Paper ini ditulis Oleh Putri Nurmawati
Mahasiswa Ilmu Sejarah FIB USU stambuk 2012
"Berikan komentar, jika ingin mengambil tulisan ini untuk referensi"
“POTRET
ETNIS CINA (TIONGHOA) DALAM BINGKAI SEJARAH DI INDONESIA DARI DULU HINGGA KINI”
1.
Latar Belakang Kedatangan Etnis Cina (Tionghoa)
di Indonesia
Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan sebuah negara strategis yang
diapit oleh 2 benua (Asia & Australia) dan 2 samudera (Hindia & Pasifik)
sehingga memiliki dampak bagi kepulauannya yang bercirikan oleh adanya
keragaman budaya. Keragaman tersebut terlihat dari perbedaan keyakinan agama,
bahasa dan etnis (suku bangsa). Sebanyak kurang lebih 300 etnis yang terdapat
di indonesia. Bahkan banyak juga etnis pendatang dari luar negara dan salah
satunya adalah Etnis Cina (Tionghoa).
Berdasarkan
sumber, kedatangan Etnis Tionghoa ke Nusantara dikarenakan oleh situasi pada
saat pemerintahan oleh kaisar di zaman sebuah dinasti yang sedang dalam keadaan
sekarat dan sebuah dinasti yang lain mulai muncul yakni Dinasti Manchu yang
pada saat itu bukan dipimpin oleh orang Cina melainkan oleh orang-orang liar
yang hidup/tinggal disekitar negara Cina. Sehingga membuat orang-orang Cina
kebanyakan pada berlarian meninggalkan negaranya ke negara lain dan salah
satunya ialah Negara Indonesia (Nusantara).
Tak hanya
itu, sumber lain menyebutkan pula bahwa kedatangan Etnis Tionghoa ke Indonesia
(dulunya Nusantara) disebabkan oleh faktor perniagaan. Karena Indonesia dilihat
memiliki letak geografis yang strategis serta sebagai lintas perjalanan dari Cina
ke india yang pada saat itu Cina dan india sedang berkembang pesat. Leluhur orang Tionghoa-Indonesia berimigrasi secara
bergelombang sejak ribuan tahun yang lalu. Peran mereka beberapa kali muncul
dalam sejarah Indonesia, bahkan sebelum
Republik Indonesia dideklarasikan dan terbentuk. Catatan-catatan dari Cina
menyatakan bahwa kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara telah berhubungan
erat dengan dinasti-dinasti yang berkuasa di Cina. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan
perdagangan dan lalu lintas barang maupun manusia dari Cina ke Nusantara dan
sebaliknya. Sejarah panjang keberadaan mereka di Indonesia berawal pada masa
kejayaan Kerajaan Kutai di pedalaman Kalimantan, atau Kabupaten Kutai, yang
daerahnya kaya akan hasil tambang emas itulah mereka dibutuhkan sebagai pandai
perhiasan (Emas). Karena kebutuhan akan pandai emas semakin meningkat, maka
didatangkan emas dari Cina daratan, disamping itu ikut dalam kelompok tersebut
adalah para pekerja pembuat bangunan dan perdagangan. Mereka bermukim menyebar
mulai dari Kabupaten Kutai, Sanggau Pontianak dan daerah sekitarnya. Gelombang
kedua kedatangan Etnis Cina ke Indonesia ialah pada masa kerajaan Singasari di
daerah Malaka Jawa Timur sekarang. Kedatangan mereka dibawah armada tentara
laut Khubalaikan atau juga sering disebut sebagai Jhengiskan dalam rangka ekspansi
wilayah kekuasaannya. Namun utusan yang pertama ini tidaklah langsung menetap,
hal ini dikarenakan ditolaknya utusan tersebut oleh raja.
Pada Ekspedisi yang kedua tentara laut
Khubalaikan ke tanah Jawa dengan tujuan membalas perlakuan raja Singasari terhadap
utusan mereka terdahulu, namun mereka sudah tidak menjumpai lagi kerajaan
tersebut, dan akhirnya mendarat di sebuah pantai yang mereka beri nama Loa sam
(sekarang Lasem) sebagai armada mereka menyusuri pantai dan mendarat disuatu
tempat yang Sam Toa Lang Yang kemudian menjadi Semarang. Masyarakat Etnis Cina
ini kemudian mendirikan sebuah tempat ibadat (Kelenteng) yang masih dapat
dilihat sampai masa sekarang. Karena runtuhnya Singasarai dan Majapahit, serta
munculnya kerajaan baru yaitu Demak sebagai sebuah kerajaan Islam, maka
keberadaan Etnis Cina ini dipakai sekutu Demak di dalam rangka menguasai tanah
Jawa dan penyebaran agama Islam. Hal itu dimungkinkan karena panglima armada
laut yang mendarat di Semarang, seorang yang beragama Islam, yaitu Laksamana Cheng
Ho. Mereka kemudian diberi wewenang untuk menjalankan Bandar atau pelabuhan
laut di Semarang dan Lasem. Hal ini oleh Demak dimaksudkan untuk melumpuhkan
Bandar-bandar laut yang lain, yang masih dikuasai oleh sisa-sisa Singasari dan
Majapahit seperti bandar laut Tuban dan Gresik. Berawal dari sanalah kemudian Etnis
Cina ini menyebar ke seluruh daratan Indonesia dan juga ditambah pendatang baru
yang langsung ke daerah-daerah di pelosok Nusantara.
Menurut Vencius Tan[1], kedatangan
kakek buyutnya ke Indonesia disebabkan oleh peperangan yang terjadi di Cina
secara terus-menerus sehingga menyebabkan kakek buyutnya untuk memilih bermigrasi
ke luar negara Cina dan salah satunya ialah Indonesia (dahulunya Nusantara) dengan
menggunakan kapal sebagai alat pelayarnya. Karena pada saat itu alat
transportasi yang hanya bisa digunakan ialah kapal. Selain peperangan
disebutnya, faktor perdagangan juga menjadi salah satu penyebabnya.[2]
Berdasarkan apa yang sudah saya pelajari dalam
mata kuliah Sejarah Asia Timur oleh Ibu Dra. Farida Hanum Ritonga, pada masa
pemerintahan Dinasti Chin yang pada saat itu dipimpin oleh seorang kaisar yang
bernama Chin Shih Huang Ti. Chin Shih Huang Ti merupakan seorang kaisar yang
terkenal sangat kejam sehingga membuat rakyat di Cina pada kabur ke luar negri
baik secara diam-diam maupun secara terang-terangan. Karena kekejamannya, semua
buku yang membuat orang pintar dibakar terkecuali buku yang isinya tentang
obat-obatan. Kaisar Chin Shih Huang Ti ingin hidupnya lebih lama, maka dari
itulah ia menyuruh rakyat Cina untuk mencari obat-obatan ke seluruh dunia. Hal
ini lah yang menyebabkan orang Cina menyebar di seluruh dunia termasuk juga
Indonesia salah satunya.
Sejarah imigrasi Cina yang diturunkan oleh
para sejarahwan, pada intinya lebih penting dari yang diduga. Ini terbukti dari
tingginya jumlah keturunan Cina “peranakan” yang dapat membuktikan silsilah
keluarga mereka berdasarkan nenek moyang generasi pertama mereka yang datang ke
wilayah Nusantara pada abad ke-17 atau abad ke-18 atau bahkan jauh sebelumnya,
pada masa Dinasti Tang (618-907).[3] Rekaman sejarah
juga memperlihatkan bahwa para imigran tiba dalam gelombang-gelombang yang
berbeda, dalam jangka waktu yang juga bervariasi. Mereka membawa bahasa mereka
sendiri, dan juga teman-teman sedaerah mereka, baik yang bermarga maupun bukan,
ke Indonesia. Gelombang pendatang yang paling padat tiba pada abad ke-19,
ketika banyak orang terpaksa meninggalkan tanah airnya akibat kebutuhan ekonomi
dan dibawah tekanan kolonialisme modern. Ribuan diantaranya direkrut sebagai
“kuli kontrak” yang kemudian memunculkan dikotomi “totok” dan “peranakan”.[4]
Struktur dari perhimpunan kaum Cina di
seberang lautan, yang pada abad ke-19 berhubungan satu sama lain, cenderung
otonom, dan pada pertukaran intensif kualitatif yang banyak dengan kebudayaan
mereka yang mirip dengan lingkungan masyarakat, mengarah ke budaya campuran
yaitu ”baba” atau budaya “peranakan”, yang secara regional mempunyai sejarah
pemukiman, tradisi, struktur pemerintahan, hierarki sosial dan juga adat
tersendiri (Onghokham, 1978).
2. Etnis Cina (Tionghoa) Pada Masa Kolonialisme
Modern abad ke-19
Seiring dengan berjalannya waktu, sebelum
tahun 1860-an, jumlah orang Cina secara relatif tidak banyak, hanya kurang
lebih 250.000 orang dan kebanyakan peranakan. Dalam proses percampuran
tersebut, telah terjadi banyak pergeseran maupun yang hilang termasuk bahasa
dan sebagian besar aspek kebudayaan terkecuali identitas sebagai orang Tionghoa.
Kedatangan massal kuli kontrak pada pertengahan abad ke-19 menyebabkan kerusakan
proses pertumbuhan organik struktur sosial Etnis Cina “peranakan”.[5]
Konflik antara etnis Cina di Kalimantan Barat
dengan pemerintah kolonial belanda pada abad ke-18 juga disinggung oleh
beberapa sejarahwan Belanda. Cina Kalimantan barat dari kaum Hakka dan Hoklo
berhasil mengorganisir diri dalam persaudaraan yang disebut kongsi. Mereka
berhasil mempertahankan otonomi mereka sampai abad ke-19, bahkan sempat meraih
kemenangan dalam perang Gerilya pada awal abad ke-20 melawan rejim belanda
(Van, Sandick, 1909).
Berita-berita mengenai konsolidasi Etnis Cina
di pulau-pulau lain banyak memuat cerita perjuangan melawan penindasan Belanda.
Di Pulau Sumatera, orang Cina diperjakan sebagai budak bayaran dengan perlakuan
yang buruk oleh Belanda dan mereka bahkan diberitakan telah memberontak dan
menghancurkan kapal-kapal meriam dan kapal perang (Van, Sandick, 1909).
Pencabutan kembali berbagai peraturan
diskriminatif oleh pemerintah kolonial pada awal abad ke-20 tidaklah mudah, dan
merupakan perjuangan emansipasi yang sangat lama, sehingga cukup berdampak bagi
minoritas etnis Cina yang lahir di Indonesia. Berbagai bentuk konkrit
perlawanan terhadap rejim kolonial ini mengingatkan kita pada gerakan-gerakan
perlawanan lain yang pada waktu itu dipimpin oleh kelompok pribumi. Sebagai
jawaban terhadap kelompok pro kemerdekaan, seperti Boedi Oetomo sebagai
perkumpulan budaya Jawa, dibentuklah Tionghoa Hwee Koan (THHK). Perkumpulan ini
merupakan lembaga pendidikan modern pertama bagi Etnis Cina di Indonesia (William,
1966, 1969).
THHK mendirikan sekolah bagi anak-anak
keturunan Cina yang tidak di izinkan masuk ke sistem pendidikan Belanda. Hal
ini memberikan sumbangan penting dalam perintisan perjuangan kemerdekaan yang
dengan motivasi politis, melahirkan gerakan pendidikan dan budaya seperti Boedi
Oetomo dan Taman Siswa. Warisan kebudayaan nasional dari THHK yang pada intinya
berasal dari kaum “peranakan” adalah pers Melayu-Cina yang melanjutkan tradisi
anti-kolonial yang sudah berkobar di kalangan Etnis Cina sejak abad ke-19 dan
sebelumnya. Salah satu terbitannya,
koran Melayu-Cina Sin-Po yang
merupakan pertama dari 20 terbitan yang mempublikasikan melodi dan lirik lagu
kebangsaan Indonesia Raya ciptaan W.R
Soepratman (Somers-Heidhues, 1964).
Legitimasi selanjutnya dari gerakan emansipasi
pada masa pergantian abad ini berasal dar kaum nasionalis, sayap ekstrem
komunitas Etnis Cina yang berjuang keras
untuk kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Sayap kiri yaitu kaum “peranakan”,
membentuk Partai Tionghoa Indonesia (PTI). Meskipun tidak seluruhnya mewakili
mayoritas komunitas Cina kelahiran Indonesia, mereka relatif mempunyai pengaruh
besar seperti Dr. Tjoa Sik Len dan Siauw Giok Tjhan. Banyak anggota PTI yang
kemudian duduk sebagai mentri di kabinet
setelah Proklamsi Kemerdekaan pada tahun 1945. Kelahiran partai Cina
kelahiran Indonesia ini cukup besar dalam kabinet yang pertama. Tradisi ini,
Mentri Oei Tjoe Tat,S.H.
Salah satu figur terkemuka waktu itu adalah
pendiri PTI, Jaksa Liem Koen Hian, yang memainkan peran sangat penting dalam
pembentukan Indonesia modern. Terdapat banyak bukti bahwa Soekarno pun
mengenalnya. Sebab, menurut Soekarno sendiri, diskusi dengan Kliem Koen Hian
mengenai pemikiran Sun Yat Sen memberikan kontribusi besar terhadap perumusan
dasar negara pancasila.
3. Bahasa Etnis Cina (Tionghoa)
Tidak ada bahasa khusus untuk
mengidentifikasikan orang keturunan Cina dan tidak banyak variasi dialek bahasa
Mandarin yang betul-betul digunakan, kecuali dialek Hokkian atau Fukkian.
Dialek ini sampai sekarang masih mempengaruhi bahasa sehari-hari Etnis Cina, di
samping bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi utama.
Untuk mengindentifikasi keturunan Cina
berdasarkan bahasa, bahasa daerah yang digunakan di tempat mereka hidup dan
bekerja dapat dijadikan patokan. Keturunan Cina di Jawa Barat misalnya,
berbicara dalam bahasa Sunda sebagai bahasa daerah setempat atau berbicara
bahasa Indonesia dengan aksen Sunda. Dengan populernya pendidikan Belanda di
kalangan elit keturunan Cina maupun kelompok-kelompok non Etnis Cina di zaman
kolonial Belanda awal abad ke-20, kelompok etnis ini kemudian mencerminkan
seluruh spektrum bahasa yang ada di kepulauan Nusantara.
Sampai sekarang, penelitian bahasa dengan
beberapa pengecualian, belum terlalu mendalami subyek bahasa Melayu-Cina.
Bahasa ini dipergunakan secara luas di kosa-kata Jawa-Melayu. Terancam punah,
bahasa tersebut hanya digunakan oleh generasi tua. Hal ini menjadi topik
menarik tersendiri bagi peneliti bahasa dari Amerika John U. Wolf (1982) yang
melihatnya sebagai sisa identitas budaya keturunan Cina.[6]
4. Penyebaran Geografis Etnis Cina (Tionghoa)
Penyebaran geografis yang kebijakannya mirip
apartheid dipraktekan pemerintah kolonial Belanda, maka lebih dari 20% Etnis
Cina pada tahun 1905 hidup di kota-kota besar, sementara hanya 9% yang hidup di
desa. Dengan dilonggarkannya Peraturan Segregasi tahun 1911, maka proporsinya
pun berubah. Pada tahun 1930, jumlah Etnis Cina yang hidup di desa meningkat
41%. Setelah keluarnya peraturan baru, yakni Peraturan Pemerintah No. 10 tahun
1959 di bawah Soekarno, konsentrasi di kota besar meningkat dan hanya berkurang
menjadi 20% pada tahun 1976. Perkembangan terakhir berkaitan juga dengan
larangan kerja bagi pedagang keturunan Cina di desa yang kemudian mengakibatkan
konsentrasi penduduk pada daerah piggiran yang kekurangan penduduk seperti
Sumatera Timur atau Kalimantan Barat. Persentase Etnis Cina dari keseluruhan
penduduk yang hidup di daerah ini berfluktuasi antara 27% dan 38% (berdasarkan
keterangan resmi dari ABRI tahun 1976).
Saat ini di Provinsi Sumatera Utara khususnya
Kota Medan, ada sebanyak 5 etnis yang paling dominan yaitu Jawa, Batak Toba,
Tionghoa, Mandailing dan Minang. Sementara Etnis Cina yang menempati posisi
ketiga dengan persentase sebanyak 10,65% atau sekitar kurang lebih 230.000 jiwa.
Dapat dikatakan Etnis Cina menguasai pasar di Kota medan. Jika di survei setiap
toko yang ada di Kota Medan hampir keseluruhan yang memilikinya ialah Etnis
Cina. Hanya segelincir pribumi yang memiliki pasar di Kota medan. Penyebaran
Etnis Cina tak hanya di Kota Medan saja, hampir di setiap provinsi terdapat
Etnis Cina dengan persentase yang berbeda-beda dan hampir semuanya pasar
dikuasai oleh Etnis Cina.
5. Budaya Etnis Cina
Setiap etnis memiliki budaya tersendiri yang
menjadi ciri khas dari etnis tersebut. Sama halnya dengan Etnis Cina yang
memiliki bermacam-macam budaya seperti kuliner, kesenian, musik, alat musik,
perayaan-perayaan, bahasa, dan pakaian. Berikut adalah budaya Etnis Cina dari
negara cina yang dibawa ke Indonesia.
Kuliner
Berikut ini adalah jenis-jenis makanan khas Tionghoa yang populer di
Indonesia:
·
Kue bulan / Tiong Chiu
Pia

·
Bakcang

·
Lumpia

·
Siomay

·
Bakpao

·
Bakso

·
Mie

Perayaaan
·
Tahun Baru Imlek

·
Festival
Lampion

·
Cap Go Meh

Pakaian
·
Cheongsam

Mudah
dikenakan dan nyaman, bentuk pakaian Cheongsam cocok dengan bentuk tubuh wanita
etnis Tionghoa. Leher tinggi, lengkung leher baju tertutup, dan lengan baju
bisa pendek, sedang atau panjang, tergantung musim dan selera pemakainya.
Memiliki kancing di sisi kanan, bagian dada longgar, selayak di pinggang, dan salah
satu sisi di bagian pahanya terbelah, yang kesemuanya semakin menonjolkan
kecantikan dari wanita yang mengenakannya. Cheongsam tidak terlalu susah
dibuat. Tidak pula memiliki banyak perlengkapan, seperti sabuk, atau selendang.
Cheongsam adalah dapat dibuat dari berbagai macam bahan dan memiliki keragaman
panjang, dapat digunakan secara santai atau resmi.
Ritual
·
Budaya Teh Tionghoa

·
Ceng Beng /
Festival Qingming

6. Pengaruh Budaya Cina Terhadap Budaya di
Indonesia
Budaya Etnis Cina yang di Indonesia banyak
mempengaruhi budaya Indonesia sendiri seperti:
·
Makanan, contohnya: bakso yang sudah menjadi
budaya bagi masyarakat Indonesia untuk sering memakannya dan sudah tradisi
masyarakat Indonesia tanpa harus memikirkan bakso merupakan makanan dari Etnis
Cina. Lainnya seperti bak pao, mie dan siomay.
·
Bahasa, dari segi bahasa juga banyak yang
sudah menjadi bahasa serapan dari cina ke Indonesia. Contohnya kata “mangkok”.
Banyak yang tidak mengetahui, sebenarnya kata mangkok itu berasal dari bahasa
Cina yang sudah diserap ke dalam bahasa indonesia.
·
Perdagangan, dari segi perdagangan, pedagang
Indonesia banyak yang mengikuti sistem perdagangan Cina yakni “biar saja ambil
untung sedikit asal laris terjual barang dagangannya”.
·
Budaya minum teh yang sudah diterapkan atau
telah menjadi budaya oleh orang di seluruh dunia, tak hanya Indonesia saja.
Karena budaya minum teh sebenarnya berasal dari Cina.
Banyak sekali budaya yang berasal dari Cina
berpengaruh ke budaya indonesia dan akhirnya menjadi budaya bagi masyarakat
Indonesia bahkan masyarakat dunia.
SUMBER :
Liem, yusiu.
2000. Prasangka Terhadap etnis Cina.
Jakarta: Djambatan & Pena Klasik
[1]
Vencius Tan adalah mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) di Fakultas
Kedokteran (FK) yang merupakan Etnis Tionghoa yang bertempat tinggal di Kota
Medan.
[2]
Hasil wawancara dengan Vencius Tan di Sat-Menwa Universitas Sumatera Utara
(USU).
[3]
Peranakan ialah keturunan dari pria asli cina dengan wanita pribumi.
[4]
Yusiu Liem, Prasangka Terhadap Etnis Cina,
(Jakarta: Djambatan & Pena Klasik), hlm. 17
[5]
Ibid, hlm. 19.
[6]
Ibid, hlm. 5