnya yang akhirnya membuat mereka setuju.
Sebagian besar warga Cina generasi pertama di Hindia-Belanda berasal dari daerah Cina Selatan, terutama dari Provinsi Kuang Tung dan Fu Khien atau Hok Kian. Kendati tidak bisa ditarik garis batas yang pasti, bisa dikatakan bahwa yang tergolong pedagang berasal dari Amoy dan sekitarnya (Tsiang Tsu, Tsoan Tsiu, dsb.). Mereka inilah yang disebut Hok Kian. Sedangkan para perajinnya kebanyakn dari Hakka atau Kanton (Propinsi Kuang Tung). Mereka bekerja sebagai tukang sepatu dan mebel rotan. Ada pula yang jadi tukang arloji, tukang kayu, dan pandai besi. Sementara itu orang Cina yang menjadi buruh di perkebunan Sumatera Timur kebanyakan berasal dari daerah Swatow, dikenal sebagai orang Tio Cu. Persebaran mereka di berbagai wilayah Hindia Belanda kurang lebih sebagai berikut. Hok Kian paling banyak di Jawa; Hakka di Kalimantan Barat; Tio Cu di Sumatera Timur, Riau, Bangka dan Belitung. Mereka memiliki bahasa daerah sendiri-sendiri.
Ketika perdagangan timah mulai menguntungkan, VOC dibawah kepemimpinan Cournelis de Houtman mulai melirik Bangka hingga akhirnya membuat kontrak dagang pada tahun 1668 dengan sistem monopoli, yaitu bahwa penguasa Bangka dan Belitung mengakui VOC sebagai pelindungnya dan berjanji tidak akan menjalin kerjasama atau berhubungan dengan bangsa-bangsa lain. Namun ketika Belanda kalah dalam perangnya melawan Perancis, otomatis seluruh negara jajahan Belanda jatuh ke tangan kekuasaan Inggris, termasuk didalamnya adalah Pulau Bangka dan Belitung.
Pasukan Inggris dibawah pimpinan Thomas Stanford Raffles, berusaha menundukkan Palembang. Maka, terjadilah perang antara Sultan Palembang melawan tentara Inggris. Bagi Raffles, perang ini lebih bertujuan untuk memperebutkan timah. Akhirnya Inggris berkuasa di Bangka dan Belitung dalam kurun waktu 4 tahun (1812 s/d 1816). Melalui pernyataan politiknya, Inggris mengganti nama Bangka menjadi The Duke of York, dan pelabuhan Belinyu menjadi Port Wellington.
Ketika Belanda berhasil masuk dan mulai berkuasa kembali di Bangka pada akhir tahun 1816, VOC mulai mendatangkan banyak pekerja dari negeri Cina untuk dipekerjakan di pertambangan-pertambangan timah Pulau Bangka.
Para pekerja tersebut didatangkan secara sengaja karena kurangnya tenaga kerja yang dianggap mereka memiliki keahlian dan kecekatan untuk menambang timah dibandingkan dengan orang-orang pribumi. Akhirnya mereka pun bekerja sebagai buruh tambang timah dan tinggal menetap tidak kembali lagi ke negara asalnya kemudian mereka berbaur dengan bahasa, pakaian, makanan dan agama yang ada disekitar Bangka Belitung.
Pada tahun 1873, pertambangan timah di Belitung mulai dibuka dan berproduksi. Belanda mulai memperkuat pengaruhnya

2.1 Kehidupan Sosial, Ekonomi dan Budaya Orang Cina di Bangka Belitung
 Perkampungan Cina mulai berdiri sejak abad ke-18. Ketika pengeboran timah dilakukan, banyak pedagang Asia termasuk Cina berdatangan. Pada saat itu Bangka masih berada di bawah kekuasaan Kesultanan Palembang. Kedatangan orang-orang Cina ke Bangka ini bertujuan untuk memanfaatkan kesempatan dalam perekonomian tambang timah. Belanda ikut serta dalam kesempatan tersebut karena secara administratif, tanah tersebut milik mereka. Saat itu, masih terjadi tarik-menarik kekuasaan antara Belanda dan Inggris (1812-1816). Buruh tambang Cina itu dikenal dengan istilah Cina Parit. Walau kehadiran mereka dapat menjadi sumber pertikaian, tetapi tidak banyak terjadi permasalahan di pulau Bangka. Orang Bangka mengatakan, kehadiran Cina Bangka minoritas itu merupakan hal yang biasa.
Di abad ke-20, sedikit sekali dilaporkan adanya kekerasan antaretnis di Bangka. Orang Cina dan kebudayaannya telah dianggap merupakan bagian dari masyarakat dan kebudayaan pulau itu sejak Lim Tau Kian, yang anak-anaknya menikah dengan keluarga Kesultanan Palembang, membantu menemukan tambang timah pertama di Mentok. Tipe ‘wheel barrow’ orang Cina, yakni kebiasaan saling mengunjungi antara orang Bangka dan Cina saat Tahun Baru Cina dan Lebaran, telah merupakan bagian dari kehidupan orang Bangka. Pengaruh Cina juga dijumpai dalam bahasa sehari-sehari. Di samping itu, banyak orang Cina yang melakukan perkawinan antaretnis, yakni dengan orang kampung yang berprofesi sebagai pedagang, nelayan atau petani. Kaum ‘Peranakan’ yang lahir dari perkawinan antaretnis ini kemudian bertumbuh kembang. Mereka menggunakan bahasa Hakka yang kuat dipengaruhi oleh bahasa Melayu.
Budaya bedol desa juga dikenal di kalangan masyarakat Cina. Setidaknya, masyarakat Cina di Pulau Bangka adalah bukti dari praktik bedol desa yang menurut catatan Belanda berlangsung sejak awal abad ke-18 atau sekitar tahun 1710 Masehi. Masyarakat Cina dari suku Ke Jia (sering disebut Orang Khe) dari Provinsi Guang Dong, Cina, adalah komunitas Cina terbesar di Bangka-Belitung yang melakukan migrasi sistem bedol desa berabad silam dari daratan Cina. Mereka berangkat dari kampung-kampung di distrik tertentu seperti Sin Neng, San Wui, Hoi P’eng, Yan P’eng, Nam Hoi, P’un Yue, Shun Tak, Tung Kwun, dan Heung Shan (lafal ini tidak menggunakan standar Han Yu Pin Yin-Red). Bagian terbesar dari migran tersebut adalah kuli tambang timah. Seiring perjalanan waktu, di Pulau Bangka yang berada di bawah Kesultanan Palembang ditemukan timah, dan tenaga kerja yang dianggap berpengalaman adalah orang Cina suku Kejia yang memang terkenal memiliki keahlian di bidang pertambangan.
Sultan Palembang meniru pengalaman Sultan Perak dan Sultan Johor yang mempekerjakan pekerja tambang Cina untuk mengolah cadangan timah. Salah satu perintis yang diberi kepercayaan adalah Lim Tau Kian, seorang Cina Muslim asal Guang Zhou (Canton-Red), seorang sahabat Sultan Johor. Lim Tau Kian yang memiliki nama Melayu Ce Wan Abdulhayat bermukim di Kota Mentok. Dia memiliki anak cucu yang memakai gelar dari Kesultanan Johor, yakni Abang untuk lelaki dan Yang untuk perempuan. Namun ada juga sesepuh Cina Bangka, warga Cina sudah ada di pulau tersebut sebelum kedatangan Ekspedisi Zheng He (Cheng Ho dalam dialek Fujian-Red) tahun 1405 Masehi. Masyarakat Cina-lah yang memperkenalkan teknik bertambang yang hingga kini masih dikenal. Kosa kata “Ciam” (Jian dalam Mandarin-Red) atau pengebor, “Sakan” alias pengayak pasir timah, hingga “Kolong” yakni lubang tambang besar dari Dialek Ke Jia adalah sebagian kecil dari bukti peninggalan tradisi Cina yang masih bertahan hingga kini.
Sebelum Belanda bercokol di Bangka-Belitung, kongsi-kongsi China terlebih dulu mengupayakan penambangan timah dengan izin dari Sultan Palembang. Arus pertama-tama migrasi “bedol desa” tersebut tidak disertai kaum wanita sehingga terjadilah perkawinan campur antara buruh migran dengan wanita setempat atau pun perempuan Bali dan Jawa. Sebagian besar kuli timah tersebut berasal dari satu kampung halaman. Tak ubahnya pekerja marjinal di Jakarta dewasa ini, saat mereka pulang kampung dan kembali ke Bangka, mereka mengajak kawan dan sanak saudaranya berbondong-bondong datang. Itu berlangsung terus hingga abad ke-20.
Dengan melalui izin penguasa Kesultanan Palembang dan Kerajaan-kerajaan Melayu seperti Lingga dan Johor yang silih berganti menanamkan pengaruh di Bangka-Belitung, masyarakat Cina pun membangun permukiman di sana. Permukiman mula-mula berada di sekitar Panji dekat Teluk Klabat. Selanjutnya, seiring penemuan tambang baru, permukiman berkembang di Toboali, Koba, Sungai Liat, Jebus, Merawang, Baturusa, dan Koba di selatan Pulau Bangka. Terciptalah pola permukiman yang unik, masyarakat Bangka-Melayu tinggal di dekat sungai karena mereka berkebun.
Sedangkan perkampungan Cina selalu berada di sekitar lubang tambang timah sesuai jalur timah (tin trap-Red) di sepanjang Pulau Bangka dan Belitung. Pola permukiman tersebut tetap bertahan hingga hari ini atau lebih dari tiga abad. Perkampungan Cina selalu berada di sekitar jebakan timah atau bekas tambang. Sedangkan perkampungan Melayu di sekitar sungai tempat mereka berkebun dan mencari nafkah dari berladang. Para petinggi Cina yang semula disebut Tiko (Da Ge dalam bahasa Mandarin-Red) yang artinya “Kakak” menjadi pemimpin komunitas mereka. Selanjutnya pada zaman kolonial Belanda, para ketua Cina tersebut diberi pangkat titular sebagai Letnan dan Kapten China.
Mary F Somers Heidhues mencatat, migrasi kuli Cina sempat terhenti pada akhir abad ke-18 akibat gangguan bajak laut dan gangguan penyakit beri-beri. Demikian pula pada suatu masa di abad ke-19 gangguan wabah penyakit sempat menghambat laju migrasi dari Cina ke Bangka.
Umumnya para kuli timah tersebut datang akibat informasi getok tular dari teman sekampung yang sudah terlebih dahulu merantau ke Bangka. Tetapi, untuk berangkat, biasanya mereka harus melalui agen tenaga kerja seperti PJTKI di Indonesia. Agen tersebut ada yang berpusat di Singapura, Cina ataupun Bangka. Perlahan tapi pasti, jumlah migran tersebut terus bertambah hingga akhirnya kaum wanita turut pula berdatangan ke Bangka. Mereka pun beranak-pinak di Bangka-Belitung dalam kondisi serba memprihatinkan. Nyaris serupa dengan nasib Tenga Kerja Indonesia yang disiksa di negeri jiran, demikian pula para kuli tambang Timah Cina. Mereka kerap diperlakukan tidak manusiawi, dijebak dengan utang dari mandor, disediakan fasilitas judi dan permadatan sehingga semakin terjebak lilitan utang serta berbagai kekerasan lain. Mereka juga sering terkena berbagai macam penyakit akibat dari pencemaran dari timah tersebut. Seperti penyakit paru-paru.
Alhasil, aksi perlawanan dan terkadang berujung pada pemberontakan sering terjadi. Salah satu tokoh Melayu Depati Amir yang menentang Belanda, dan juga dibantu oleh para tokoh-tokoh Cina setempat. Demikian pula pada akhir abad ke-19, terjadi pemberontakan Liu Ngie melawan kekuasaan Belanda yang dimotori Cina Bangka. Bahkan, pada masa kemerdekaan pun, seorang tokoh Cina yakni Tony Wen menembus blokade Belanda untuk menyelundupkan opium ke Singapura dan dari sana menyelundupkan senjata untuk membantu perjuangan Republik Indonesia. Dia sempat memimpin sejumlah laskar relawan internasional untuk melawan Belanda dalam perang kemerdekaan di Jawa. Kini nama Tony Wen diabadikan sebagai nama jalan di Kota Pangkal Pinang. Penghargaan tersebut diberikan menyusul dinamakannya Bandara Pangkal Pinang dengan nama Depati Amir.
Akan tetapi dari segi penghasilan yang diperoleh dari menjadi seorang buruh hanyalah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup semata. Bahkan tidak seperti orang Cina yang di tempat lainnya yang menjadi pedagang ataupun pengusaha sukses, melainkan kehidupannya sama seperti masyarakat setempat Bangka Belitung yakni seperti Melayu yang kehidupannya hanya begitu saja. Mereka kebanyakan hanya mengandalkan tambang timah sebagai sumber mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Karena tambang timah lah yang menjadi ciri khas maupun barang yang menjadi primadona di Bangka Belitung.
Beberapa tahun kemudian, Bangka pun menjadi museum Budaya Cina khususnya suku Hakka. Ribuan klenteng besar dan kecil, rumah antik berusia ratusan tahun, dan pola hidup tradisional merupakan warisan budaya yang unik dan tiada duanya. Hongky sebagai buyut dari Kapitein Cina Lay Nam Chen menghuni rumah berusia 150 tahun lebih di pusat Kota Pangkal Pinang. Bangunan kayu antik peninggalan para leluhur migran dari Cina masih dapat dinikmati di sana-sini. Rumah induk, halaman tengah dan bagian belakang yang luas merupakan pakem dari bangunan masa itu.
Salah satu tempat yang masih utuh menggambarkan kehidupan seabad silam adalah Kampung Gedong sekitar 90 kilometer sebelah utara Kota Pangkal Pinang atau hanya sekitar setengah jam perjalanan dari Kota Sungai Liat. Perkampungan tersebut adalah komunitas Cina keturunan enam bos timah yang dahulu menguasai kawasan Parit 6 atau Liuk Phun Thew dalam dialek Hakka. Deretan rumah kayu antik, ornamen Cina, kaligrafi Han Zi, tempat pemujaan di depan rumah, dan klenteng pelindung desa merupakan pemandangan eksotis berpadu dengan alam tropis Pulau Bangka. Deretan rumah kayu antik, ornamen Tionghoa, kaligrafi Han Zi, tempat pemujaan di depan rumah, dan klenteng pelindung desa merupakan pemandangan eksotis berpadu dengan alam tropis Pulau Bangka.
Namun, perlahan tapi pasti, generasi muda Kampung Gedong yang berpendidikan baik mulai meninggalkan kampung halaman mereka. Yang unik adalah, kaum muda yang tersisa kembali bekerja di tambang timah tradisional (kerap disebut Tambang Inkonvensional atau TI-Red) mengikut jejak langkah nenek moyang mereka dengan teknik yang kurang lebih sama.
Ada pula kesenjangan antara masyarakat pendatang yang direkrut untuk bekerja di tambang dan penduduk lokal. Politik pertambangan yang lebih banyak mempekerjakan pendatang pada tingkat struktural perusahaan daripada masyarakat lokal meninggalkan permasalahan etnisitas antara pendatang dan penduduk lokal.
Setelah kedatangan etnis Cina, beberapa pendatang lain mulai mencari penghidupan di Bangka Belitung. Karena Bangka Belitung terdiri atas gugusan pulau-pulau, maka orang-orang Bugis dan Buton pun banyak berdatangan mencari penghidupan di wilayah ini. Hingga saat ini, beberapa daerah di Bangka Belitung dikenal sebagai daerah tempat tinggal keturunan orang-orang Bugis dan Buton, seperti di Kampung Nelayan II di Sungailiat dan Desa Kuraudi Koba. Mereka bermata pencaharian sebagai nelayan.
Akhir-akhir ini, orang-orang Jawa dan Madura pun mulai berdatangan. Jika orang-orang Jawa banyak menjadi pedagang dan petani dalam program transmigrasi (seperti di Desa Rias Toboali), orang Madura banyak menjadi pedagang sate. Hingga saat ini tidak ada data konkrit dari BPS dan Bapeda tentang jumlah dan komposisi etnis di Bangka Belitung. Hal itu disebabkan jumlah pendatang yang datang dan pergi tidak melapor ke pihak pemerintah setempat. Adapun penduduk Bangka Belitung yang terdiri dari: Melayu (masyarakat yang telah menetap dalam limapuluh tahun terakhir) 60 persen, Cina 30 persen, dan sisanya terdiri dari etnik Jawa, Madura, Bugis, Buton, Palembang, Batak, Aceh, Minang, dan Sunda. Beberapa di antaranya telah melakukan perkawinan campuran dan menetap di Bangka Belitung.




Sumber PDF: